You Are Mine

You Are Mine
Ekstra Part 10


__ADS_3

Jingga melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu menunggu anak-anaknya di ruang tamu. Jingga memang paling tidak suka jika ada salah satu anaknya yang mengabaikan perintahnya.


Bukankah tadi sudah jelas, Jingga meminta Caca untuk pulang dulu sebelum pergi lagi. Lalu, kenapa gadis itu tidak mendengarkannya?. Jingga harus mendapatkan alasan yang tepat untuk memaafkan ketiga anaknya itu.


Caca, Ata, dan Bia tampak sedikit terkejut melihat keberadaan sang ibu di tengah ruang tamu dengan seraut muka garang. Seketika itu juga ketiga bocah itu menundukkan kepala. Mereka takut melihat Jingga seperti itu.


“Dari mana kalian?” tanya Jingga galak.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jingga membuat wanita itu meradang.


“Kalian tahu ini jam berapa?” tanya Jingga lagi.


Ketiga remaja itu mengangguk takut. Bia yang tengah membawa sesuatu di belakang tubuhnya mencengkeram erat benda itu supaya tidak jatuh.


“Bukannya tadi Mama sudah bilang, kalau main pulang dulu ganti baju. Lalu, apa ini? Kalian masih menggunakan seragam sekolah sampai sekarang!” omel Jingga penuh amarah.


Wanita itu menatap tajam pada ketiga anaknya. Sebelumnya mereka tak pernah seperti ini. Dulu mereka sangat penurut, tak pernah mengabaikan perintah Jingga. Mereka selalu pergi setelah mengganti baju sekolah. Namun, sekarang? Jingga benar-benar tak habis pikir dengan anak-anaknya itu.


“Caca,” panggil Jingga tanpa kelembutan di sana.


Gadis pemilik nama itu mengangkat kepalanya. Menatap takut pada sang ibu, dan berusaha mencari keberadaan ayahnya yang sekarang entah ke mana.


“Apa kamu lupa pesan Mama tadi pagi?”


Caca menggeleng. Aturan sejak ia masih kecil itu tentunya sudah Caca hafal di luar kepala.


“Terus, kenapa kamu tidak pulang dulu tadi?”


Kembali terdiam. Caca bingung harus mengatakan apa pada sang ibu. Ia tidak memiliki alasan khusus, karena ini merupakan sebuah rahasia yang tak seharusnya ibunya tahu saat ini.


“Kamu nggak denger pertanyaan Mama?” Jingga benar-benar dibuat kesal oleh anak-anaknya yang sejak tadi diam saja. Ditambah Banyu yang tidak ada di sana membuatnya semakin kesal. Ia merasa pria itu mengabaikan anak-anaknya yang tengah melakukan kesalahan.


“Bia, dari mana kamu?” Jingga mengalihkan pertanyaan pada putri bungsunya, berharap remaja itu mau menjawab pertanyaannya.


Bia melirik kedua kakaknya. Kemudian, saat mendapati sang ayah telah berada di belakang ibunya, ia pun menjadi berani untuk menjawab.


“Bia dari–”


“Bawa apa kamu?” Jingga memicing melihat tangan Bia yang sejak tadi berada di belakang tubuh gadis itu.


Bia mengerjap sejenak. Saat melihat ayahnya mengangguk, gadis itu mengeluarkan apa yang sejak tadi ia sembunyikan.

__ADS_1


“Bia bawa ini untuk Mama,” ucap gadis itu seraya menyodorkan sebuah kue tart dengan tulisan ucapan selamat ulang tahun kepada ibunya.


Jingga menatap kue itu datar, rasa kesalnya menguap seketika. Namun, ia tak mau menunjukkannya.


“Bia tadi ke kafe ayah. Kita di sana bikin kue ini untuk Mama,” ucap gadis itu dengan senyum manisnya.


“Mama nggak mau lihat kuenya?” tanya Bia memasang wajahnya semanis mungkin.


“Nggak, Mama masih kesel sama kalian,” jawab wanita itu berbohong. Tentu saja ia ingin melihat kue buatan anak-anaknya itu, tetapi ia masih gengsi untuk mengakuinya.


Jingga pun berbalik untuk pergi. Namun, tanpa ia tahu Banyu berada tepat di belakangnya, memeluknya secara tiba-tiba hingga Jingga terhuyung ke belakang.


“Selamat ulang tahun Mama,” bisik Banyu.


Jingga tak dapat lagi menahan rasa harunya. Ia memukul punggung pria itu sambil menangis.


“Ini pasti kerjaan kamu,” omel wanita itu kesal.


Banyu terkekeh, semakin memeluk istrinya dengan erat. Membisikkan segala doa pada wanita yang ia cintai itu.


Air mata Jingga semakin membasahi pipi saat merasakan ketiga anaknya ikut memeluknya dari belakang. Hari ini Jingga terlalu sibuk, hingga lupa bahwa hari ini merupakan hari ulang tahunnya.


Perasaannya yang sempat kacau, karena ada salah seorang pasiennya yang meninggal dunia membuat Jingga mengkhawatirkan anak-anaknya yang belum pulang hingga malam. Membuat Jingga sedikit frustrasi dan berakhir emosi.


Bia berlari mengambil kue yang tadi ia letakkan di atas meja. Ia menyodorkan kue tersebut pada sang ibu, membuat Jingga menahan tawanya.


“Kok empat belas sih?” Di tengah keharuannya Jingga menahan tawanya. Menutup bibirnya dengan sebelah tangan, supaya tidak menyemburkan tawa.


“Biar Mama awet muda,” ucap Bia riang.


Jingga yang tahun ini berusia empat puluh satu tahun hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan anak-anak dan juga suaminya. Wanita itu lantas meniup lilin yang telah dinyalakan oleh Banyu. Mereka pun bertepuk tangan, bersorak gembira merayakan ulang tahun sang ibu meskipun sederhana.


Kelima orang itu beralih ke ruang tengah. Kue tart buatan Banyu dan ketiga anaknya itu berada di atas meja dan tengah dipotong oleh Jingga. Mereka duduk di atas karpet mengelilingi meja.


Melihat senyum keluarganya membuat Banyu merasa bahagia. Ia tidak menyangka istrinya sudah berusia sekian. Ia pun menghitung usianya sendiri yang ternyata sebentar lagi memasuki setengah abad.


Banyu benar-benar masih tak habis pikir bisa hidup bersama seseorang yang dulu tak ia kenal sama sekali. Wanita yang dulu hanya seorang anak kecil baginya kini sudah menjadi wanita dewasa. Tidak ada yang berubah dari Jingga selain rambutnya yang juga mulai beruban. Jingga masih sama, memiliki hati yang lembut, penyabar, dan juga manja di saat yang bersamaan.


Rasa cinta yang Banyu miliki untuk Jingga juga tak pernah berubah. Masih sama, bahkan semakin besar. Ia suka saat melihat Jingga dengan telaten melayani dirinya dan anaknya. Meski lelah, Jingga selalu bisa menyempatkan diri untuk bercanda ria bersama anak-anaknya. Wanita itu juga pintar membagi waktu antara kerja, anak, dan juga suaminya.


“Ayah!”

__ADS_1


Bia menyadarkan Banyu dari lamunannya. Pria paruh baya itu menaikkan kedua alisnya sembari menatap anak dan juga istrinya yang sama menatapnya.


“Apa?” tanya pria itu tak mengerti.


Jingga menyodorkan satu sendok kue pada pria itu, membuat Banyu tersenyum bahagia dan berakhir membuka mulutnya untuk melahap kue tersebut.


Setelah meletakkan sendoknya, Jingga kembali menatap sang suami sembari menyandarkan sikunya pada sofa.


“Apa sih?” tanya Banyu lagi keheranan.


“Kadonya mana?” Jingga menengadahkan kedua tangannya pada sang suami.


Banyu tertawa. Sisi manja wanita itu keluar lagi, bahkan di depan anak-anaknya.


“Bukannya kamu tadi marah?” tanya Banyu. Ia menutup bibirnya dengan kepalan tangan, menahan tawanya sendiri.


Jingga menepuk paha pria itu lembut. Bibirnya mengerucut, membuat anak-anaknya terkekeh.


“Sini-sini aku kasih kado.” Banyu merengkuh pinggang Jingga, mendaratkan bibirnya pada pipi wanita itu.


Mata Jingga melebar, ia menepuk paha suaminya sekali lagi dengan lebih keras.


“Ngasih mama kado juga, ah.” Bia berjalan mendekati Jingga lalu memeluknya erat dan mencium pipi wanita itu seperti ayahnya.


Caca dan Ata mengikuti Bia. Mereka juga memeluk tubuh Jingga dan mencium pipi wanita itu bersamaan.


“Ayah juga, dong,” pinta Banyu iri.


Anaknya tak ada yang merespons, membuat Banyu akhirnya memeluk dan mencium pipi anaknya satu persatu.


“Happy birthday, Mama,” ucap mereka bersamaan.


“I love you, Ayah, Caca, Ata, dan Bia.”


“I love you too, Mama,” balas mereka bersamaan, sembari mengeratkan dekapan mereka satu sama lain.


***


Hai, semua. Ini ekstra part terakhir dari kisah Banyu dan Jingga. Setelah ini aku bakal lanjut nulis season 2 di sini. Namun, yang aku tulis adalah kisah anak ke-2 Banyu dan Jingga. Bagi kalian yang mau baca aku persilakan untuk mengikuti kisah remaja satu ini. Bagi yang tidak berkenan aku juga tidak mempermasalahkan.


Terima kasih atas dukungan kalian semua.

__ADS_1


Salam cinta dari An Nisa❤


__ADS_2