You Are Mine

You Are Mine
Part 32


__ADS_3

Jingga memegangi dadanya yang berdebar hebat sembari menyandarkan diri pada pintu yang baru saja ia kunci. Pikirannya kosong hilang entah ke mana. Ia sama sekali tak menyangka Banyu akan menciumnya seperti itu.


Ciuman pertama Jingga, telah diambil oleh suaminya sendiri. Bolehkah ia bersyukur? bisa menjaga dirinya hingga seperti ini. Jingga meraba bibirnya, tak terasa ia mengulas senyum saat ingatannya kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu. Gadis itu segera kembali ke ranjangnya sebelum ia merasa benar-benar gila. Ia harus segera meninggalkan dunia dan berseluncur ke alam mimpi, atau ia tidak akan bisa berhenti tersenyum mengingat kejadian tadi.


Di depan teve, Banyu terduduk diam. Senyum puas tertarik dengan sempurna pada bibirnya. Ia mengingat kembali kenekatannya beberapa menit yang lalu. Tak disangka rasa bibir istrinya begitu manis seperti yang ia bayangkan beberapa hari ini.


Anggap saja Banyu gila dengan berpikir mesum seperti itu. Tapi, bukankah itu hal normal untuk para lelaki?. Terutama lelaki yang sudah menikah. Dulu saja saat ia masih berpacaran, ciuman adalah hal biasa. Jadi, tak ada salahnya juga kan ia mencium istrinya sendiri.


Banyu menggelengkan kepalanya guna menghilangnya bayangan istrinya. Ia tak akan bisa tidur jika istrinya masih memenuhi kepalanya. Setelah merebahkan tubuhnya kembali, Banyu berusaha menutup mata dan mengakhiri malamnya dengan beradu dalam mimpi.


Matahari menyapa penghuni bumi. Senyum merekah ia tuangkan hingga para awan terpesona dan ikut serta memasang senyuman.


Banyu dan yang lain mulai berlari menyusuri jalan menuju taman yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Peluh membasahi wajah dan tubuh mereka, tapi sama sekali tak mereka hiraukan.


Kondisi Deva sudah jauh lebih baik. Pria itu hanya butuh tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Ketakutannya terhadap film horor dan ruangan gelap memang sudah ia miliki sejak lama. Tapi, tidak sembarang orang ia beritahu tentang kelemahannya itu, termasuk Kikan. Deva tentu tidak ingin gadis yang ia cintai tahu akan kelemahannya. Ia ingin selalu terlihat hebat di depan gadis itu.


Tidak bisa dipungkiri memang, jika Deva telah mencintai Kikan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Itulah alasan kenapa Deva selalu ada disaat-saat terburuk Kikan dan selalu mendukung apapun yang Kikan lakukan. Meskipun terkadang terasa sakit, Deva selalu menyemangati Kikan untuk tetap menunggu Banyu. Ia selalu memberi motivasi agar Kikan tetap percaya pada pendiriannya.


Lima belas menit telah berlalu dan mereka telah sampai di taman. Suasana Minggu pagi tentu sangat ramai. Banyak anak-anak yang berlarian bersama teman maupun keluarganya. Penjual pun tak ingin kalah, mereka berlomba menjajakan dagangan mereka, berharap Minggu pagi ini menjadi hari keberuntungan mereka.

__ADS_1


Banyu dan Deva mulai mengambil posisi pada sepeda statis yang tersedia. Sedangkan Kikan dan Jingga lebih memilih untuk memutari taman terlebih dahulu.


Jingga dan Kikan terlihat sangat akrab, seperti kakak beradik yang saling menyayangi. Sembari mengayunkan kakinya mereka bercerita beberapa hal, seperti menceritakan film yang gagal mereka tonton semalam. Terkadang juga mereka tertawa saat Kikan menceritakan kejadian lucu di kafe.


Tiga kali putaran telah Jingga dan Kikan lalui. Sudah terlalu lelah untuk mereka dan mereka pun memutuskan untuk istirahat.


Jingga membuka jaket yang sedari tadi melapisi tubuhnya. Lekuk tubuhnya kini terpampang nyata, karena ia hanya menggunakan kaus tanpa lengan yang begitu ketat. Saking lelahnya gadis itu merebahkan tubuhnya di atas rumput taman. Ia mengibaskan handuk kecil yang ia bawa dari rumah di depan wajah dan sekitar lehernya. Keringat benar-benar membanjiri tubuh Jingga saat ini, menambah kadar kecantikan gadis itu.


Dari kejauhan Banyu bisa melihat istrinya. Ia mendengus kesal, karena banyak pria yang menatap tubuh istrinya. Banyu turun dari sepeda statis dan berjalan menuju tempat duduk istrinya.


Jingga yang tadinya menikmati udara segar terperanjat saat sesuatu menimpa tubuhnya. Ia membuka mata, melihat suaminya yang akan duduk di sampingnya. Ia berdecak sebal saat jaket yang ia lepas tadi bertengger di atas tubuhnya.


Banyu berdecak. "Kamu ngapain sih pakek baju kayak gitu? Biasanya pakai baju longgar juga," sungut Banyu kesal. Ia menatap sekeliling, banyak sekali remaja lelaki yang menatap istrinya.


"Ya kan kalau olahraga emang kayak gini bajunya, semua cewek di sini juga pakai baju kayak gini." Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal, karena lagi-lagi Banyu melemparkan jaket itu di atas tubuhnya.


Banyu sama sekali tak memedulikan kekesalan Jingga, hingga mereka terlihat berdebat hanya masalah pakaian.


Dari sebuah kios, Kikan memperhatikan sepasang suami-istri tersebut. Ia mengernyit heran melihat mereka berdua seperti sedang berdebat. Setelah mendapatkan minuman yang ia beli, Kikan menghampiri Banyu dan Jingga.

__ADS_1


"Kalian ngapain sih, kayak berantem gitu?" tanya Kikan sembari mendudukkan dirinya di samping Jingga.


"Mas Banyu nyebelin, Mbak. Aku kan gerah, masa dia nyuruh aku pakai jaket. Katanya ngapain pakai baju kek gini, padahalkan semuanya juga pakai kayak gini. Kalau baju aku yang kek gini muat, Mbak Kikan pasti juga pakai kayak aku juga." Jingga mengadu pada Kikan saking kesalnya dengan Banyu. Sedang yang mendapat aduan hanya bisa terdiam.


Kikan tahu maksud Banyu baik, tapi ia juga tak bisa menyalahkan Jingga yang ingin tampil seperti gadis lain.


Sebelum ia berkomentar, Deva datang dan berkata, "itu namanya Banyu perhatian sama kamu Jingga."


Pria itu duduk tepat di sebelah Jingga sembari merangkul bahunya. Dua orang disebelahnya sama-sama menautkan alis, menatap Deva tak suka.


"Perhatian itu nggak gitu, Kak. Perhatian itu ya ngipasin kek atau apa, bukan malah nyuruh aku pakai jaket, kan tambah gerah!" sungut Jingga dengan begitu kesal. Kenapa semua orang malah membela Banyu. Kikan yang juga perempuan pun diam tak membelanya. Apa karena ia bukan siapa-siapa diantara mereka, atau karena ia memiliki usia paling muda jadi kedua sahabat Banyu itu tak membelanya. Jingga menatap kesal pada ketiga orang itu.


"Dah lah, nggak ada yang ngertiin aku di sini ... " Jingga berdiri sembari membersihkan celananya. "Aku pulang aja, kalian lanjutin aja olahraganya, nggak usah sama aku." Jingga berjalan meninggalkan ketiga orang yang tengah terbengong dengan apa yang ia lakukan.


"Sabar, punya istri yang masih muda emang gitu. Masih labil, umurnya baru dua puluh. Kejar aja, minta maaf sama kasih pengertian," nasehat Deva pada Banyu.


Banyu pun mengangguk kemudian beranjak untuk mengejar istrinya yang sudah berjalan sedikit jauh dari tempatnya.


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2