
***
"Kenapa kau membiarkan Akeno hidup Larisa! kau tahu itu adalah kesempatan ku untuk mengambil istri ku kembali!" Aryan berkata dengan marah, seharusnya ia memaksa untuk ikut, mungkin saja Akeno bisa terkalahkan di saat itu juga.
Larisa membalikkan kedua bola matanya, di ruangan ini, ia mengajari cara Aryan membuat tubuhnya bereaksi, meskipun cukup bagus, tapi kekuatannya masih belum memadai.
"Aku tidak bisa membiarkan Akeno meninggal, setidaknya aku harus mendapatkan kepercayaannya terlebih dahulu, setelah itu aku akan masuk ke dalam rumah itu. Kau tahu Aryan? di dalam sana, terdapat kekuatan lain, yaitu jaring laba-laba." Ucap Larisa memberitahu.
"Apalagi itu jaring laba-laba?" teriak Aryan merasa pusing, ia tahu jika dirinya tidak mempelajari kekuatannya kembali, selama ini hidup bersama istrinya baik-baik saja itu sudah cukup.
Dan sekarang, Aryan mulai menyesal karena dia tidak seperti Larisa yang selalu di ajari tentang ilmu paling bawah hingga tertinggi.
Larissa duduk menghela nafas, melihat Aryan yang marah karena membiarkan Akeno hidup.
"Jaring laba-laba adalah kekuatan yang tidak dapat menembus batas dimensi, meskipun kekuatan itu tidak terlalu berguna, tapi sangat efektif untuk Akeno yang memiliki jaringan emas itu." Ujar Larisa menatap Aryan dengan serius.
"Oh payah! sepertinya Akeno memiliki guru spesial untuknya." Tebak Aryan, mana tahu jika Larisa mengangguk mengiyakan ucapan nya.
"Tetua pertama dan tetua kedua, dia memiliki segalanya, bahkan jaringan klonel di dapatkan dari tetua ketiga. Kita tidak bisa menembus ruangan itu selagi di jaga oleh orang-orang." Timpal Larisa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? tidak bisa menembus? tidak bisa menyerang? tidak bisa membunuhnya? Upaya yang sia-sia."
Larisa berdecak kesal, temannya ini sepertinya ingin sekali di ceramahi olehnya, "Jangan banyak mengeluh, kembali berlatih, kita akan pergi ke sungai lagi, kamu harus bisa memiliki kekuatan elemen langit, setidaknya itu bisa membantu mencapai keinginan mu." Larisa berdiri dari duduknya, ia kemudian pergi meninggalkan Aryan di sana sendirian.
Tidak peduli apa temannya akan marah atau tidak, Larisa sudah menyiapkan sesuatu yang akan bisa mengejutkan Aryan nantinya.
__ADS_1
Kekuatan Akeno tidak besar, juga tidak dapat mengalahkannya, meskipun Aryan sudah memiliki kuasa elemen langit, dia pun tidak akan bisa menang bertarung dengan Aryan selagi jaring laba-laba itu masih berfungsi di rumahnya Akeno.
Aryan tidak bisa diam saja, secepatnya harus bisa mencapai kekuatan spiritual yang Larisa maksud tadi. Semakin lama dirinya belajar, maka Akeno pastinya akan mengumumkan pernikahannya dengan istrinya.
"Akeno! Kau tidak akan ku ampuni!" teriak Aryan menggema di dalam sana.
Pria itu terjatuh ke lantai, air mata yang selama ini selalu dirinya bendung, kini sudah tidak dapat di tahan. Ia menangis, bagaimana mungkin dirinya tahan ketika seorang pria menyentuh istrinya.
"Aira, ku mohon ingatlah aku meski hanya sebentar saja." gumam Aryan. Itu adalah permohonan yang sia-sia, karena saat ini kondisi istrinya sangat kritis, tidak mengingat siapapun.
"Ya Allah, kenapa kau menguji ku seberat ini? Kenapa tidak orang lain saja, mengapa harus aku yang di uji?" tanya Aryan mendongak menatap atap langit, pria itu menangis seperti anak kecil. Jika bisa, ia ingin menyerah, namun kekuatan cinta yang begitu besar, menyemangati dirinya secara terus-menerus.
"Aku tahu aku bisa mendapatkan mu kembali, tunggulah aku di saat waktu yang tepat nanti." Gumam Aryan. Punggung tangannya menghapus sisa air mata yang terjatuh. Ia berdiri dan mengeluarkan kekuatan yang dirinya punya, sampai kapan akan berakhir, Aryan pun tidak tahu.
***
"Huh! Ada apa dengan ku? mimpi itu? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aira bingung. Memijat pelipisnya berusaha mengingat pria yang selalu berada di mimpinya, seorang pria dengan memakai jas berwarna biru, dia sangat tampan, namun wajahnya tidak begitu jelas.
"Nona, Anda sudah bangun?" tanya seorang pelayan dengan tersenyum. Aira menoleh dengan dahinya mengernyit.
"Kau sudah memilih kan gaun untuk ku?" tanya Aira. Monika mengangguk, tak lupa ia tersenyum pada nona nya meskipun dia sendiri sangat lah sedih mengingat dirinya pernah di perlakukan tidak baik.
"Nona, saya sudah menemukan gaun yang sangat indah, ku yakin 99% Anda akan menyukainya." Jawab Monika begitu percaya diri. Aira menyipitkan matanya, pelayan ini sangat santai sekali.
Aira lalu berdiri dari duduknya, melirik ke arah gaun yang sangat indah itu, "Kau sangat percaya diri mengatakan 99 persen aku akan suka pakaian ini." celetuknya sembari menatap Monika.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum dan menjawab, "Nona, saya tidak percaya diri, hanya saja mengatakan yang jelas, jika saya menyukai pakaian ini 100 persen, maka itu artinya Anda menyukainya 99 persen."
Mendengar jawaban dari sang pelayan, Aira tidak bisa tidak tertawa, karena Monika yang lucu sekali.
"Menyedihkan,"
Ia melangkah ke depan, melihat gaun yang sangat cantik, jika di sandingkan dengan tubuhnya, sudah pasti akan sangat cocok. Monika terus memandang Aira, ia berharap cemas, takut jika wanita itu tidak menyukainya.
"Aku akan memakai ini." ucapan itu akhirnya membuat semua para pelayan menghela nafas, Monika tersenyum senang, entah kenapa perasaannya tiba-tiba terharu mendengar jawaban sang nona.
"Itu bagus, Anda menyukainya, saya akan membantu nona untuk bersiap-siap. Mereka semua sudah datang di acara ulang tahunnya tuan Akeno."
"Pesta yang membosankan, pastinya terdapat pejabat tinggi yang saling menjilat." Timpal Aira dengan duduk di kursi rias, menatap dirinya di cermin, rambutnya yang masih seperti tadi, tidak berubah.
Setengah jam akhirnya selesai, sesuai dugaan, Aira terlihat begitu cantik memakai pakaian yang sangat indah itu. Monika tersenyum puas, hasil riasan nya tak kalah bagus.
"Nona, jika saya laki-laki, maka sudah pasti saya akan memakan Anda saat ini juga." ujar Monika. Aira membalikkan kedua bola matanya, "Sebelum itu terjadi, aku sudah pasti akan memukul mu dan membunuh mu!" desisnya.
Membunuh mungkin tidak, tapi Aira memukul lengannya dengan sadis sampai ia sendiri meringis kesakitan.
"Biar kami bantu, tuan Akeno sedang menunggu Anda di aula." kata Monika. Aira mengangguk, mereka kemudian berjalan dengan santai keluar dari kamar tersebut.
Pelayan yang satunya mengambil gambar dari samping, terlihat jelas kecantikan yang sangat menempel di wajahnya. Memiliki grup di salah satu aplikasi sudah pasti bagian dari para pelayan. Dia mengunggahnya dan membagikan pada teman-temannya.
__ADS_1
Di tempat acara, Via menatap ke arah handphonenya, foto yang baru saja temannya bagikan di grup. Ia akhirnya tahu wajah asli dari Aira, sang nona kejam.