
Deva memosisikan diri di atas mini stage kafe. Di tangannya sudah ada gitar dan di depannya sudah mikrofon yang siap untuk mendengar suaranya. Bokongnya sudah duduk dengan begitu nyaman.
"Ehm, mohon perhatiannya. Teman saya ini akan menyanyikan lagu Marry your Daughter dari Brian McKnight **, untuk seseorang yang begitu spesial malam ini!" Banyu mengerlingkan sebelah matanya pada Deva sebelum turun dan menunggu di dekat mini stage tersebut.
Deva mulai memetik gitarnya. Mengalunkan suaranya yang begitu lembut.
Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time
See in this box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Very soon I'm hoping that I...
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
When she walks down the isle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
"Gimana sih. Katanya bang Deva suka sama mbak Kikan. Tapi, kenapa sekarang malah nglamar cewek lain?" Sejak Jingga dan Banyu memisahkan diri dari keluarga Kikan, Jingga terus uring-uringan. Ia merasa kesal, karena Deva dengan mudah melupakan Kikan. "Mana ceweknya duduk samping mbak Kikan lagi. Lihat tuh, mbak Kikan nggak mau natap bang Deva. Mana wajahnya surem banget lagi," ujarnya lagi dengan kesal.
"Emang siapa yang mau Deva lamar?" tanya Banyu santai.
"Lah, tadi katanya mau nglamar ceweknya. Berarti kan cewek yang dateng bareng bang Deva tadi," sentak Jingga.
"Emang Deva ngomong mau nglamar cewek itu?"
Pertanyaan Banyu membuat Jingga terdiam. Deva bahkan tidak mengatakan apapun saat akan naik ke mini stage. Dan perdebatan mereka terhenti sejenak saat Deva selesai bernyanyi.
__ADS_1
Pria berambut hitam dengan sedikit poni itu berbicara, "Seperti yang teman saya bilang. Lagu tadi saya persembahkan untuk seseorang yang sangat spesial. Dan dia sedang duduk di sana." Deva menunjuk pada tempat Kikan dan Bella duduk. Sebuah lampu menyorot pada meja tersebut.
Deva turun dari mini stage. Ia menghampiri Jingga sejenak untuk mangambil buket bunga yang sudah Kikan rancang.
"Awas kalau Bang Deva nggak nglamar mbak Kikan!" Ancaman Jingga hanya dibalas dengan tepukan di kepala.
Deva berjalan santai ke arah meja tempatnya duduk tadi dengan sebuket bunga di tangannya.
Semua orang memperhatikan langkah Deva. Mereka begitu penasaran bagaimana Deva melamar gadis berbaju biru itu.
Langkah Deva tehenti tepat di depan meja. Ia memandang Bella sejenak, memberikan kode yang hanya mereka saja yang tahu.
Bella yang mengerti pun berdiri dari duduknya.
Kikan menahan napas kala ia merasakan Bella berjalan mendekati Deva. Ada perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Dadanya terasa begitu sesak mengetahui sahabatnya akan melamar kekasihnya saat ini. Dan sialnya Kikan lah yang menyiapkan segalanya tanpa Kikan tahu.
Dan napas Kikan benar-benar berhenti saat ternyata Deva berjongkok di samping kursinya.
"Aku tahu ini terlalu mengejutkan dan juga terlalu berani." Deva mulai berbicara. "Tanpa kita menjalin hubungan asmara sebelumnya, aku memberanikan hatiku untuk mengatakan ini" Pria itu menghela napas. Jujur saja ia sangat gugup. "Aku menyukaimu sejak tiga belas tahun yang lalu. Konyol memang jika didengarkan. Tapi sejak pertemuan pertama kita di studio musik saat kita masih duduk di bangku SMP, aku sudah jatuh cinta padamu. Dan berusaha ingin memiliki kamu." Deva terdiam sejenak, karena sejak tadi Kikan sama sekali tak menatapnya.
"Kita hanya menjadi sepasang sahabat sejak dulu. Tapi, aku menyimpan rasa yang begitu besar dalam hatiku untukmu." Ia tersenyum kala Kikan mulai menatap padanya. Seperti sebuah energi, Deva tidak lagi gugup dan semakin semangat. Apalagi netra gadis itu terlihat berkaca-kaca.
"Malam ini aku memberanikan diri dihadapan kedua orang tuamu, menyatakan rasa yang sudah terpendam sejak dulu." Deva tersenyum. "Kikan, aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku tidak ingin menjalin hubungan selayaknya para remaja, karena usia kita memang sudah tidak pantas lagi untuk hanya sekadar pacaran. Jadi ... mau kah kamu menikah denganku?" Deva menyodorkan buketnya pada Kikan.
Kikan memandang Deva bingung. Dari dulu mereka bersahabat. Entah rasa apa yang ia miliki untuk Deva, karena sejak dulu ia memang tidak suka melihat Deva berdekatan dengan perempuan lain. Kikan selalu memiliki cara untuk mengalihkan pandangan Deva dari para perempuan yang dengan terang-terangan menggoda Deva.
Ada rasa bahagia masuk ke dalam dadanya. Apa sebenarnya ia juga sudah mencintai Deva sejak lama? Kikan bertanya-tanya sendiri. Kikan menatap kedua orang tuanya. Mereka berdua tersenyum, seakan memberitahu mereka setuju.
Tiba-tiba Kikan berdiri. Deva pun juga ikut berdiri. Kikan menatap Deva. Mereka saling adu pandang. Sekali lagi, Deva menyodorkan buket bunga yang ia pegang pada Kikan.
"Lo jahat! Jahat! Jahat" ucap Kikan seraya memukuli Dev hingga buket itu hampir rusak. Setelahnya buket itu terkapar tak berdaya di atas lantai. Dan Kikan menghamburkan tubuhnya, memeluk Deva dengan erat.
"Gue benci lo, Dev. Gue benci!" ucapnya sambil menangis.
Deva terkekeh. Ia mengusap kepala Kikan. "Apa ini artinya gue diterima?" Pria itu meringis saat satu pukulan mendarat di punggungnya. Namun, senyumnya kembali timbul saat ia merasakan Kikan menganggukkan kepala. "Terima kasih" Dengan berani Deva mencium kepala Kikan di depan semua orang termasuk kedua orang tua Kikan.
Tepuk tangan terdengar begitu riuh. Potongan-potongan kerta dari party pooper yang telah diledakkan oleh beberapa karyawan Banyu memeriahkan malam ini.
Banyu melangkah mendekati mikrofon yang masih menyala. "Untuk merayakan keberhasilan sahabat saya, malam ini dia yang akan membayar semua makanan kalian." Banyu tertawa saat Deva mengacungkan jari tengahnya secara terang-terangan, karena sebelumnya memang tidak ada perjanjian seperti itu.
***
Kikan tidak tahu, ternyata Banyu sudah menyiapkan makan malam untuk mereka di ruang pribadinya.
Gadis itu masih setengah merajuk, karena merasa dipermainkan oleh Banyu dan para karyawannya. Semua karyawan sudah tahu rencana ini, hanya Kikan saja yang tidak tahu. Bahkan dirinya sendiri yang menyiapkan acara malam ini. Kecuali makan malam. Buket bunga yang Deva berikan juga hasil rancangan Kikan sendiri.
"Mami sama Papi juga udah tahu masalah ini?" tanya Kikan. Ia makin merasa geram saat mereka mengangguk.
"Seminggu yang lalu, Deva datang ke kantor papi. Dia bilang ingin melamar kamu. Deva meminta restu dari papi, dan tentu papi merestui niatan dia. Sebenarnya sudah lama papi ingin meluruskan hubungan kalian ini, tapi papi selalu sibuk dan kamu nggak pernah pulang ke rumah. Ternyata Deva sendiri yang datang ke papi," jelas ayah Kikan.
Kikan hanya mengangguk saja. Diam-duam ia tersenyum haru dengan apa yang Deva lakukan.
"Terus ini siapanya Bang Deva?" Kali ini Jingga yang bertanya.
"Kenalin, ini Bella. Sepupu gue, baru pindah dari Solo," ucap Deva memperkenalkan Bella pada semua yang ada di sana.
__ADS_1
Bella mengangguk dan tersenyum pada semua orang.
"Ki, lo mau sampai kapan marah kayak gitu?" tanya Banyu menggoda.
"Diem lo bangsat!" sentak Kikan membuat semua orang tertawa.
"Ampun, Bu .... " Banyu tergelak. Ia lupa sahabat perempuannya ini sedang PMS dan pasti akan sangat sensitif jika disinggung.
"Nak Deva,"
"Ya, Om" Deva meletakkan garpu dan sendoknya untuk memusatkan perhatian pada ayah Kikan.
"Besok ajak papa kamu ke rumah kami. Kita harus membicarakan ini lebih serius," ucap ayah Kikan.
Deva mengangguk. "Secepatnya saya akan ke rumah Om dan Tante bersama papa. Sebenarnya kemarin saya berencana mengajak papa sekalian. Tapi, ternyata kami mendapat kabar perusahaan yang ada di Malaysia sedang ada masalah dan papa harus segera terbang ke sana. Jadi, mohon maaf sekali papa tidak bisa turut hadir," jelas Deva.
Ayah Kikan mengangguk, kemudian kembali menyelesaikan makannya. Tak lama kemudian beliau berpamitan bersama sang istri.
Banyu dan Deva mengucapkan banyak terima kasih, terutama karena telah menerima Deva dan melancarkan kejutan malam ini.
"Kak aku pulang dulu, ya" ucap Bella seraya menutup ponselnya. Ia baru saja menghubungi seseorang.
"Lo balik sama siapa?“
"Tadi Kak Rafa bilang mau jemput," jawabnya. Gadis itu berdiri kemudian berpamitan pada Kikan. Tak lupa ia meminta maaf karena telah ikut dalam rencana konyol Deva untuk memanas-manasi Kikan.
"Hati-hati" Deva melambaikan tangan pada sepupunya itu. Ia masih memperhatikan punggung gadis itu, hingga lenyap ditelan pintu.
"Lo beresin semua!" Kikan beranjak dari duduknya tanpa berpamitan. Ia melangkah menuju ruangannya sendiri yang tak jauh dari ruangan Banyu.
Deva mengikuti gadis yang telah resmi menjadi miliknya. Ia ikut masuk ke dalam ruangan gadis itu.
"Ngapain, lo " Kikan terkejut saat Deva mengungkungnya di balik pintu. Kikan menelan ludahnya susah payah, karena jarak mereka begitu dekat.
"Mulai saat ini nggak ada lo dan gue diantara kita. Hanya ada aku dan kamu," ucap Deva.
Berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Deva membuat Kikan merasa bodoh dan ia mengangguk begitu saja. Gadis itu memejamkan mata saat Deva mengikis jarak pandang mereka. Bahkan embusan napas Deva begitu terasa menyapu kulit wajah Kikan. Napas Kikan terhenti kala ia merasakan bibir Deva berada di atas bibirnya. Meskipun hanya sekejap. Ia kembali membuka mata saat Deva menjauhkan bibirnya, namun kening mereka masih saling menempel. Semburat merah muncul mewarnai pipi putih Kikan.
"Terima kasih, sudah menerimaku. Aku harap kamu tidak sepenuhnya terpaksa," ucap Deva. Tatapannya mengunci tatapan Kikan.
Kikan ingin menjawab. Tapi suara gedoran pintu dari luar membuyarkan seluruh keromantisan yang baru saja mereka ciptakan.
"BELUM HALAL WOY. NIKAH DULU!"
"Banyu sialan!" umpat Kikan.
Di sisi lain
"Awww," Banyu mengusap pinggangnya. Ia yakin saat ini pinggang mulusnya sudah berubah menjadi hitam pada bagian itu.
"Makanya jangan aneh-aneh. Demen banget ganggu orang!" Sarkas Jingga seraya meninggalkan suaminya.
***
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1