
"Lo kenapa, Ji? Kucel banget" tanya Riana heran.
"Tahu ni anak, dari kemarin mukanya nggak enak dilihat." Keyra menarik satu kursi dan duduk di samping ranjang rumah sakit.
Di sana Riana tengah berbaring lemah dengan wajah pucat.
Jingga mengikuti Keyra dengan duduk di sisi ranjang Riana. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gimana keadaan lo?" tanya Jingga berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Riana memutar bola matanya malas. "Gue baik. Dan akan semakin baik kalau lo nggak ngalihin pembicaraan."
Meskipun Riana bukan orang yang bisa diajak serius, dia akan berubah serius jika sudah menyangkut masalah sahabatnya, terutama Jingga. Dari sekian tahun mereka bersahabat, sepertinya hanya Jingga yang sering terlihat murung seperti ini. Ia bahkan sampai hafal suasana hati gadis itu meskipun ditutupi dengan senyum manisnya.
Jingga menghela napasnya. Memang percuma menyembunyikan masalah dari kedua sahabatnya ini, terutama Riana.
"Gue takut,"
Kening keyra terlipat. Kemudian ia bertanya, "takut kenapa?"
Sekali lagi Jingga membuang napasnya. Mengingat dua hari belakangan ini membuat hatinya semakin ketakutan.
Jingga menceritakan kejadian di panti asuhan, tentang sikap ibu dan kedekatan Celin dengan suaminya. Ditambah selama dua hari kemarin, gadis cantik mantan kekasih suaminya itu datang ke kafe dan mengobrol dengan Banyu. Apalagi ia melihat sorot mata Celin. Terlihat jelas bahwa gadis itu masih sangat mencintai suaminya. Menambah kegundahan hati Jingga.
Meskipun Banyu selalu bersikap manis dan membisikkan kata cinta setiap ia sudah terlelap. Tapi rasa takut akan ditinggalkan tetap saja menderanya.
Bukankah Celin gadis sempurna? Pria dewasa seperti Banyu pasti jauh lebih tertarik dengan mantan kekasihnya daripada Jingga yang hanya seorang gadis kecil manja yang tak tahu apa-apa.
Huh
Jingga menghela napasnya, kemudian mengembuskannya pelan. Berharap setiap rasa tak menentu dalam hatinya ikut terbuang.
"Terus sikap suami lo gimana?" tanya Riana setelah Jingga selesai bercerita.
Jingga menatap kosong ke arah depan, menerawang kegiatannya setiap hari.
"Kalau dia ya tetap aja, setiap bangun tidur pasti nyium gue, masakin gue, nganterin ke kampus. Ya pokoknya setiap hari kek gitu."
Keyra menautkan alisnya, kemudian bersuara. "Suami lo masih perhatian kan sama lo?" tanya Keyra dan diangguki oleh Jingga.
"Terus yang lo takutin apa?" tanya Keyra dan Riana serempak.
"Gue takut dia balikan sama mantannya. Secara kalau dibandingin sama dia gue nggak ada apa-apanya sama sekali." Lirih Jingga berucap. Ia menundukkan kepalanya, merasa malu dengan perasannya sendiri.
Terlalu sering mendapatkan perhatian manis dari Banyu sepertinya membuat hati Jingga luluh. Apalagi setelah beberapa kali bertemu dengan Celin, membuat Jingga sadar. Ia mulai menyukai suaminya. Jingga takut kehilangan Banyu. Ia takut Celin merebut hati suaminya kembali.
"Selagi kalian tetap harmonis tante yakin hubungan kalian akan tetap baik-baik saja," ucap seorang wanita paruh baya dari pintu masuk.
Ketiga gadis itu menoleh. Senyum Riana terkembang begitu saja melihat ibunya datang.
Wanita itu berjalan mendekat. Ia memeluk Jingga dari samping. Mengecup pelipisnya sebentar, kemudian beralih memeluk Keyra dan melakukan hal yang sama. Kemudian terakhir memeluk putri keduanya, Riana. Menciumi pipi kanan kiri dan seluruh wajah gadis itu.
"Tante sudah dengar semuanya, Jingga." Wanita itu mengangkat dagu sahabat putrinya yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Sebelumnya tante ucapin selamat untuk pernikahan kamu. Ya walaupun udah telat banget." Wanita itu tertawa pelan.
"Makasih, Tan," jawab Jingga dengan seulas senyum manisnya.
"Oh ya. Tadi tante dengar semua cerita kamu." Wanita itu duduk di samping Jingga. Membawa gadis itu untuk menatapnya.
"Kamu tidak perlu takut dengan masa lalu suami kamu. Asalkan kamu percaya sama suami kamu, tante yakin hubungan kalian akan harmonis. Katakan semua yang mengganjal dalam hati kamu. Tetap layani dia kapanpun waktunya. Pagi, siang, sore, malam. Tapi tetap lakukan sebisa kamu." Jingga mengangguk mendengar nasehat ibu sahabatnya. Wanita itu memang sangat ramah dan anggun. Jingga bahkan selalu membayangkan ibu sahabatnya ini menjadi ibunya.
"Oh iya satu lagi. Jangan lupa untuk selalu berhubungan, karena hal itu akan menambah keharmonisan kalian berdua." Wanita itu menambahkan senyum manis diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Kalau itu kita tetap kok, Tan. Suami aku selalu ngehubungin aku kalau pulang telat. Bahkan kalau dia lagi sibuk tetep nyempetin buat hubungin aku."
"Ih, bukan itu maksud tante." Wanita itu memukul pelan paha Jingga.
Jingga menautkan alisnya. "Terus, kalau bukan itu apa?"
"Kamu udah nikah kok masih nggak paham sih maksud tante."
"Dia belum buka segel, Ma." Sahut Riana mendapatkan pelototan dari Jingga.
Mata wanita paruh baya itu membola. "Jadi kamu masih virgin? Kok bisa?"
Jingga menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sayang, berhubungan suami istri itu penting. Kamu nggak mau kan suami kamu berpaling dan mencari kepuasan dari wanita lain, karena kamu nggak ngasih dia kepuasan di rumah?"
Jingga menggeleng cepat. Tidak ia tidak rela kehilangan Banyu. Satu-satunya pria yang membuatnya nyaman setelah papa dan mediang kakaknya.
"Tanpa tante kasih tahu lagi kamu tahu kan harus apa?"
Jingga mengangguk. Tiba-tiba ia memeluk ibu sahabatnya. "Makasih ya, Tan, nasehatnya."
Wanita itu tersenyum, mengusap kepala Jingga dengan lembut. "Sama-sama, Sayang. Kamu kan anak tante juga. Sudah kewajiban tante nasehatin kamu."
Jingga kembali tersenyum di dalam dekapan wanita itu. Perasaan nyaman dan tenang merasuk ke dalam hatinya.
Satu jam berlalu
Jingga dan Keyra berpamitan untuk pulang, karena waktu sudah sangat sore. Mereka mendoakan Riana cepat pulang ke rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Langkah kaki kedua gadis itu menyusuri lorong rumah sakit. Saat hampir sampai di tempat parkir Keyra menghentikan langkah Jingga.
"Lo udah dijemput belum?" tanya Keyra, mendapatkan gelengan dari Jingga.
"Gue juga belum chat suami gue. Kenapa?"
Jingga mengangguk. Kemudian duduk di kursi yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri setelah Keyra berlari ke arah toilet.
Bosan Jingga menunggu Keyra yang tak kunjung tiba, Jingga memainkan gawainya. Ia menghubungi Banyu untuk menjemputnya sekarang. Jarak yang lumayan jauh tentu akan memakan waktu cukup banyak untuk menunggu pria itu.
Saat Jingga asik berseluncur ke dunia maya. Tiba-tiba ada seseorang berdiri di hadapannya. Ia mendongak, menatap orang itu terkejut.
"Ngapain, lo?" tanya Jingga ketus.
Seseorang itu hanya tersenyum, kemudian duduk di sebelah mantan kekasihnya.
"Aku mau ngomong bentar sama kamu." Ia mencekal pergelangan tangan Jingga saat gadis itu beranjak berdiri. "Please, kasih aku kesempatan untuk minta maaf sama kamu, Jingga."
"Aku tahu perbuatan aku kemarin berlebihan. Aku minta maaf!" Tatapan sendu pria itu meluluhkan hati Jingga untuk kembali duduk.
"Aku tahu kamu kecewa berat sama aku. Aku juga tahu, sekarang aku udah nggak bisa dapetin kamu. Tapi please, jangan musuhin aku, jangan benci aku." Lanjutnya. Namun, Jingga masih tetap diam tak merespon, bahkan tak menatapnya.
"Izinin aku untuk jadi teman kamu."
Ucapan pria itu membawa kepala Jingga untuk menoleh.
"Aku tidak ingin apapun lagi selain menjadi temanmu. Aku janji, akan menjaga batasanku." Imbuhnya.
"Kevin,"
"Ya!" Jawab Kevin dengan mata berbinar.
"Aku ... "
__ADS_1
Srett
Ucapan Jingga terhenti saat seseorang menarik tangannya. Membuatnya berdiri seketika dengan perasaan terkejut.
"Mas,"
"Jangan pernah lagi lo deketin istri gue kalau lo cuma mau nyakitin dia." Banyu menatap nyalang Kevin. Ia mengacungkan telunjuknya pada pria itu karena marah. Tanpa meminta penjelasan, Banyu menyeret istrinya untuk keluar dari sana. Membawanya pulang dengan segala amarah yang ada.
Banyu baru saja tiba setelah istrinya menghubungi untuk menjemputnya di rumah sakit. Ia pikir istrinya masih di dalam ruangan, sehingga ia memarkirkan motornya di parkiran. Saat Banyu baru melepaskan helmnya, ia melihat seorang gadis dan pria duduk saling berhadapan. Ia sangat mengenali gadis itu, dia adalah istrinya. Rahangnya seketika mengeras melihat pria yang duduk bersama Jingga. Kevin.
Banyu menyeret istrinya sedikit kasar setelah keluar dari lift. Ia membuka pintu apartemennya dengan tergesa. Menutupnya cepat, kemudian mendorong istrinya ke dinding, menciumnya secara brutal. Melampiaskan segala kecemburuan yang tengah menggelapkan akal sehatnya.
Jingga mendorong paksa tubuh Banyu. Suaminya terlalu kasar. Ia tidak merasakan sebuah ciuman lembut seperti biasa. Pria itu seperti monster dan menyerangnya.
Napas mereka berdua sama-sama terengah. Emosi keduanya menguasai seisi apartemen.
"Sudah aku katakan padamu. Aku tidak suka melihatmu bersama pria lain, apalagi cowok brengsek itu."
Jingga menatap tak percaya pada suaminya. Nada suara tinggi itu begitu mengusik gendang telinga dan otaknya.
"Mas, dengerin penjelasan aku dulu."
"Penjelasan apa? Kalau kamu suka dia nyamperin kamu, kalau kamu masih cinta sama dia? Jingga, aku tahu kamu masih cinta sama mantan kamu itu. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya ketemu sama dia dibelakang aku." Banyu mengatur napasnya yang semakin berantakan sebelum kembali berucap.
"Hargai aku sebagi suami kamu Jingga. Aku cemburu lihat kamu sama cowok lain." Lanjutnya lirih.
"Aku nggak sengaja ketemu sama Kevin, Mas. Dia cuma mau minta maaf sama aku. Apa salahnya?" Entah didengarkan atau tidak. Jingga tetap berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu nggak perlu cemburu sama Kevin, dia nggak ada apa-apanya dibandingin kamu."
"Dia punya cinta kamu, Jingga." Sahut Banyu datar.
"Aku udah pernah bilang sama kamu, aku mulai buka hati untuk kamu."
"..."
"Seharusnya aku yang takut dan marah saat lihat kamu sama Mbak Celin, Mas," ucapnya lagi.
"Apa kamu tahu gimana sakitnya aku waktu ibu dengan terang-terangan mengatakan senang melihat kamu sama Mbak Celin lagi. Hati aku sakit, Mas. Aku juga cemburu. Tapi aku tetep diem, karena aku sadar, Mbak Celin jauh lebih baik dari aku." Jingga mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi.
"Selama beberapa hari ini aku selalu mikirin kamu. Aku takut kamu jatuh cinta lagi sama dia. Aku takut kehilangan kamu... "
"Jika kamu cemburu pada Kevin, aku jauh lebih dari kata cemburu."
Banyu merasa bersalah mendengar apa yang Jingga katakan. Ia tahu ia berlebihan. Tapi Banyu juga tak dapat memendam lagi kecemburuannya. Emosinya mengalahkan setiap logika yang ia miliki.
"Kevin tidak ada apa-apanya dari kamu. Kamu jauh lebih baik dari dia. Tapi aku? Apa kelebihanku jika dibandingkan dengan Mbak Celin. Mantan kamu itu sempurna, bukan sepertiku yang tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan."
"Kamu pria dewasa, kamu pasti lebih membutuhkan sosok seperti Mbak Celin, bukan sepertiku." Jingga mengungkapkan apa yang sejak kemarin mengganjal pada hatinya. Ia tidak peduli apa respon suaminya. Seperti yang ibu Riana katakan, Jingga harus mengatakan segala kegelisahan hatinya pada Banyu.
"Aku takut kamu bosan denganku dan kembali pada Mbak Celin yang pasti masih menunggumu."
Isakan tangis Jingga mencairkan emosi Banyu. Perlahan ia mendekat, merengkuh tubuh mungil gadis itu dengan sayang. Ia merasa lega, istrinya ikut memeluk punggungnya erat.
"Kamu satu-satunya keluarga yang selalu bersikap baik setelah papa dan mediang kakakku. Ku mohon untuk memercayai aku, dan tetap bersamaku. Ingatkan aku jika aku salah, tapi jangan membentakku. Aku takut," tutur Jingga sambil lebih mengeratkan lagi dekapannya.
Perasaan bersalah semakin menggerogoti pikiran Banyu. Ia meminta maaf sembari mengecupi kepala istrinya berkali-kali.
................
Ada yang nungguin aku nggak nih?🤠Ehehehe. ke-PD an banget aku😌
Maaf ya baru muncul. Tugas aku lagi banyak banget, jadi nggak bisa konsen buat nulis. Nanti kalau udah agak senggang pasti rutin lagi kok.
__ADS_1
"Kapan senggangnya, Kak?"
Kalau itu nggak tahu😂 jadi aku harap kalian masih setia menunggu cerita aku yang nggak jelas ini wkwk. Dan jangan lupa like komennya. See you next part