
Menutup pintu mobil dengan keras. Jingga segera menuju kamar di mana Riana tengah dirawat. Ia berlari kecil meninggalkan suaminya yang baru saja turun.
Cemas, khawatir, dan takut melingkupi perasaan Jingga. Hormon kehamilan benar-benar mencampuradukkan perasaannya. Langkahnya melambat saat netranya menangkap Keyra menangis dalam dekapan Kevin di depan ruang rawat Riana. Entah kenapa perasannya jadi tidak enak.
"Kamu nggak papa?" tanya Banyu menyadarkan Jingga. Gadis itu menggeleng. Mereka kemudian berjalan beriringan menghampiri Keyra dan Kevin.
"Gimana keadaan Riana?" tanya Jingga lirih, seperti berbisik.
"Tadi sempet nggak sadar. Sekarang lagi ditangani sama dokter." Bukan Keyra yang menjawab melainkan Kevin. Gadis itu sudah tak memiliki suara semenjak tahu bagaimana kondisi Riana.
Banyu mengajak istrinya untuk duduk. Ia mengusap bahu gadis itu dengan lembut. Ia tahu tidak akan mudah bagi Jingga melihat kondisi sahabatnya seperti ini. Dulu Jingga pernah bercerita betapa ia sangat bahagia bertemu dengan Riana dan Keyra. Mereka berdua membawa hidup Jingga lebih berwarna. Mereka yang selalu ada disaat Jingga terpuruk akan perlakuan ibunya.
"Tenang, ya. Doa aja semoga dia baik-baik aja." Banyu mencoba menenangkan istrinya. Ia takut istrinya terlalu kepikiran dan berimbas pada kandungannya. Kemarin dokter berpesan Jingga tidak boleh terlalu berpikir berat. Karena kandungan Jingga masih sangat muda.
Jingga hanya mengangguk. Ia mengusap perutnya yang masih datar. Ia sandarkan kepalanya pada pundak Banyu. Sekelebat bayangan sembilan tahun yang lalu muncul dalam kepalanya. Saat di mana kakaknya mengembuskan napas untuk terkahir kalinya. Jingga menggeleng. Ia tidak boleh berpikir ke sana, ia harus menanam pikiran positif dan berdoa semoga Riana segera diberi kesehatan.
Setengah jam berlalu. Riana sudah sadar. Tapi, mereka masih harus menunggu lima belas menit untuk bisa masuk dan mengunjungi gadis itu.
Jingga dan Keyra masih setia menunggu, hingga ibu dari Riana memperbolehkan mereka untuk masuk.
Mata Jingga berkaca-kaca menatap betapa kurusnya Riana saat ini. Sudah satu minggu lebih ia tak membesuk sahabatnya dan sekarang tubuh gadis itu sudah tinggal tulang dan kulit.
Jingga mendudukkan diri di samping brankar. Ia gengganm tangan Riana. Menghangatkan diri mereka satu sama lain.
"Lo sakit apa sih, Ri? Sampai kayak gini?" Suara Jingga hampir saja tertahan. Beruntung ia masih bisa mengondisikannya.
"Ya sakit kek biasanya lah. Lo kan tahu sendiri gue cuma sakit mag," jawab gadis itu masih dengan senyumnya, meskipun terlihat sangat pucat.
Jingga sudah tidak ingin menimpalinya. Ia memang tahu sejak dulu gadis itu memiliki sakit mag. Tapi, ia sangat yakin ada penyakit lain yang menggerogoti dirinya.
"Padahal kemarin gue mau ngasih lo kabar gembira. Tapi kenapa kondisi lo malah kayak gini sih," ujar Jingga berpura-pura kesal.
"Kabar gembira apa? Lo menang lotre?" kelakar gadis itu. Membuat siapa saja malah ingin menangis.
Jingga berusaha tersenyum lebar. "Gue hamil"
__ADS_1
Senyum bahagia Riana tampak. "Seneng gue dengernya. Selamat ya Jingga sama Mas Banyu juga. Semoga diberi kelancaran sampai lahir."
"Kamu harus sehat biar bisa gendong keponakan kamu nanti," ujar Banyu berusaha menyemangati.
Riana terkekeh. "Doain aja, Mas. Semoga Tuhan masih berbaik hati dan ngasih aku panjang umur," ujarnya penuh makna.
"Gue nggak mau tahu, pokoknya lo harus sehat buat ketemu sama anak gue!"
Senyum Riana masih tersungging manis. Tapi tidak menjawab. Matanya beralih pada Keyra dan Kevin.
"Lo nggak mau nyapa gue Key?" tanya Riana bercanda.
Keyra ikut memaksakan senyumnya. Ia berusaha mengembalikan suaranya yang sempat hilang. Mencoba tetap menyunggingkan senyum meski matanya berkaca-kaca. Hatinya begitu teriris melihat kondisi sahabatnya seperti ini.
Dalam obrolan mereka kali ini Keyra sebagai objek ledekan. Riana baru tahu bahwa Kevin merupakan sahabat Keyra sejak kecil. Gadis itu masih saja berusaha tertawa di atas kondisinya yang seperti ini.
Setengah jam berlalu. Ibu Riana meminta mereka untuk pulang, karena Riana butuh istirahat. Bukan bermaksud mengusir, namun dokter menyarankan Riana untuk banyak-banyak istirahat. Selain itu, tidak terlalu baik juga jika Jingga berlama-lama di sana.
***
Sejak sampai apartemen, Jingga tidak membuka suara. Gadis itu hanya diam, sesekali menghela napas yang terdengar begitu lelah.
Banyu menyodorkan segelas susu ibu hamil. "Di pegang aja dulu buat ngangetin tangan, kalau masih males minum." Ia tahu, pasti selera makan istrinya turun mengingat bagaimana kondisi Riana tadi. Tapi, bagaimanapun juga Jingga harus tetap makan, apalagi bukan hanya Jingga yang perlu asupan. Bayi dalam kandungan gadis itu juga perlu.
Malam ini terasa cukup dingin. Banyu mendekap tubuh istrinya. Mereka sama-sama menatap langit malam ibu kota, di mana bintang tak pernah terlihat. Ia mencoba untuk mengajak istrinya mengobrol. Memberikan lelucon untuk mengalihkan pikiran gadis itu.
Udara dingin semakin menghantam tubuh mereka. Rengkuhan tangan Banyu sudah tak bisa melindungi tubuh istrinya dari serangan udara. Ia pun mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam kamar.
Jingga mendekap erat tubuh suaminya seperti biasa. Ia sendiri juga bingung, kenapa ia jadi kecanduan dengan aroma tubuh suaminya. Jingga berusaha memejamkan mata di balik dada Banyu sambil mengusap-usap punggung pria itu. Tak butuh waktu lama. Kesadarannya sudah hilang, pergi ke alam mimpi.
***
Embun pagi tampak tebal. Dinginnya menyentuh hingga tulang. Semua orang kembali merapatkan selimut. Memanjangkan mimpi, mengabaikan dunia nyata.
Hari Minggu kali ini Banyu berencana untuk bersantai di atas kasur. Hampir satu bulan ia habiskan harinya di kantor. Ia ingin memanfaatkan hari libur ini untuk istirahat bersama istrinya.
__ADS_1
Dering ponsel Jingga mengganggu ketenangan dua orang yang tengah beradu dalam kedamaian. Si pemilik berusaha mengambil benda pipihnya dari nakas. Matanya menyipit, menatap siapa yang telah mengganggu acara tidur calon mama muda ini.
Keyra is calling
Gadis itu menggeser ikon berwarna hijau. Menghubungkannya dengan si penelepon.
"Halo," ucap Jingga dengan suara seraknya.
Jingga menjauhkan ponselnya dari telinga saat tak ada suara apapun dari sebrang. Ia kembali mengucapkan 'halo' beberapa kali. Lamat-lamat, Jingga mendengar suara isak tangis. Seketika ia terduduk, mengabaikan rasa kantuk yang masih mendera.
"Key, lo kenapa?" tanyanya cemas.
Jawaban Keyra membuat bahu Jingga merosot. Punggungnya membentur kepala ranjang. Tangannya terkulai lemas hingga ponselnya jatuh mengenai kakinya.
Banyu menyadari ada ketidakberesan pada istrinya, ia pun segera bangun. Ia juga mendengar ada seseorang yang menghubungi ponsel istrinya, yang tak lain adalah Keyra. Tapi, ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan hingga Jingga lemas seperti ini.
"Kenapa, Yang? Ada apa?" tanya Banyu khawatir. Ia bisa melihat tatapan istrinya kosong, netranya dipenuhi air mata yang siap meluncur. Sepertinya ia mulai mengerti. Banyu berinisiatif memeluk istrinya. Menenangkan wanita yang ia cintai dengan rengkuhannya.
***
Suara isak tangis mengelilingi sebuah pemakaman. Busana serba hitam mengantarkan seseorang ke peristirahatannya yang terakhir.
Jingga menyembunyikan air matanya di balik lengan sang suami. Begitu juga Keyra, menyembunyikan perasaan bersedihnya pada pundak Kevin.
Mereka sama-sama tak menyangka, usia Riana hanya sebatas ini. Riana yang dulu selalu membuat hari-hari mereka ceria, sekarang sudah tiada.
"Kalian berdua jaga kesehatan. Terutama lo, Ji. Lo kan lagi hamil. Banyak-banyakin makan, jangan sampai telat."
"Jaga ponakan gue, Ji. Semoga dikasih kelancaran sampai lahir."
"Guys, gue tidur dulu ya, ngantuk."
Tangis Jingga semakin keras kala mengingat kata-kata terakhir Riana untuknya. Banyu hanya bisa mengusap bahu istrinya pelan. Mencoba menenangkannya. Ia tahu ini sangat berat untuk dilalui istrinya.
****
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤