You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 21


__ADS_3

Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan, Ata menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah mewah. Ata sedikit takjub melihat rumah Rania yang sangat besar. Sangat berbeda dengan rumahnya yang bisa dikatakan lebih sederhana dari rumah Rania.


“Kamu nggak mau nawarin aku buat mampir?” seloroh Ata saat menerima helm dari tangan Rania.


Rania menatap ke dalam gerbang rumahnya. Mobil sang kakak terlihat sudah terparkir rapi di dalam sana. Ia tidak mungkin mengajak Ata masuk ke sana, karena takut dimarahi sang kakak.


“Maaf, ya. Kayaknya lain kali aja kamu mampir. Makasih, ya udah nganter aku pulang,” ucap Rania sungkan.


Raut wajah gadis itu terlihat sangat tidak enak hati terhadap Ata. Namun, ia tetap tidak bisa membiarkan Ata berkunjung ke rumahnya.


Tawa kecil Ata menguar. Cowok itu lantas menjelaskan bahwa ia hanya bercanda. Lagi pula matahari sudah hampir tenggelam dan ia harus segera pulang.


“Bercanda kali, Ran. Gue balik dulu, kalau gitu.”


Ata kembali menyalakan motornya. Setelah berpamitan kepada Rania, Ata melajukan kendaraan roda duanya untuk kembali ke kediamannya.


Rania menatap kepergian Ata dengan senyuman. Ia tidak menyangka akan pulang bersama cowok itu. Rania suka dengan cara Ata memperlakukannya. Meskipun terlihat sangat playboy, ternyata Ata juga bisa menghargai perempuan yang jarang bersinggungan dengan lawan jenis seperti dirinya.


Setelah Ata tidak lagi terlihat Rania masuk ke dalam rumahnya. Ia menyapa penjaga rumah dan beberapa pelayan yang ia lewati. Senyum Rania masih terukir entah karena apa. Degup jantungnya juga terasa cepat saat memikirkan Ata.


Langkah Rania masih terus terayun menuju kamarnya. Namun, satu suara dari bawah membuat kaki Rania tak bisa lagi dibawa ke atas.


“Kamu pulang bersama siapa?”

__ADS_1


**


“Ta, lo beneran suka sama Rania?”


Ata mengalihkan pandangan dari ponselnya demi menatap Dio. Alisnya terangkat sebelah, merasa heran dengan pertanyaan yang tidak biasa ini.


“Kenapa emangnya? Lo suka sama Rania?” Ata justru balik tanya pada Dio dengan satu sudut bibir terangkat.


Dio berdecak sebal. “Ya, bukan gue suka sama tu cewek, Ta.”


“Terus?”


“Gue udah kenal lo lama. Gue nggak yakin lo sering godain tu cewek cuma karena dia itu manis dan pendiem. Kayaknya lo ada rasa sama dia,” tutur Dio.


“Lo suka sama dia?” tanya Ata lagi.


Ata tertawa kecil menanggapi ucapan Dio. Ia sama sekali tak tersinggung, karena ia memang tidak berniat untuk bermain-main dengan Rania.


“Tapi, kayaknya Rania cocok deh sama gue,” tutur Ata.


“Gimana kalau gue beneran suka sama dia?” tanya Ata seolah meminta pendapat dari adik ipar kakaknya ini.


Dio menghela napas lemah. “Ta, lo boleh suka sama siapa pun. Tapi, gue mohon untuk kali ini jangan main-main. Jangan karena lo cuma pengen punya koleksi cewek, lo jadiin Rania sebagai salah satu mantan, lo.”

__ADS_1


“Lo itu sebenarnya kenapa sih, Di? Bukannya lo suka sama Mika? Kenapa lo malah belain Rania sih? Lo ada affair sama dia?”


“Ta, gue serius. Gue nggak suka sama dia, tapi gue tahu dia itu cewek baik-baik. Jadi, sesuai prinsip lo dulu, gue cuma mau ngingetin. Jangan pernah nyakitin cewek kayak dia, atau lo bakal kena karmanya. Inget, Ta! Lo punya Bia yang harus lo jaga,” tutur Dio yang sudah mulai jengah dengan nasihatnya sendiri.


Dulu Ata memang pernah berkata pada Dio dan kedua temannya, bahwa Ata hanya akan mendekati gadis-gadis yang memang tertarik padanya. Dalam artian bukan Ata yang memancing mereka. Namun, sepertinya kali ini Ata benar-benar tertarik dengan sosok Rania. Dio beberapa kali melihat Ata tersenyum setiap bertemu Rania padahal gadis itu sangat cuek. Bahkan tadi sore Ata bilang baru mengantarkan Rania pulang.


Semua yang Ata lakukan pada Rania bukan kebiasaan Ata. Dio pun menyimpulkan bahwa Ata sedang jatuh cinta. Namun, Dio tetap memiliki ketakutan jika Ata hanya ingin menjadikan Rania sebagai koleksi mantannya.


“Lo tenang aja, gue nggak akan mainin Rania. Gue cuma pengen temenan sama dia, nggak lebih,” jawab Ata dengan sorot mata menenangkan.


Dio hanya menganggukkan kepalanya. Ia bukan suka atau memiliki rasa dengan Rania. Ia hanya tidak ingin gadis baik-baik seperti Rania jatuh cinta dan merasakan sakit saat bersamaan jika hanya dipermainkan oleh Ata.


**


Setelah kemarin Rania diantar pulang oleh Ata, mereka tidak pernah lagi bertegur sapa. Rania bahkan terlihat semakin menghindari Ata. Gadis itu selalu masuk kelas saat kelas hampir dimulai dan keluar kelas tanpa menunggu sepi.


Bukan Rania tidak tahu berterima kasih dengan menjauhi Ata, tetapi Rania memang sudah tidak berani lagi dekat-dekat dengan teman laki-lakinya. Rania tidak mau kakaknya marah, karena ia berteman dengan laki-laki bahkan sampai mengantarkannya pulang ke rumah.


Hari itu saat Rania pulang dengan diantar oleh Ata, Rania dimarahi habis-habisan oleh kakaknya. Sang kakak memang melihat dirinya turun dari motor Ata. Kakaknya pikir Rania memiliki hubungan spesial dengan Ata dan kakaknya tentu saja tidak merestuinya. Sang kakak takut jika Rania dekat dengan teman laki-lakinya Rania akan lupa dengan belajar. Kakaknya tidak mau jika sampai Rania memiliki nilai jelek di kelasnya.


Rania pun menurut. Bagaimanapun juga, kakaknya yang lebih penting untuk ia patuhi daripada mematuhi perasaannya yang justru sedih, karena harus menghindari Ata.


Ya, sejak hari itu Rania tiba-tiba merasa sepi. Ata yang tadinya juga gencar mendekatinya kini seolah tahu Rania tidak ingin lagi didekati. Ata tidak pernah lagi menggoda Rania meskipun mereka sedang berpapasan. Ata juga lebih sering menggoda temannya yang jauh lebih cantik darinya.

__ADS_1


Terkadang ada perasaan aneh yang menyusup kala melihat Ata menggoda teman-teman perempuannya. Namun, Rania selalu berusaha untuk menampik perasaannya. Rania meyakinkan dirinya bahwa ia tidak kesepian karena Ata. Ia juga tidak sedih degan menjauhnya Ata darinya.


Rania harusnya bersyukur, karena tanpa perlu menghindar, Ata sudah menjauh terlebih dahulu.


__ADS_2