
Ata masih bergeming di tempatnya, meski Banyu berusaha untuk menyingkirkan bocah itu dari sang istri.
Rasa-rasanya Banyu ingin mencekik anaknya sendiri jika sudah seperti ini. Ia yang sudah sangat geram melakukan sesuatu yang membuat Ata memekik kesal.
“Aww!”
Ata mengusap betisnya kasar. Cowok itu meringis sakit seraya mendudukkan dirinya. “Sakit, Yah! Main cabut aja.” Netra Ata melayangkan tatapan kesal pada pria paruh baya itu. Bisa-bisanya dia mencabut bulu kaki Ata secara kasar.
Banyu yang melihat kesempatan pun segera membawa dirinya duduk di samping sang istri. Namun, alih-alih mendapatkan sikap manis setelah pulang kerja, Banyu malah mendapatkan satu pukulan panas dari telapak tangan Jingga.
“Sakit, Ma,” keluh Banyu menatap Jingga mengiba.
“Itu balasan buat kamu dari Ata,” ucap Jingga tanpa merasa bersalah.
Ata menghamburkan dirinya pada tubuh sang ibu sebagai ungkapan terima kasih, karena telah membelanya.
Ayah tiga anak itu berdecih saat Ata menjulurkan lidah padanya. Sepertinya Banyu sedikit menyesal telah memiliki anak laki-laki seperti Ata. Ingin rasanya Banyu kembali memasukkan Ata ke dalam perut istrinya lagi jika bisa.
**
__ADS_1
Memandang langit malam yang sangat gelap. Rania menyesap teh hangat sambil duduk di kursi balkon. Hari sudah sangat larut, tetapi Rania masih belum bisa memejamkan mata.
Kepala Rania melonggok ke luar saat deru mobil terdengar memasuki pelataran rumahnya. Rania bisa melihat dengan jelas kakak laki-lakinya keluar dari mobil itu dengan keadaan berantakan. Sepertinya pria itu baru pulang dari kantor, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Gegas Rania turun ke bawah membukakan pintu untuk sang kakak. Pelayan yang biasa bekerja di rumahnya pasti sudah tidur, sehingga Rania mau tak mau harus ke sana sendiri.
“Kamu belum tidur?” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Alden–kakak Rania, mendapat anggukan dari gadis itu. Tak lagi menanggapi, pria itu melangkah pergi ke kamarnya meninggalkan sang adik di ruang tamu sendiri.
“Kak” Rania berlari mengejar kakaknya yang sudah menaiki tangga.
“Apa?” tanya pria itu setelah memutar tubuhnya.
“Kenapa Kak Alden baru pulang?”
“Udah-udah, jangan ganggu lagi. Aku capek mau istirahat,” ucap pria itu seraya menaiki tangga.
Masih di tempatnya berdiri. Rania hanya menatap kakaknya sendu. Dalam batinnya ia bertanya-tanya, kenapa semua keluarganya tak pernah memberikan perhatian padanya. Mereka selalu sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.
Pagi harinya, Rania yang tengah menikmati sarapan melihat kakaknya baru turun dari kamarnya. Pria itu mengambil dua lembar roti gandum. Tidak ada sapaan manis layaknya kakak beradik, meja makan yang seharusnya terasa hangat itu justru terasa sangat dingin.
__ADS_1
Namun, Rania ingin mengubahnya. Ia pun memberanikan diri menyapa Alden yang tengah meminum kopinya.
“Kak, papa sama mama pulangnya beneran masih lama?”
Alden meletakkan kopinya kembali ke atas meja. Pria itu menatap adiknya sejenak setelah itu menjawab, “Iya, banyak kerjaan di sana.”
Sudut bibir Rania naik mendengar jawaban sang kakak dengan nada yang sangat halus. Gadis itu kembali memberanikan diri meminta sesuatu pada kakaknya.
“Kak, hari ini anter aku ke sekolah, dong. Masa setiap hari aku dianter sama sopir.”
Tatapan tak suka Alden lemparkan pada Rania. “Ran, kamu itu udah gede. Nggak usah manja! Kakak hari ini sibuk, kita juga beda arah. Jadi, berangkat saja sama sopir,” ucap pria itu tegas.
“Tapi, Kak–”
“Rania Sanjaya!”
Bibir Rania mengatup begitu saja mendengar bentakan kakaknya. Gadis itu seketika menundukkan kepalanya, tak lagi berani menatap Alden yang kini melemparkan sorot tak suka.
Ini yang Rania benci saat berada di rumah. Di sana ia memiliki kakak dan orang tua, tetapi ia tak memiliki keluarga. Rania merasa seperti hidup sendiri. Tidak ada siapa pun di sana yang memedulikan Rania.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤