
Senja beranjak pergi. Meninggalkan sejuta manusia yang ada dalam bumi. Menyimpan setiap kenangan indah yang terjadi hari ini.
Kembali pada sebuah rumah besar bergaya klasik. Jingga tengah membantu Kikan menata makanan di atas meja. Wanita itu membawa dua piring berisi ayam krispi dan juga perkedel kentang. Di belakangnya, Kikan membawa satu mangkuk sup ayam ekstra bakso.
Selesai menata meja makan, Kikan meminta Jingga memanggil suami mereka. Sedang ia akan kembali ke dapur untuk membereskan sedikit kekacauannya tadi.
"Ki, lo punya melon nggak?" tanya Banyu seraya mengamati meja makan. Matanya tampak berkeliling mencari buah yang sejak tadi berada dalam benaknya.
"Melon? Buat apa?" Heran menyelimuti diri Kikan. Ia hendak mengambil alih anaknya dari sang suami, namun Deva menolaknya.
"Buat dimakan lah. Lo kira buat apa lagi?" jawab Banyu seraya memutar matanya. Pria itu mendengkus saat tak ditemukannya buah yang ia inginkan.
"Tumben banget lo nyariin melon. Biasanya paling ogah," ujar Kikan seraya menyendok nasi dan memberikannya pada Deva. "Sini! Rasya sama aku aja, kamu makan dulu!" Kikan hendak mengambil kembali putranya, namun lagi-lagi tidak diizinkan oleh Deva. Pria itu malah menggerakkan tangannya minta disuapi.
"Kamu tuh dari kemarin minta disuapin si, Mas. Tangan kamu ke mana?"
Kikan memutar kepalanya, menatap sepasang manusia yang duduk berdampingan di seberangnya. Ia bisa melihat raut dongkol Jingga pada Banyu.
"Perasaan yang tangannya repot ayahnya Rasya, kok lo yang minta disupain?" Ia menatap geli pada pasangan itu.
"Tahu ni, Mbak. Dari kemarin tahu, sarapan sampai makan malem minta disuapin," ujar Jingga seraya memasukkan satu sendok nasi pada mulut Banyu.
Kikan hanya bisa menggeleng saja melihat dua orang itu. Kemudian ia kembali fokus pada suaminya. Ia tak ingin ikut campur masalah sepele kedua orang tersebut.
Meskipun Jingga merasa kesal, ia tetap menyuapi suaminya dengan telaten. Terkadang ia lupa untuk menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, lantaran terlalu fokus pada Banyu.
Pria itu sama sekali tak merasa bersalah. Ia terus membuka mulut saat nasinya telah tertelan habis. Ia merasa senang saja dan terasa lebih kenyang jika disuapi oleh Jingga. Bahkan kemarin ia tidak makan siang, lantaran tak ada Jingga. Ia hanya ingin makan bersama istrinya.
Selesai urusan perut, Banyu dan Jingga berpamitan untuk pulang. Mereka sudah terlalu lama di sana dan sudah saatnya membiarkan baby Rasya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Dadah Gembul, besok main ke rumah om, ya" Banyu menciumi bocah itu.
Seakan mengerti akan ditinggalkan. Baby Rasya menggerakkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Ia terlihat tidak rela jika kedua orang itu pulang.
Banyu pun bergerak untuk mengambil bocah itu, mengangkatnya tinggi hingga bocah itu tertawa puas. Setelahnya, Banyu mengembalikan baby Rasya pada kedua orang tuanya.
"Pulang dulu, ya, Sayang," ucap Jingga seraya melambaikan tangannya.
"Hati-hati, Om dan Ante" balas Kikan seraya menggerakkan kedua tangan anaknya.
***
Bulan menampakkan sinar begitu terang malam ini. Mengiringi setiap langkah manusia. Menemani langit tanpa bintang.
Banyu masih setia menarik tuas gas motornya. Jalanan malam ini begitu ramai. Mengusir keheningan yang hampir mendera mereka. Namun, Banyu sangat menikmatinya. Pelukan hangat serta embusan napas sang istri yang terasa di lehernya.
Lampu menyala merah, memberhentikan setiap pengendara. Sebagai pengendara yang budiman Banyu turut menunggu lampu berubah warna. Mengurangi sedikit rasa bosan, Banyu meletakkan tangan kirinya pada lutut Jingga, mengusapnya pelan sebagai bentuk rasa sayang.
"Eh, jangan tidur dulu. Nanti kalau jatuh gimana?" Banyu menggoyangkan bahunya supaya Jingga tetap terjaga. Jika wanita itu tertidur akan sangat berbahaya bagi mereka.
"Aku ajak ngobrol, ya?" tawar Banyu membuat mata Jingga sedikit terbuka.
"Jangan ngomongin bisnis. Aku nggak tahu," ujarnya pelan.
"Iya. Kamu mau aku ceritain apa?" tanya Banyu lagi. Ia kembali melajukan motornya setelah lampu lalulintas berubah hijau.
Perjalanan mereka yang tinggal lima belas menit terisi dengan Banyu yang menceritakan kejadian yang ada di kafe tadi. Meskipun terdengar samar, namun sedikit banyak bisa mengalihkan perhatian Jingga.
Banyu tak pernah lelah menuruti apa yang Jingga inginkan. Selagi ia bisa memenuhinya akan Banyu lakukan. Untuk saat ini Jingga adalah segalanya baginya.
__ADS_1
"Kok berhenti di sini? Mau beli apa?" Jingga mengedarkan pandangan pada sebuah toko buah yang tak jauh dari rumahnya.
"Mau beli melon," jawab Banyu. Kakinya melangkah lebar untuk segera mendapatkan apa yang ia inginkan.
Banyu mengedarkan pandangan. Menelisik setiap buah yang berjajar rapi di depannya. Binar mata Banyu tak dapat lagi disembunyikan tatkala ia menemukan apa yang sejak tadi ia cari. Dengan segera pria itu mengambil tiga buah dan membayarnya. Ia tak peduli berapa harganya, yang ia inginkan hanya menyantap buah ini hingga tandas.
Tak dapat dipungkiri lagi rasa heran yang tengah Jingga miliki. Kerutan pada kening dan tatapan aneh matanya tampak begitu jelas manakala sang suami mengangkat tiga buah melon yang tengah dijinjing. Ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah melihat tingkah suaminya. Jingga sama sekali tak ada niat bertanya dan hanya kembali duduk saat Banyu telah menyalakan kembali motornya.
Tak butuh waktu lama, keduanya kini sudah berada di dalam garasi rumah. Jingga yang sudah sangat mengantuk memilih untuk segera pergi ke kamar dan hendak merebahkan diri. Sebelum itu ia menyempatkan diri untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
Sejenak Jingga tertegun kala Banyu belum juga masuk. Sudah hampir setengah jam pria itu berkutat di dapur dengan buah melon yang tadi dibelinya. Jingga berniat menghampiri Banyu, namun urung, karena pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Di tangannya ada semangkuk besar potongan buah melon dengan susu coklat dan taburan keju. Jingga memandang aneh pada mangkuk tersebut. Dalam benaknya bertanya bagaimana rasanya. Sebelum mengomentari suaminya, Jingga menyuruh pria itu untuk segera membersihkan diri sebelum tidur, dan Banyu menyetujuinya.
Selagi Banyu mandi, Jingga menyiapkan pakaian yang bisa Banyu gunakan nanti. Sesaat ia beralih pandang pada mangkuk yang bertengger di atas nakas. Kepalanya hanya bisa menggeleng melihat seberapa banyak potong melon di dalam sana. Ia tidak habis pikir bagaimana Banyu akan menghabiskannya nanti. Tak ingin memikirkan hal tidak penting. Jingga lantas merebahkan dirinya. Berbaring telentang dengan ponsel dalam genggamannya. Ia memainkan gawai tersebut sembari menunggu Banyu selesai mandi.
Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit, akhirnya Banyu keluar dari kamar mandi. Pria itu menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Ia berjalan santai dengan handuk putih melilit pinggangnya. Setelah selesai menggunakan semua pakaiannya, Banyu mengambil mangkuk berisi melon tadi dan membawanya duduk di atas tempat tidur. Ia menikmati buah tersebut dengan santai tanpa melirik pada istrinya.
"Kamu nggak kekenyangan makan buah sebanyak itu?" tanya Jingga memecahkan atmosfer keheningan yang sempat menyapa mereka beberapa detik.
"Enggak," jawab Banyu tak peduli. Ia terus mengunyah dan mengunyah, menelan dan menelan. Hingga tiba-tiba ...
Jingga berjengit mendapati suaminya berlari ke kamar mandi. Di dalam sana Jingga bisa mendengar suara pria itu memuntahkan kembali isi perutnya. Ia membantu Banyu dengan memijat tengkuknya beberapa kali, hingga Banyu mengisyaratkan berhenti. Wajahnya berubah pucat, tubuhnya juga menjadi sangat lemas.
"Tuh kan kamu muntah. Ini pasti gara-gara kamu kebanyakan makan buah melon. Tadi kamu juga habis hampir dua piring nasi lo di rumahnya Mbak Kikan," sungut Jingga. Ia membantu Banyu berjalan kembali ke kamar. Ia melihat melon dalam mangkuk tersebut sudah hampir habis. Pantas saja suaminya sampai muntah.
Jingga mengolesi tubuh Banyu dengan minyak kayu putih. Sesekali Jingga terdengar mengomeli pria itu. Terlihat sangat kesal. Dan setelah cukup lama, akhirnya kondisi Banyu kembali seperti semula. Wajahnya tidak sepucat tadi. Jingga pun merebahkan dirinya di samping Banyu. Memeluk pria itu sendiri, kemudian berucap, "Besok jangan kayak gitu lagi, Sayang. Kalau pengen makan sewajarnya aja." Tak lama kemudian ia menutup mata.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤