You Are Mine

You Are Mine
Part 53


__ADS_3

Seperti kesepakatan mereka kemarin, hari ini Banyu dan Jingga menghabiskan waktu bersama meskipun hanya di apartemen.


Banyu tidak berangkat ke kafe dan memercayakan kafe pada seluruh pegawainya, karena Kikan sendiri juga sedang mengambil cuti. Jingga juga tengah mengabaikan seluruh tugas kuliahnya untuk bersantai bersama suaminya. Sesuatu yang sama-sama belum pernah mereka lakukan.


Cerahnya pagi ini menemani Banyu dan Jingga yang tengah memasak bersama. Membuat sup ayam dan perkedel kentang untuk sarapan mereka kali ini.


Banyu mengajari istrinya membuat makanan tersebut. Ia menyuruh sang istri untuk mengupas kentang. Hal yang menurutnya sangat mudah, ternyata terasa sangat sulit untuk ukuran istrinya yang tak pernah melakukan pekerjaan dapur. Dengan telaten, ia mengajari gadis itu. Hingga kentang ke-lima, barulah Jingga bisa mengupas kentang dengan baik. Setelah selesai Banyu menginstruksi Jingga untuk merebus kentang tersebut dan seterusnya.


Dapur kali ini diisi dengan tawa mereka berdua. Hal sederhana seperti ini menjadi list kebahagiaan mereka yang baru.


Bukan Banyu namanya jika tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Sesekali Banyu menggoda Jingga dengan mencium pipinya dan mendapat sorot mata tajam dari gadis itu. Bukannya takut, Banyu malah semakin gencar untuk menggoda istri cantiknya itu. Bahkan ia dengan berani mencium bibir istrinya di tengah kegiatannya memotong sayuran. Dan Jingga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya itu.


Satu jam lebih berlalu. Drama masak pagi ini selesai seiring mengepulnya asap dari sup yang tengah Banyu aduk di atas kompor.


Jingga mengambil piring dan peralatan lain. Meletakkannya ke atas meja. Setelah itu membantu suaminya membawa sup dan juga perkedel yang sudah ia goreng tadi.


Dengan bantuan Banyu, Jingga dapat menyelesaikan perkedel kentang pertamanya. Ada sedikit rasa bangga yang menyeruak ke dalam hatinya. Bisa membuat sesuatu meskipun hanya sederhana tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jingga yang tak pernah memegang alat dapur.


Mereka makan dengan keheningan. Rasa lapar membuat Jingga hanya fokus pada makanannya saja. Sejak semalam belum ada sesendok nasi yang masuk ke dalam perutnya. Hanya seporsi burger saja yang ia telan saat masih di kafe Banyu. Karena setelah sampai apartemen, mereka tidak makan melainkan mencari kepuasan dalam diri mereka masing-masing hingga larut malam. Ditambah tadi pagi, membuat perut Jingga terasa begitu perih saat masak tadi.


Mereka selesai dengan sarapan sederhana itu. Lalu, mereka beranjak membersihkan meja makan, mencuci piring, setelah itu bersantai dengan menonton film.


Jingga menyandarkan punggungnya pada tubuh Banyu. Ia memperhatikan film yang tengah tayang dengan saksama. Tak jarang ia merasakan kepalanya dicium oleh sang suami membuatnya semakin nyaman.


"Mas, udah lama deh kita nggak ngunjungin Icha," ucap Jingga dengan kepala mendongak untuk menatap suaminya.

__ADS_1


"Iya, ya. Mau ke sana?" tawar Banyu.


Jingga mengangguk antusias. "Gimana kalau Icha kita ajak jalan-jalan sekalian nginep?" tanya Jingga. "Kita kan pernah janji ngajak dia nginep sama kita," ujarnya mengingatkan Banyu saat ulang tahun Sheila beberapa waktu yang lalu.


"Nginep?" Banyu tampak menimang-nimang usulan istrinya. Ia mau saja sebenarnya, tapi itu artinya mereka tidak bisa mesra-mesraan nanti malam. "Kenapa harus nginep segala sih?" tanyanya sangsi.


"Ya sekali-kali, Mas, bikin Icha seneng." Jingga menatap mata suaminya lagi. Ia mendengar helaan napas berat dari suaminya. "Kenapa sih kamu kayaknya nggak rela gitu Icha nginep sama kita?" tanyanya penasaran.


"Kalau Icha nginep entar kita nggak bisa mesra-mesraan dong," ucapnya lugas, tak menutup-nutupi isi hatinya.


"Astaga, Mas! kamu ini. Pikirannya kenapa ke sana terus sih." Jingga menggelengkan kepala tak percaya. Bisa-bisanya Banyu memikirkan hal itu saat ini.


"Ya namanya juga baru ngrasain yang namanya tidur enak... Aww, apaan sih, Sayang. Main cubit-cubit aja." Banyu menggosok pinggangnya yang terasa sangat panas, akibat cubitan dari sang istri.


"Makanya kalau ngomong tu yang bener," sarkas Jingga. "Pokoknya aku nggak mau tahu, hari ini aku mau Icha nginep di sini." Nada tak ingin terbantah tentu terdengar sempurna di telinga Banyu.


"Ok, aku setuju."


Jingga kembali mendongak dengan senyuman yang begitu lebar. "Nah gitu dong, kan jadi makin sayang," ucapnya diselingi dengan kekehan yang begitu menggemaskan.


"Tapi ada syaratnya."


Alis Jingga bertaut. Melihat seringai dari suaminya, sepertinya ia harus sedikit waspada.


Dan benar saja, setelah ia bertanya apa, pria itu langsung menindihnya di atas sofa. Dan mereka melakukan hal itu lagi dengan disaksikan televisi yang masih menyala. Menyaksikan sepasang manusia yang tengah mabuk asmara dan mencoba mencapai surga dunia.

__ADS_1


***


Waktu sudah beranjak sore saat Jingga dan Banyu membawa Icha ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Senyum merekah Icha menjadi penyemangat tersendiri untuk Jingga dan Banyu.


Dengan langkah semangat Icha menarik Banyu dan juga Jingga menuju game zone. Dengan senang hati kedua orang tua angkat Icha itu menurutinya. Mereka mencoba satu persatu permainan yang ada. Hingga setelah satu jam, mereka memutuskan untuk beristirahat karena sudah sangat lelah.


Banyu membawa mereka bertiga duduk di kedai es krim. Icha terlihat begitu senang saat memakan es krim coklat kesukaannya.


"Yah, kemarin Icha dapet hadiah sepeda loh," ucap gadis kecil itu.


Jingga mengusap sekitar bibir Icha, karena gadis itu makan sangat berantakan. "Bunda ngasih Icha sepeda?" tanyanya. Jingga dan Banyu sama-sama mengernyit saat Icha menjawab dengan gelengan kepala.


"Terus, siapa yang ngasih?" Kali ini Banyu yang bertanya.


"Kakak perempuan, Yah. Cantik orangnya. Sering juga kok ngasih Icha sama kakak yang lain jajan. Tapi kakak itu lebih sering nyariin Icha," ujar Icha dengan penuh kepolosan.


"Orangnya kayak gimana, Cha? kamu ingat?" tanya Banyu penasaran.


"Yang Icha tahu, kakak itu tinggi, matanya cantik banget, kayak matanya mama. Rambutnya item lurus. Selain itu aku nggak tahu, soalnya kalau dateng selalu pakai masker."


Penjelasan gadis itu semakin membuat Banyu dan Jingga terheran. Sebelumnya Banyu berpikir, mungkin secara diam-diam Kikan mengunjungi Icha. Karena beberapa kali Banyu juga mengajak Kikan dan Deva ke panti jika mereka hendak menyumbang secara material. Tapi mendengar penjelasan gadis itu, Banyu sangat yakin bukan Kikan lah yang Icha maksud.


Sesaat Banyu dan Jingga terdiam. Mereka sama-sama memikirkan siapa wanita yang secara tidak langsung juga memperlakukan Icha lebih spesial dari yang lain. Hingga satu orang yang mereka pikirkan tanpa tahu siapa namanya terbesit begitu saja.


Ibunya?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2