You Are Mine

You Are Mine
Part 70


__ADS_3

"Selamat siang, Bapak."


Banyu tersenyum melihat siapa yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Matanya terpaku pada sosok perempuan yang tengah berjalan menghampirinya yang sedang duduk di balik meja kerja.


Perempuan itu mendudukkan diri di atas pangkuan Banyu. Melingkarkan tangannya pada leher, kemudian mengecup bibirnya sekilas.


Mereka sama-sama mengunci pandangan sebelum akhirnya terkekeh bersama.


"Kangen," ucap perempuan itu sembari merebahkan kepalanya di pundak Banyu.


"Kamu jadi tambah manja ya, kalau hamil," ujar Banyu mengingat bagaimana manjanya sang istri setelah mengandung. Hampir setiap hari ia disambut dengan begitu hangat. Dipeluk, dicium, bahkan terkadang mereka langsung bercinta jika Banyu pulang larut.


"Nggak boleh?" tanyanya datar.


"Bolehlah. Aku malah seneng kalau manja gini," jawab Banyu sembari mencium kepala istrinya.


"Jadi pengen hamilin kamu terus deh kalau waktu hamil jadi manja gini."


Sebuah pukulan mendarat dengan lembut di dada Banyu. Pria itu tertawa keras.


"Turun dulu! Aku mau lanjutin kerjaan bentar. Habis ini kita pulang," pinta Banyu sembari mendorong pelan tubuh istrinya.


"Tumben pulang cepet? Kamu sakit?" tanya Jingga sedikit khawatir. Ia menempelkan punggung telapak tangannya di kening Banyu. "Enggak panas," gumamnya.


"Emang nggak sakit kok. Hari ini aku mau ke kafe, kebetulan nanti ada acara di sana," jelasnya. Ia kembali menatap komputer dan juga beberapa berkas yang tak terlalu banyak.


"Acara apa?" Jingga mendudukkan dirinya pada sofa. Tangannya terulur mengambil satu botol air mineral dari atas meja kemudian menenggaknya.


"Adalah, nanti ikut aja"


Jingga mencebik. Ia tak ingin menjawab, memilih merebahkan dirinya. Hingga lambat laun rasa kantuk menyerangnya, dan ia masuk ke alam mimpi tanpa menunggu lama.


Dari mejanya, Banyu menyimpulkan senyum, menatap istrinya yang tengah terbuai dalam alam bawah sadar. Ia berdiri, menghampiri Jingga. Membetulkan posisinya agar lebih nyaman. Banyu mengambil jasnya, kemudian menyelimuti tubuh Jingga agar tidak kedinginan. Ia sempatkan mencium wanita yang ia cintai itu sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Dua jam berlalu begitu cepat. Banyu mendudukkan diri di samping kepala istrinya yang masih setia terlelap. Sebenarnya tadi Jingga sudah bangun, tapi karena pekerjaan Banyu belum selesai, ia memilih melanjutkan mimpinya.


Tangan Banyu mengusap rambut Jingga berulang kali. Ia tidak ingin wanitanya itu tekejut dan berefek pusing saat bangun nanti.


Jingga mengerjapkan matanya. Cahaya matahari sore masuk melalui dinding kaca ruangan Banyu. Ia menyipitkan pandangan, berusaha meraih nyawanya yang masih terbang ke awang-awang.


"Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara serak.


"Masih setengah empat," jawab Banyu seraya membantu istrinya duduk. Ia sodorkan sebotol air mineral pada istrinya, dan Jingga menerimanya dengan senang hati.


"Jadi pergi?" tanya Jingga setelah air dalam botol tadi tandas. Ia meletakkan kembali botol tersebut ke atas meja.

__ADS_1


"Jadi. Tapi pulang dulu, mandi sama ganti baju."


Jingga mengangguk. Ia mengulurkan kedua tangannya saat Banyu berdiri, bermaksud meminta bantuan untuk membawanya ikut berdiri. Tanpa penolakan ataupun drama, Banyu membantu istrinya, kemudian mereka melangkah keluar dari sana dengan bergandengan tangan.


***


"Gimana persiapannya?" Banyu berdiri tepat di depan Kikan. Mereka berada di depan mini stage.


"Tinggal tunggu yang nyewa dateng aja sih," jawab Kikan. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Acara apa sih, Mbak Ki?"


"Mau nglamar cewek sih katanya"


"Siapa?"


Kikan mengedikkan bahu. "Tahu tuh, kalau masalah beginian yang megang dia sendiri. Gue cuma bantu nyiapin aja," ujar Kikan. Ia menggandeng lengan Jingga, membawanya ke dapur untuk menikmati makanan.


Pukul 18.20


"Mbak Ki, dicariin orangtuanya di depan" ucap seorang karyawan laki-laki.


"Gue?" Kikan menunjuk mukanya dengan bingung.


Pria itu mengangguk.


"Nggak tahu juga. Saya cuma disuruh sama Mas Banyu, sekarang dia juga lagi ngobrol sama orang tua mbak Kikan," ujar pria itu lagi.


Kikan mengangguk. Keningnya masih berkerut, menandakan ia masih bingung. Ia mengucapkan terima kasih pada karyawan tersebut sebelum pergi meninggalkan dapur. Langkah gadis itu mendekati meja bernomor 22, di sana memang ada kedua orangtuanya bersama Banyu dan Jingga.


"Mi, Pi?" panggil Kikan seraya menyalami tangan kedua orangtuanya. "Kok tumben ke sini nggak bilang-bilang aku dulu?"


Kedua orang tua Kikan tersenyum. "Ya nggak papa kan ke sini nggak bilang kamu dulu. Banyu aja yang punya kafe nggak keberatan. Ya kan, Nyu?"


Banyu mengangguk.


"Kamu sih akhir-akhir ini jarang pulang, Mami kangen tahu," ujar wanita paruh baya itu dengan nada merajuk.


"Kikan lagi sibuk banget, Mi."


Kring


Pintu kafe terbuka. Semua orang kecuali Kikan menoleh menatap siapa yang baru saja masuk.


"Deva?" Ibu Kikan itu melambaikan tangannya pada sahabat putrinya.

__ADS_1


Kikan menoleh. Alisnya bertaut menatap Deva yang begitu rapi dengan setelan kemeja lengan pendek berwarna biru muda dipadukan kaus berwarna putih dan celana jeans berwarna navy. Tapi, bukan masalah penampilan Deva yang membuatnya sedikit bingung. Gadis yang berjalan beriringan dengan pria itu yang membuatnya salah fokus.


Gadis itu, gadis yang pernah bertemu dengannya di sebuah pusat perbelanjaan bersama Deva. Hari ini gadis itu juga terlihat sangat cantik, dengan balutan dress selutut bermotif polkadot dengan warna biru. Rambutnya bergelombang seperti Kikan dan bola matanya hitam legam. Wajahnya begitu ayu dengan polesan make up natural.


"Sini, Dev" ajak ibu Kikan.


Pria itu dengan senang hati menggiring Bella–gadis yang bersamanya– untuk bergabung dengan Kikan dan keluarganya. Bahkan Banyu dan Jingga belum beranjak dari sana.


"Om, Tante" Deva menyalami kedua orang tua sahabatnya.


"Kita pernah bertemu di mal 'kan?" tanya ibu Kikan antusias pada gadis bernama Bella itu.


"Iya, Tan" Gadis itu mengangguk lembut.


"Tambah cantik aja kamu," puji wanita itu. "Nama kamu ... "


"Bella" sahut gadis itu memperkenalkan diri lagi.


"Ah iya, Bella" Wanita itu tersenyum pada Bella, melupakan anak gadisnya yang sudah berubah masam. "Kamu pacarnya Deva ya?" tanya wanita itu. Matanya melirik pada sang putri yang asik memainkan gawainya.


Gadis itu hanya tersenyum.


"Hei," Deva duduk diantara Kikan dan Bella. "Sorry, gue nggak ngabarin lo kemarin, gue sibuk banget," bisik Deva pada Kikan.


Kikan menaikkan sebelah alisnya. "Lo ngomong sama gue?" tanya Kikan dengan ketus. "Lo nggak perlu minta maaf kali, Dev. Kayak lo pacar gue aja sampai harus ngabarin gue terus," ujarnya dengan nada kesal. Ia memalingkan muka dari pria itu dan sibuk lagi dengan ponselnya.


Deva tak menanggapi. Ia hanya tersenyum. Kemudian menatap Banyu. "Udah siap, Nyu?"


"Siap, tinggal eksekusi." Banyu menepuk bahu sahabatnya, kemudian mengajak sang istri untuk beranjak setelah mereka berpamitan pada kedua orang tua Kikan.


"Lo mau ke mana?" tanya Kikan, menyerukan rasa penasarannya.


"Ke depan" Deva menunjuk mini stage dengan dagunya.


"Lo ... "


"Ya, gue," sahut Deva. Ia tersenyum penuh makna.


Wajah Kikan berubah semakin kesal mengetahui ternyata Deva lah yang akan melamar seorang gadis di sini.


"Tan, aku titip Bella. Nggak papa kan?"


Ibu Kikan mengangguk. Kemudian Deva meninggalkan Kikan beserta keluarganya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2