You Are Mine

You Are Mine
Part 58


__ADS_3

Banyu membuka pintu kamarnya. Ia melihat istrinya tengah memoles diri di depan meja rias. Langkah kakinya terayun dengan mudah menuju wanita itu. Ia memeluknya dari belakang. Mereka saling bertatapan melalui cermin.


"Aku cantik nggak?," tanya Jingga setelah beberapa saat keheningan melanda mereka


Banyu tersenyum. "Cantik 'lah. Kapan kamu nggak cantik? Abis keringetan sama aku aja kamu tetep cantik kok," ujarnya disertai kekehan.


Jingga memutar bola matanya malas, lalu kembali fokus pada cermin di hadapannya. "Rapi nggak sih ini make up aku? Aku nggak pernah make up-an soalnya." Jingga memegangi sisi wajahnya dengan khawatir.


Banyu memajukan wajahnya. Menatap muka istrinya secara langsung dengan saksama. "Rapi kok, belajar di mana?" tanya Banyu penasaran.


"Dari youtube," jawabnya bangga.


Banyu hanya ber-oh ria saja. Mereka masih dalam posisi yang sama. Tak ada sedikitpun niatan untuk merubah posisi mereka. "Kalau nggak ada acara penting nggak usah pakai make up ya?." Ucapan Banyu menimbulkan kerutan pada kening Jingga.


"Kenapa? Jelek ya muka aku?" tanya Jingga kecewa.


Kepala Banyu menggeleng. "Aku takut nanti banyak yang suka sama kamu, karena kamu tambah cantik kalau pakai make up"


Jingga tersipu mendengar penuturan Banyu yang terkesan menggombal. Ia mencibir Banyu dalam hatinya.


"Mas udah mandi belum sih?" tanya Jingga, berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa panas.


Gelengan kepala Banyu membuat Jingga melotot. Ia menggoyangkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan suaminya. Setelah berhasil lepas, ia mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi.


Waktu sudah semakin sore, keluarga Banyu segera bersiap pergi ke rumah kekasih Dika. Tepat pukul setengah tujuh malam, rombongan keluarga Banyu berangkat. Mereka sampai setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Agenda mereka adalah meminang kekasih Dika, sekaligus membicarakan tanggal pernikahan yang telah Dika tentukan. Setelah cukup berbincang-bincang antar dua keluarga besar, seluruh keluarga Banyu pamit undur diri.


***


Jingga memandangi langit dari balkon kamar Banyu. Pikirannya sedang kosong. Ia teringat beberapa waktu yang lalu saat melihat Keyra dan juga Kevin dari balkon ruangan Banyu. Keesokannya Jingga menanyakan kepada Keyra secara langsung dan Keyra menepis semua anggapan Jingga. Tapi Jingga yakin, ia tidak salah lihat. Ia masih ingat seseorang yang ia lihat dari balkon menggunakan baju yang sama dengan Keyra.

__ADS_1


Pikiran Jingga masih melayang ke mana-mana. Ia tersentak saat satu kecupan mendarat di pipi sebelah kanannya.


"Mikirin apa sih?" tanya Banyu sembari menyandarkan tubuhnya pada pembatas balkon.


Jingga terdiam, bingung harus mulai dari mana. "Mas masih inget waktu aku nggak sengaja lihat Keyra dari balkon ruangan kamu?"


Berpikir. Otak Banyu mencari kejadian yang Jingga katakan. Banyu mengangguk saat mengingatnya.


"Kamu juga yakinkan kalau itu Keyra sama Kevin?"


Banyu kembali mengangguk.


"Masa kemarin waktu aku tanyain katanya bukan dia. Kok aku ngerasa ada yang disembunyiin dari aku ya?" Tampak sekali wajah Jingga berubah murung.


"Apa yang kamu takutin kalau itu benar Keyra dan Kevin?" tanya Banyu. Ia takut jika ternyata istrinya masih mencintai Kevin. Walau bagaimanapun juga, Kevin cinta pertama Jingga. Bukankah cinta pertama itu sangat sulit untuk dilupakan?


Jingga menggeleng.


"Kamu cemburu lihat mereka jalan bareng?"


Jingga menegang mendengar pertanyaan Banyu. Sepertinya suaminya ini tengah salah paham dan berakhir cemburu.


"Entah, aku juga nggak tahu." Jingga mengedikkan bahunya.


Banyu mengangkat kepalanya, menatap lekat wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. "Kamu masih cinta sama Kevin?"


Jingga terkekeh. Ia membalikkan badan. Mengalungkan lengannya pada leher sang suami. "Apa aku terlihat cemburu?" tanya Jingga.


Sontak mata Banyu melisik wajah istrinya. Tidak ada gurat cemburu seperti dugaannya.

__ADS_1


Jingga berjinjit, mengecup bibir Banyu sebentar. "Sekarang seluruh cinta ku milik kamu. Aku cuma kecewa aja sama Keyra. Dia nggak mau jujur sama aku. Kalau misal mereka jadian pun aku nggak masalah. Aku cuma takut Kevin mempermainkan sahabat aku Keyra." Penuturan Jingga menerbitkan senyum Banyu. Kelegaan menghampiri hatinya. Gundah gulana sesaat yang Banyu rasakan sudah hilang entah ke mana. Tergantikan semilir angin, menyejukkan hati.


"Jangan cemburu sama Kevin, ya? Dia cuma masa lalu yang kebetulan pernah singgah di hatiku. Sekarang cuma ada nama kamu di sini, nggak ada yang lain," ujar Jingga.


Lagi, Banyu merasakan desiran angin dalam dadanya. Tanpa pikir panjang, ia memagut bibir istrinya. Mencecap setiap rasa yang hadir melalui bibir Jingga. Ia semakin mengeratkan rangkulan tangannya pada sang istri. Begitu juga Jingga yang semakin mengeratkan lengannya pada leher Banyu.


Semakin lama ciuman mereka semakin panas. Pikiran mereka sudah melayang entah ke mana. Hingga satu suara membuyarkan setiap gairah yang tengah singgah dalam diri mereka.


"BANYU! SIALAN LO!"


Banyu menoleh pada balkon samping kamarnya. Ada Dika di sana. Ia tergelak melihat Dika yang masih misuh-misuh sendiri.


"Kampret, lo. Kalau mau mesra-mesraan dalam kamar sana. Nggak kasihan lo sama jomlo kek gue," ujar Dika dengan emosi.


"Makanya cepetan nikah." Banyu berteriak dari balkon kamarnya sendiri.


Kamar mereka memang berjajar, begitu pula dengan balkonnya. Sama-sama menghadap ke arah taman samping rumah mereka.


Dika berdecak kesal. Kemudian ia melangkah ke dalam kamarnya kembali dengan gerutuan yang begitu jelas terdengar.


Berbeda dengan Banyu yang tergelak. Jingga menenggelamkan wajahnya pada dada sang suami. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kerak bumi saat ini. Malu. Terpergok sedang berciuman dengan suaminya.


"Dika udah pergi," bisik Banyu.


Jingga mendongak, mencari keberadaan Dika. Benar, adik iparnya itu sudah tidak berada ditempatnya lagi.


"Ayo lanjutin di dalam!." Tanpa banyak kata Banyu menggendong istrinya, hingga gadis itu berteriak karena kaget.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2