
Langit biru nan luas terselimuti kapas, membangkitkan semangat para makhluk bernapas.
Surya membara menggetarkan para jiwa. Mentari berlari memasuki celah kaca dan jendela layaknya pencuri.
Netra Banyu mengerjap kala kulitnya merasakan sentuhan basah pada seluruh bagian sisi wajahnya.
Semburat cahaya mulai menyelinap. Mendobrak masuk ke dalam retina matanya. Sekelebat bayangan gadis berusia satu tahun tertangkap indra penglihatannya.
Bibir Banyu mengembang. Ia hendak meraih bocah itu dengan mata tertutup. Namun, gagal saat merasakan seorang anak laki-laki duduk di atas tubuhnya.
"Ayah, bangunnn!" teriak bocah itu sambil menepuk perut Banyu beberapa kali.
"Ayah, bangunnn!" teriaknya lagi, membuat Banyu benar-benar membuka matanya.
Dengan sengaja Banyu menggulingkan tubuhnya. Sehingga anak laki-lakinya terjatuh ke atas tempat tidur. Ia meraih bocah itu bersama putrinya yang berusia satu tahun tadi. Memeluk mereka dengan erat, sampai-sampai si bocah laki-laki tadi meronta-meronta, minta dilepaskan.
"Ayahhh"
"Hahaha"
Keduanya menanggapi kelakuan sang ayah dengan berbeda.
"Ayahhh, Ata nggak bisa napas," ujar bocah itu. Kemudian menggigit tangan ayahnya.
"Aaww ... sakit, Kak," keluh Banyu seraya menegakkan dirinya.
"Biarin, wlekkk"
"Ha-ha-ha," Si kecil masih terus tertawa sambil bertepuk tangan, tanpa tahu seperti apa kondisi sebenarnya.
"Awas kamu, ya ..." Banyu menangkap tubuh putranya. Menggulingkannya ke tempat tidur kembali, hingga bocah itu kembali berteriak-teriak.
"Astagaaa, Ayahhh!"
Suara bocah usia lima tahun ikut menggema di kamar tersebut. Banyu sontak menoleh, namun ia masih terus mendekap putranya.
"Kak Caca tolongin, Ata!" pinta bocah itu.
Gadis kecil bernama Caca itu hanya menggeleng. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kedua adiknya dan sang ayah.
"KAKAK!" teriak bocah bernama Ata itu lagi melihat sang kakak pergi begitu saja.
"Ampunnn, Yahhh! Ampuuunnn"
Banyu baru melepaskan putranya itu, saat bocah itu tiba-tiba terisak.
__ADS_1
"Ayah, JAHAT!" teriak bocah itu tepat di depan Banyu.
Dia turun dari atas tempat tidur dan melangkah ke luar sembari mengucek matanya.
"Mama!" teriaknya memanggil sang ibu.
Banyu melotot. Ia hendak mengikuti anak laki-lakinya itu. Namun, saat berada di ambang pintu, Banyu kembali masuk dan menggendong putrinya yang masih berada di sana.
"Ya ... ya ... ya ..." gumam bocah itu saat Banyu berlari.
Bocah berusia satu tahun itu tertawa terbahak-bahak. Ia mengulurkan tangannya saat netranya menangkap bayangan sang ibu.
Di dalam dapur, Jingga berkacak pinggang menatap suaminya. Tatapannya benar-benar bisa menghujam siapa pun yang ada di sana. Di sampingnya, ada sang putra dan putri pertamanya.
"Morning, Mama," sapa Banyu mencoba mendinginkan suasana yang tampaknya sudah memanas. Ia bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri melihat bagaimana tatapan mata Jingga.
"Eh, ada Kak Ata sama Kak Caca, Dek," ucap Banyu pada putri ke-tiganya.
Lagi-lagi bocah itu hanya menanggapi ucapan Banyu dengan suara tawanya yang begitu lucu.
"Lihat, Dek. Mama cantik banget sih pagi ini," ujarnya lagi mencoba merayu.
Si kecil Ata masih mengusap matanya. Ia masih sesenggukan sembari memeluk kaki sang ibu.
"Ma, ayah jahat," adu bocah itu.
"Ayah!" panggil Jingga membuat Banyu meringis bersalah. Ia pun menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan putranya, Ata.
"Iya, deh. Ayah minta maaf bercandanya keterlaluan. Kamu juga sih, tadi gigit tangan Ayah." Banyu mengangkat lengannya yang tadi digigit oleh Ata.
"Oh, jadi tadi Ata juga gigit lengan Ayah?" tanya Jingga dengan suara melunak.
Bocah berusia tiga tahun itu menggigit bibir bawahnya. Ia tak lagi berani menatap mata ibunya.
"Cakra Langit Biru"
Bocah itu mengangguk begitu saja saat sang ibu memanggilnya dengan nama lengkap.
"Minta maaf juga ke Ayah!" perintah Jingga.
Bocah itu mencebik. Lantas mengulurkan tangannya pada sang ayah.
"Ata minta maaf, Ayah," ucapnya terdengar setengah hati.
Dengan senang hati Banyu menerima tangan putranya, untuk kemudian berkata, "Tentu saja ayah maafkan!" Pria itu tersenyum jemawa kepada putranya. Membuat bocah itu mendengkus.
__ADS_1
Banyu terkekeh menatap anak keduanya itu. Namun, tak lama kemudian ia mengatupkan kedua bibirnya, karena mata sang istri sudah kembali menatapnya tajam.
Jingga hanya bisa menggeleng setelahnya. Suaminya ini tidak pernah berubah sama sekali, tetap jail seperti dulu.
Usia pernikahan mereka sudah menginjak delapan tahun. Dan mereka dikaruniai tiga orang anak dengan selisih usia masing-masing dua tahun.
Cahaya Bulan, putri pertama Banyu dan Jingga, saat ini menginjak usia lima tahun lebih sedikit.
Cakra Langit Biru, lahir saat Caca berusia dua tahun.
Dan putri bungsu mereka, bernama Carabella Bintang Kejora. Gadis kecil itu lahir satu tahun yang lalu.
Hampir setiap hari Jingga mendengarkan teriakan anak pertama dan ke-duanya, karena dijaili oleh Banyu. Namun, jika Banyu berada di luar kota, kedua bocah itu pasti akan menangis saat berpamitan dengan ayahnya.
"Yah, nanti beli es krim, ya?"
"Caca!" Jingga hendak memperingati putrinya itu, karena kemarin mereka sudah membeli banyak es krim dengan nenek mereka.
"Oke, Sayang. Nanti kita ke mal. Jalan-jalan, beli es krim, dan apa pun yang kalian inginkan. Oke?"
"Oke, Ayah!" sahut Caca dan Ata semangat.
Dan Jingga hanya bisa pasrah saat tak ada lagi celah untuknya menolak
***
Hai, kita ketemu di ekstra part🤗 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA❤
Oh, iya. Gaes, aku tu sebenarnya buat cerita tentang Caca, alias anak pertama Banyu. Tapi, nggak aku taruh sini. Kira² kalian mau baca nggak ya?, judulnya 'TAK AKAN TERGANTI'
Nih aku kasih blurb-nya
Hidup bahagia bersama orang yang dicinta merupakan impian bagi semua orang. Namun, kata bahagia pasti akan didahului dengan luka.
Seperti itu juga yang Caca rasakan. Kebahagiaan yang sudah hampir tergapai, terhempas pergi begitu saja.
Caca harus menelan kepahitan saat hari pernikahannya. Kekasih yang sangat ia cintai menghilang tanpa kabar. Janji pada sang ayah mengharuskan Caca menikah dengan seseorang yang ia anggap musuh selama satu tahun belakang.
Abimanyu Lakeswara menjadi mempelai pria dadakan untuk seorang putri dari dokter yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya.
Hutang budi masa lalu menjadikannya seorang suami di usia muda.
Pepatah jawa mengatakan ‘witing tresno jalaran soko kulino’ (cinta tumbuh karena terbiasa) Dan itu terjadi pada Abimanyu. Abimanyu mulai mencintai Caca. Pernikahan yang ia lakukan untuk membalas budi berubah menjadi cinta.
Namun, terhalang oleh perasaan Caca yang masih terpaut pada kekasih lamanya. Abimanyu tak gentar. Ia terus mencoba mencuri hati Caca dengan caranya. Hingga Caca benar-benar mulai mencintainya.
__ADS_1
Tetapi perasaan Abimanyu harus kembali terlupakan saat kekasih Caca kembali setelah beberapa bulan menghilang.
Bagi kalian yang mau baca, bisa kunjungi akun W.a.t.t.p.a.d ku dengan nama AnNisa209308. Aku tunggu kalian di sana🤗