
Sore ini Caca terlihat sibuk dengan kertas dan juga krayon. Gadis kecil dengan rambut sedikit bergelombang itu terlihat begitu konsentrasi dengan gambarannya.
Sesekali gadis itu terlihat menghela napas, karena cukup lelah mewarnai beberapa gambar sapi di dalam peternakan. Tadi siang ia lupa mengerjakan tugas rumah itu saat berada di kafe ayahnya, karena ia terlalu sibuk bermain dengan adiknya.
Banyu memang mengajak anak-anaknya ke kafe. Ia tidak mau terlalu membebani orang tuanya maupun orang tua Jingga. Meskipun, sebenarnya mereka sendiri tidak keberatan, namun menurut Banyu lebih baik anak-anaknya ikut dengannya.
Dulu saat Jingga masih kuliah, sesekali wanita itu membawa Caca ataupun Ata ke kampus. Tidak ada dosen yang melarang, bahkan teman-temannya pun tak ada yang keberatan. Mereka bahkan lebih senang jika Jingga mengajak salah satu anaknya ke kampus. Bagi mereka itu salah satu hiburan.
Namun, kini Jingga telah bekerja di rumah sakit tempat ayahnya bekerja. Banyu tentu tak tega membiarkan anaknya berada di lingkungan rumah sakit. Jadi, ia memutuskan untuk membawa anak-anaknya ke kafe. Toh, mereka memang tidak terlalu mencari ibunya.
ASI Bia tak perlu dikhawatirkan, karena Jingga selalu memompa ASI-nya saat pagi hari dan akan dimasukkan ke dalam botol susu milik Bia yang akan dibawa ke kafe oleh Banyu.
Namun, saat malam hari. Banyu akan kalah dengan istrinya, karena mereka lebih memilih tidur dengan Jingga.
Beruntung, kepala IGD dapat diajak kompromi terkait jadwal Jingga. Banyu sebagai suami meminta kepada kepala IGD untuk tidak sering memberikan sif malam kepada istrinya, karena wanita itu memiliki dua anak balita di rumah.
Suara deru mobil dari luar diabaikan oleh Caca. Gadis itu tak ingin fokusnya hilang, karena meladeni siapa yang datang. Ia tahu betul, suara itu bukanlah mobil ibunya.
"Caca!" Suara teriakan sesama gadis kecil menggema di seluruh ruangan.
Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun berlari memasuki rumah tersebut. Ia mencari keberadaan adiknya, dan ya gadis itu terlonjak senang mendapati sang adik berada di ruang keluarga sendirian.
"Caca," panggil gadis itu lagi pada adiknya.
Caca lantas menoleh mendengar suara yang begitu familier di telinganya.
"Kak Icha!" balas Caca riang. Ia tidak tahu bahwa kakaknya yang datang. Caca menyuruh kakaknya itu untuk duduk bersamanya.
Langkah kaki seorang wanita mendekati kedua bocah itu. Wanita itu menengok ke kanan dan ke kiri, mencari si pemilik rumah. Namun, sepertinya Caca hanya sendiri saja di rumah itu.
"Ca, mama kamu belum pulang?" tanya wanita itu setelah duduk di seberang keponakannya.
Caca mendongak, lantas menggelengkan kepalanya. "Belum, Tante Iren."
"Kamu sendirian?" tanya wanita itu lagi.
"Enggak, tadi Ata lagi pup di atas. Bia dibawa ayah," jawab bocah itu polos.
"Mom, aku nginep di sini, ya?"
"Kak Icha mau tidur sama Caca?" tanya Caca riang.
__ADS_1
"Nanti kalau daddy kamu nyariin gimana, Icha Sayang. Nanti malem kan daddy kamu pulang," sela Iren sebelum putrinya menjawab pertanyaan Caca.
"Tapi, Mom ...." Icha memasang wajah murungnya. Ia sudah lama tidak menginap di rumah Banyu dan Jingga, yang sejak dulu ia anggap orang tuanya. Tapi, mendengar ayahnya akan pulang malam nanti, ia juga jadi tak tega.
"Besok deh, kamu nginep di sini. Tapi, nanti izin daddy kamu dulu, ya?"
Icha mengangguk pasrah. Ia juga rindu dengan daddy-nya itu. Pria itu sudah satu minggu berada di luar kota.
Saat ini, Icha memang tinggal bersama Iren sejak empat tahun yang lalu. Iren yang lama kelamaan tak tahan dengan persembunyiannya, akhirnya mengaku bahwa ia adalah ibu kandung Icha. Namun, rintangan tentu saja menghadangnya.
Icha sempat marah dengan Iren, karena dulu sempat ditelantarkan. Namun, atas bujukan Banyu dan Jingga akhirnya Icha mau menerima Iren dan tinggal bersama wanita itu.
Tak hanya itu saja. Sempat ada pertengkaran antara Iren dan sang ibu. Pengakuan Iren yang terkesan mendadak itu menjadi kejutan tersendiri bagi Kiran. Wanita itu bahkan hampir menghabiskan waktu satu tahun untuk menerima kenyataan tentang putrinya itu. Ia sungguh kecewa dengan apa yang telah Iren perbuat. Sejak dulu ia percaya bahwa Iren dapat menjaga kehormatannya, meskipun sejak SMA putrinya itu menjadi seorang model.
Tapi, lambat laun hati Kiran terketuk. Ia luluh melihat bagaimana perjuangan Iren dalam menjaga Icha yang saat itu masih mengidap leukimia. Kiran akhirnya menerima kenyataan itu dengan perlahan. Dan ia mencoba untuk memaafkan perbuatan Iren.
Dan dua tahun yang lalu, Iren dipertemukan dengan seseorang dan mereka menikah dengan didasari oleh cinta.
"Kenapa Icha nggak dibiarin nginep di sini aja kalau daddy-nya mau pulang? Kan kalian bisa berduaan," ujar Banyu dari arah tangga. Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada sang kakak ipar.
"Apaan sih, Nyu. Nggak ada ya. Daddy-nya Icha yang ada marah nanti kalau anaknya nggak di rumah," balas Iren.
"Dari tadi, Cha?"
"Iya, aku dari tadi nungguin, Ayah,"
"Bukan kamu, Caca Sayang!" Banyu mencubit pipi chubby putrinya yang kelewat menggemaskan.
Icha sendiri hanya tertawa kecil melihat kelakuan adiknya itu.
"Enggak, Yah, baru sampai. Mama masih lama Yah pulangnya?" tanya Icha. Ia memang tetap memanggil Banyu dengan sebutan ayah karena memang sudah terbiasa sejak kecil.
"Bentar lagi juga pulang, udah hampir setengah lima," jawab Banyu.
Icha mengangguk. Mereka pun kembali mengobrol dengan santai. Sesekali menertawakan celotehan Bia yang tidak jelas.
Benar saja, tak lama kemudian Jingga terlihat masuk ke dalam rumah. Wanita itu masih menggunakan jas putih kebesarannya.
"Loh, Icha, Kak Iren." Jingga buru-buru mendekati seluruh keluarganya itu.
Pantas saja sejak tadi ia ingin membeli beberapa makanan saat dalam perjalanan pulang tadi. Ternyata sang kakak dan keponakannya itu sedang berada di sini.
__ADS_1
Jingga segera meraih Bia yang sudah menghampirinya. Ia menggendong dan mencium bocah itu berkali-kali, karena sudah sangat rindu. Tak lupa satu kecupan ia berikan pada ketiga anak-anaknya yang lain.
Dan saat duduk di samping Banyu, pria itu dengan sengaja mencium pipi istrinya, karena tak diberikan kecupan seperti yang lain.
"Ngagetin, deh!" sungut Jingga pada sang suami.
"Abisnya aku dilewatin sih," jawab pria itu tanpa dosa.
"Malu kali ada Kak Iren," balas Jingga.
"Iren diem aja kok aku cium kamu," timpal Banyu tak mau kalah.
"Hih, kamu tuh nggak bisa ya, ngalah sehari aja sama aku," desis Jingga hanya ditanggapi kekehan oleh Banyu.
Iren pun menghentikan perdebatan mereka dengan bertanya pada Caca apa yang tengah gadis itu warnai.
"Ini tuh ceritanya peternakan, Tan. Ini sapi-sapinya," jawab Caca sambil menunjukkan hasil karyanya.
Ketiga orang dewasa itu mengerjapkan meta secara bersamaan. Banyu yang memang tak bisa menahan tawa menyemburkan suara tawanya dengan keras.
Ata ikut tertawa melihat ayahnya tertawa. Padahal pria kecil itu tidak tahu apa yang ayahnya tertawakan. Membuat semua orang yang ada di sana ikut tertawa. Terkecuali Caca.
"Kok, diketawain sih, Yah," rengek Caca tak terima.
"Itu warna sapinya kok gitu sih, Ca?" tanya Banyu masih dengan tawanya.
"Kan bagus. Biar kayak pelangi gitu. Bosen tahu, Yah, lihat sapi warnanya cuma item sama putih," papar gadis kecil itu, polos.
"Caca Sayang. Cantiknya Mama, sapi kan memang warnanya itu. Enggak boleh dong diganti jadi warna-warni gitu," tutur Jingga. Ia mengusap kepala putrinya dengan lembut.
Bia pun turut mengusap kepala Caca, mengikuti sang ibu. Dan Caca menepis tangan adiknya itu, tak terima.
"Lain kali enggak boleh gitu, ya," ujar Jingga lagi. Kali ini diangguki oleh Caca.
Banyu masih tak bisa mengendalikan tawanya melihat hasil karya Caca. Ia tidak habis pikir, bagaimana anak gadisnya itu bisa memiliki imajinasi yang begitu luas, hingga para sapi ternak itu diberi warna seperti pelangi.
***
Maaf, ya, agak nggak jelas :v
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1