You Are Mine

You Are Mine
YAM-22


__ADS_3

...Happy reading 🤗...


Berhubung hari ini libur, Lia menyempatkan dirinya untuk lari pagi di taman yang tak berada jauh dari rumahnya. Lia berhenti setelah menyelesaikan putarannya yang ke lima. Napasnya terengah. Ia menunduk dengan tangan yang bertumpu pada lutut.


Setelah napasnya mulai teratur, Lia berjalan menuju sebuah warung. Ia ingin membeli minum. Tenggorokannya terasa sangat kering.


"Ini berapa, Bu?" tanya Lia menujukan botol air mineral yang baru di ambilnya.


"5000, Neng."


Lia mengambil uang dari sakunya dan memberikannya pada Ibu itu. Setelah mendapatkan kembalian Lia mendudukan dirinya di kursi yang di depan warung itu. berada


Membuka tutup botolnya, Lia menengak air dari dalam botol hingga hanya tersisa setengah saja. Tak sengaja, mata Lia menangkap seorang anak kecil perempuan yang berjarak beberapa meter darinya. Baju yang di kenakannya tampak lusuh. Gadis kecil itu juga tampak memegangi perutnya.


Menutup kembali botolnya, Lia segera menghampiri anak kecil itu. Setelah berada di sisinya, Lia menunduk hingga sejajar dengan gadis kecil itu. "Dek, kenapa? Kesini nya sama siapa tadi?"


Gadis itu hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lia dengan gelengan pelan.


"Orang tua kamu di mana?" tanya Lia lagi.


Gadis itu menujuk ke arah seorang Ibu yang tengah duduk. "Itu Mama kamu?"


Gadis itu kembali menggeleng yang membuat Lia mengernyitkan dahinya bingung. Arah yang di tunjuk anak kecil itu hanya ada ibu itu dan seorang pria yang sedang duduk di sampingnya. Tak ingin ambil pusing, Lia kembali bertanya. "Kamu tadi kesini sendiri?" tanya Lia yang di balas anggukan kecil.


"Kamu laper ya?"


Gadis itu mengangguk. "Yuk, kita cari makan." ajak Lia tersenyum manis. Lia mengandeng tangan gadis kecil itu dan mengajaknya menuju penjual bubur. Namun gadis itu tak bergerak sedikit pun. Hanya diam dan menunduk.


"Kenapa?" tanya Lia heran yang di balas gelengan oleh gadis itu.


"Gak mau? Katanya laper?"


Gadis itu melepaskan gandengan tangannya. Kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ketika gadis itu menujukkan sesuatu yang baru saja di ambilnya Lia kembali tersenyum. Ia mengerti maksud gadis kecil itu.



Menuntup tangan gadis itu yang terdapat beberapa uang koin, Lia menunduk dan menyentuh kepala gadis itu. "Kamu simpen aja uangnya. Kakak traktir kamu. Ayo. Mau kan?" ucap Lia yang di balas senyuman lebar. Mata gadis kecil itu tampak berbinar. Dengan semangat ia menganggukkan kepalanya.


Lia segera membawa gadis kecil itu ke penjualan bubur. Saat akan memesan gadis kecil itu menarik tangan Lia dan menuliskan sesuatu di atas telapak tangannya.


Ah, sepertinya gadis kecil ini memiliki keterbatasan berbicara. Pantas saja tadi hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan kepala saja.


Boleh di bungkus aja nggk kak?


"Boleh kok. Emangnya kenapa kok minta di bungkus?"


Gadis kecil itu kembali menulis di telapak tangan Lia.


Mau aku makan smaa Mama dan Adik.


Lia mengangguk mengerti. Ia mengusap-usap kepala gadis itu pelan. "Bentar, ya."


Lia segera memesankan tiga bubur untuk gadis kecil itu. Sembari menunggu Lia meminta gadis itu untuk duduk di kursi.


"Oh, ya. Nama kamu siapa?"

__ADS_1


Gadis kecil itu menuliskan namanya di telapak tangan Lia.


Vanya.


"Vanya umur berapa?"


8


"Vanya sekolah di mana?" Vanya menggeleng.


"Enggak sekolah? Kenapa kok gak sekolah?"


Mama gak punya uang kak.


Raut wajah Lia tampak berubah. Tangannya terulur mengelus kepala Vanya. Merasa iba dengan gadis kecil itu. "Terus kalau Vanya gak sekolah Vanya belajar nulis dari siapa?"


Mama.


"Vanya tinggal sama Mama dan adik aja?" Vanya mengangguk sebagai jawaban.


"Papa Vanya di mana?" Raut wajah Vanya seketika berubah. Dengan pelan ia menggeleng.


Papa pergi, gak tau kemana


Menyadari jika dirinya salah berbicara Lia segera mengalihkannya. "Eh, hmm kalau adik Vanya namanya siapa?"


Leo.


"Maaf, Neng. Ini pesanannya sudah jadi." ucap bapak penjualan bubur seraya memberikan pesanan Lia.


"Semuanya jadi 30ribu, Neng."


Lia segera mengambil uang pas dari sakunya dan memberikannya pada bapak itu. "Ini uangnya. Makasih ya, Pak." ucap Lia. Setelahnya ia membawa Vanya menuju motornya.


"Bentar, ya." Lia mengambil dompetnya yang ia simpan di jok motor. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Setelah itu ia menyejajarkan dirinya dengan Vanya.


"Ini buat kamu makan sama Mama dan adik kamu ya." Lia memeberikan kantung kresek berisi bubur pada Vanya. Ia juga memberikan beberapa uang yang baru saja diambilnya. "Dan ini dari kakak buat kamu, adik dan Mama kamu. Di simpan ya..."


Vanya langsung memeluk Lia erat. Mengutarakan rasa terima kasihnya.


Lia mengelus kepala Vanya. Tanpa sadar air matanya menetes. Mengurangi pelukannya, Lia menatap wajah Vanya yang kini sudah di basahi air mata.


"Jangan nangis ya. Sekarang kamu pulang. Kasih makanan ini sama Mama dan adik kamu."


Vanya mengangguk dan langsung lari meninggalkan Lia. Dan tanpa Asha sadari, ternyata ada yang melihat semuanya. Pria itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Lo emmg gak salah pilih ..."


...****...


Lia baru saja tiba di rumah. Ia langsung mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Merasa sangat lelah sekali.


"Tadi ada kiriman kue buat kamu." ucap Citra yang baru saja datang dan duduk di sofa single.


Mendengar itu membuat Lia mengernyitkan dahinya. "Kue?"


"Iya, Mama taruh di dapur kuenya."

__ADS_1


Lia menghembuskan nafasnya. Itu pasti dari si secret admirer nya itu.


"Mandi sana. Bau asem kamu."


"Nanti dulu. Masih keringatan ini. Capek banget." Lia menyandarkan badannya pada sandaran sofa. Membuka ponselnya, Lia melihat notifikasi yang masuk. Dahinya kembali mengernyit saat melihat ada chat masuk dari Kevin. Pria itu juga sempat menelponnya.


FROM KEVIN


Li kuenya jangan di makan


Itu bahaya Kasih tau keluarga lo juga, jangan makan kuenya


TO KEVIN


Bahaya kenapa?


Itu dari lo?


Tak lama setelahnya, ia langsung mendapat balasan dari Cello.


FROM KEVIN


Bukan, pokoknya jangan di makan kuenya Buang aja


Ada racunnya di kue itu, Li


Mata Lia melotot setelah membaca pesan terakhir yang di kirimkan Kevin. Racun? Dengan cepat ia menatap sang Mama. "Mah, tadi kuenya udah ada yang makan?"


"Belum, Mama taruh di meja tadi. Kenapa? Muka kamu keliatan panik banget."


Tanpa menjawabnya Lia segera berlari menuju dapur. Melihat Ivan yang akan memakan kuenya Lia segera mencegahnya. Ia menahan tangan Ivan agar kue itu tak masuk ke dalam mulutnya. Setelahnya ia langsung merebut kuenya dan membuang semua kuenya ke tempat sampah.


"Huaaa.... Kak San jahat. Kuenya di buang." Ivan menangis kencang. Membuat Mamanya datang menghampiri keduanya.


"Kenapa ini?"


"Hiks... Kak San... Hiks... Buang kuenya... Hiks..."


"Kamu buang kuenya? Kenapa?" Citra menatap Lia penuh tanya.


Lia bingung. Jika ia bilang jujur, maka Mamanya pasti akan panik dan takut. "Eng, itu. Udah gak bisa di makan kuenya. Jadi aku buang. Temen aku baru aja ngabarin aku." Ia tak sepenuhnya berbohong bukan? Kue itu memang tidak bisa di makan lagi karena ada racunnya.


Lia beralih menatap sang adik. "Kamu tadi belum makan 'kan?" tanya Lia yang di jawab gelengan oleh Ivan. Ivan memeluk Citra erat. "Kak San jahat..."


"Nanti minta Papa beliin. Gak usah nangis." ucap Citra menenangkan anaknya. Citra mengendong Ivan dan membawanya pergi dari sana.


Lia menghembuskan nafasnya lega. Beruntung ia tadi datang tepat waktu. Jika ia terlambat sedikit saja, maka nyawa adiknya akan terancam. Ck, kenapa akhir-akhir ini dirinya selalu mendapati hal-hal yang mengancam nyawanya seperti ini sih? Sebenarnya apa yang terjadi? Ia yakin jika semua ini pasti ada hubungannya dengan Brian dan Kevin. Kevin bahkan mengetahui jika kue itu ada racunnya. Mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati.



ᴊᴀɴɢᴀɴ ʟᴜᴘᴀ ᴠᴏᴛᴇ,ʟɪᴋᴇ ᴀɴᴅ ᴋᴏᴍᴇɴ ɴʏᴀ....


ᴛᴇʀɪᴍᴀ ᴋᴀꜱɪʜ....


ꜱᴇᴇ ʏᴏᴜ ɴᴇxᴛ ᴘᴀʀᴛ....

__ADS_1


__ADS_2