
"Nona, Anda mau kemana?" teriak para pelayan dengan berlari mengikuti nona mereka, sungguh langkah Aira biasa saja, namun seakan jalannya lebih cepat dua kali dari seorang pria.
"Nona, Anda tidak boleh keluar terlebih dahulu sebelum nona sembuh." cegah penjaga tanaman di dekat pintu besar. Mencibir kesal, ia berkata: "Aku adalah tuan mu, kan? kenapa berani sekali melarang ku!" dengan tangannya, ia membuka pintu, sedangkan penjaga itu menunduk di buatnya, aura yang terpancar di dalam diri nona nya benar-benar membuat semua orang bergidik di buatnya.
"Ingat! jangan biarkan siapapun masuk ke taman ini jika aku masih berada di sana!" tegas Aira menunjuk kan jari telunjuknya pada penjaga. Mereka yang ada di sana menelan salivanya.
"Kenapa diam? jawab!" sentak nya kemudian, penjaga mengangguk.
"Baik, Nona. Saya akan mengikuti perintah Anda." jawab penjaga itu terpaksa, Aira tersenyum sinis, menghempaskan rambutnya kemudian menutup pintu antara rumah dan taman itu.
Aira menghirup puas saat udara menghembus rambutnya, bibirnya tertarik ke atas saat rambutnya tergerai ke belakang.
"Sangat indah," gumam Aira. Pelayan yang ada di belakangnya ikut tersenyum, terlebih mereka baru sekali melihat wajah itu mengeluarkan senyuman manis milik nona nya.
"Bawakan aku buah anggur, juga jus jeruk." Perintah Aira. Satu pelayan segera membungkuk, "Baik, Nona." sahutnya yang kemudian berjalan mundur dan berbalik meninggalkan taman itu.
Anya berlari saat melihat sosok yang di takuti itu keluar dan sedang berada di taman, namun penjaga menghentikannya secara langsung.
"Nona, Anda tidak boleh masuk ke sini." sergah para penjaga. Anya seketika merubah raut wajahnya menjadi kesal, "Kenapa aku tidak boleh ke sana? bukankah itu tempat umum!" sentak Anya tidak terima.
"Nona, mari kita bekerja sama, saya di perintahkan nona Aira untuk tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk." ucapnya menjawab. Anya mengepalkan tangannya.
"Aira! kenapa dia seolah menjadi nyonya rumah!" desis Anya sebal.
"Penjaga, tolong buka kan pintunya." pinta pelayan milik Aira. Melihat satu pelayan masuk, Anya langsung protes.
"Kenapa dia bisa aku tidak?" teriak Anya tidak terkontrol lagi.
"Mohon untuk jangan memulai keributan." pinta penjaga itu, sejujurnya dia merasa kesal karena para wanita di sini selalu saja merendahkannya yang hanya seorang penjaga, wanita di sini selalu menunjukkan sifat sombongnya pada para bawahan.
"Kau! berani menentang ku!" teriak Anya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki, yang tak lain adalah Akeno sendiri.
"Akeno, pelayan ini tidak memperbolehkan aku untuk masuk ke sana!" rengek Anya mendekat. Tatapan tajamnya mengarah pada tangan wanita itu yang kini sedang memegang lengannya.
"Lepaskan tangan ku!" desis Akeno. Anya yang ingin protes tidak jadi akibat tatapan yang di berikan pria itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Akeno pada penjaga.
"Tuan, maafkan saya karena mengizinkan nona Aira-"
PLAK! Sebelum selesai berbicara, penjaga itu sudah menerima balasannya.
Tamparan yang keras itu mampu membuat semua orang yang ada di sana terkejut, mereka yang sedang menghias rumah untuk acara ulang tahun Akeno, di kejutkan dengan adegan ini.
"Berani nya kau mengizinkan Aira untuk keluar! sudah ku katakan untuk jangan biarkan dia keluar dari rumah ini sedikit pun." teriak Akeno begitu menggema.
"Tuan, saya tidak sengaja."
"Tidak sengaja kata mu!" teriak Akeno.
"Arrghhh!" teriak Aira menjerit panjang. Ke tiga pelayan itu saling menatap satu sama lain.
Pelayan itu ingin mendekat, namun tidak bisa, suara jeritan membuat mereka yang berada di dalam sana mendengarnya. Aira mendongakkan kepalanya ke atas, menunduk kan nya lagi, lalu berjalan pontang panting.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya sang pelayan mendekat, Aira menajamkan matanya saat tangan itu memegang lengannya.
"Arrgg! nona!" teriak pelayan itu kesakitan, akibat tangannya di cakar secara tiba-tiba.
"Pergi!" desis Aira. Tangannya memegang kepalanya lagi, "Arrghhh!" Cahaya biru dan ungu keluar dari tubuhnya, dengan kilatan warna yang berbeda menembus langit hingga ke ujungnya.
Akeno yang terus mendengar jeritan itu semakin khawatir, yang ia takutkan ternyata benar, dia... dia sudah berulah.
__ADS_1
"Aira!" teriak Akeno berlari ke arah wanita yang ia cintai. Tidak boleh terjadi apapun padanya, jika tidak, maka dirinya lah yang akan merasa tersiksa.
Pria itu berlari terus, di taman yang luas ini, Akeno sedikit menyesal karena membuat tempatnya sangat luas dan panjang.
Di negara lain, seorang tuan Ahmad Khan melihat kilatan cahaya yang sudah pasti bisa dirinya tebak. Kekuatan api dan air yang menyatu, sampai kapan pun tidak akan pernah di izinkan bersama.
Sebuah kata yang paling rumit, namun bisa menghasilkan makna yang indah, sesuatu bisa terjadi kapan saja sesuai kehendak dari Allah.
"Akhirnya dia sudah keluar." gumam Ahmad Khan dengan menaikkan bibirnya ke atas, ia tersenyum melihat cahaya itu masih belum bisa di padamkan.
"Selamatkan putriku darinya, jangan biarkan dia mendapatkan dosa apapun." Lirih Ahmad tersenyum. "Sesuatu yang sudah tertanam terlebih dahulu akan segera kembali." lirihnya.
Di paviliun milik Zafirah, ia sedang memeluk Zahra yang sedang berada di pangkuannya. Alkaf terus menemani nona nya, tidak peduli orang berkata apa, akan tetapi mereka tidak pernah berduaan. Jika bisa di katakan, pria itu mencintai nona nya sendiri, namun tidak berani mengatakannya.
"Sesuatu yang sudah tertanam, sudah terlihat." ujar Zafirah dengan lirih. Alkaf membenarkan ucapan nona nya, namun tidak berkata apapun.
"Sekarang yang harus kita lakukan adalah cara mencegah Aira untuk tidak berbuat sesuka hatinya." Lanjut Zafirah.
Alkaf tersenyum, "Nona, percayalah, adik Anda pastinya tidak akan melakukan hal yang kasar." balas pria itu.
"Aku tahu, tapi membayangkan pria itu ternyata memiliki jaringan emas, aku khawatir Aira akan mendapatkan aura negatif dari pria itu." Timpalnya pelan.
Akeno masih berusaha untuk mengeluarkan Aira dari kubangan itu, wanita itu seperti meluapkan sesuatu. Akeno bahkan tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.
Kagira berlari keluar saat mendengar teriakan dan melihat cahaya yang sampai menembus langit, jika itu lampu, mana mungkin bisa terjadi seperti itu.
"Akeno, apa yang terjadi?" tanya Kagira berlari keluar taman, ia terkejut, serangan berwarna ungu itu seakan ingin melahap mereka semua.
"Ibu, Aira, dia, dia ada di sana." tunjuk Akeno.
"Penjaga!" Teriak Kagira.
__ADS_1
Ia kemudian memerintah "Cepat bawa Aira dari sana!" Semua penjaga saling melihatnya, tidak ada yang berani untuk mendekat sekali pun.
"Ibu! kau mau ke mana?" tanya Akeno menarik tangan Kagira.