
Kebahagiaan sahabat merupakan kebahagiaan untuk kita tersendiri. Namun, tanpa sengaja terkadang kebahagiaan mereka membawa rasa iri dalam hati.
Iri memang sebuah penyakit. Tapi, salahkah jika kita iri dengan hal baik yang mereka dapatkan? Apakah patut kita iri dengan apa yang telah sahabat kita alami?.
Senyum bahagia terpancar jelas pada bibir Jingga. Tapi, siapa yang tahu bagaimana perasaan dalam hatinya. Sebagai manusia biasa tentu saja ia memiliki perasaan tersendiri.
Jingga bahagia mendapatkan kabar tentang kehamilan Kikan. Ia turut bersyukur wanita itu dengan cepat diberi kepercayaan oleh Tuhan. Namun, dalam hatinya terselip rasa iri yang begitu mendalam. Asa perasaan sedih, karena hingga sekarang ia belum juga diberi kepercayaan oleh Tuhan.
Lima bulan telah berlalu semenjak keguguran kala itu. Tak pernah lelah Jingga berdoa dan berusaha bersama suaminya. Ia selalu berharap segera diberi ganti apa yang telah hilang darinya. Tapi, sepertinya Tuhan masih ingin menyuruhnya untuk bersabar dan berusaha.
Kembali tersenyum menatap Kikan. Jingga menghampiri wanita yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Ia duduk di samping Kikan. Menyandarkan kepalanya pada lengan wanita itu. Tiba-tiba saja perasaan sedih membelenggu hatinya.
"Semua sudah diberi waktunya Jingga, Sayang. Jangan marah sama Mbak, ya!" Kikan mengusap kepala Jingga dengan lembut. Ia sendiri sangat menyayangkan hingga sekarang Jingga masih belum bisa hamil.
Jingga mengangkat kepalanya. Menatap mata teduh Kikan untuk mencari sumber kekuatan. Ia mengembuskan napas pelan. Kepalanya menggeleng kecil.
"Aku nggak mungkin marah sama, Mbak. Bukan salah Mbak Kikan kalau Tuhan lebih dulu menghadirkan bayi kecil untuk Mbak Kikan. Mungkin Mbak Kikan lebih dewasa sehingga nanti saat dia lahir Mbak Kikan sudah siap untuk mencurahkan segala perhatian Mbak Kikan untuk dia." Jingga memperlihatkan senyum cerianya.
"Coba kalau dia masih ada, belum tentu aku bisa menjadi ibu yang baik. Terlebih aku masih kuliah semester awal. Aku masih terlalu kecil untuk dia."
Jingga kembali menyandarkan tubuhnya pada Kikan. Mencari pegangan untuk menguatkan hatinya.
Kikan tahu, sangat berat kehilangan sesuatu yang begitu kita sayangi. Mudah bagi Jingga mengatakan tidak apa-apa, namun Kikan jelas melihat banyak kesedihan yang Jingga sembunyikan dengan senyumnya. Ada banyak kegundahan yang selalu Jingga simpan. Sebagai wanita yang lebih dewasa, Kikan pasti tahu apa yang Jingga rasakan. Namun, ia lebih memilih diam dan menunggu Jingga bercerita sendiri.
"Temenin gue ke mal, yuk!" pinta Kikan. Ia ingin mengusir kesedihan Jingga, karena mengingat tentang kehamilan.
"Mau ngapain?" tanya Jingga.
"Jalan-jalan. Berdua aja tapi," jawab Kikan seraya mendekatkan bibirnya pada telinga Jingga. "Habisin duit suami." Kikan menaikturunkan alisnya.
Mata Jingga menyipit diikuti senyum lebar sekaligus licik. Kepalanya mengangguk antusias, kemudian berdiri meninggalkan Kikan untuk menemui suaminya dan meminta uang.
Kikan tersenyum. Setidaknya ia bisa mengalihkan perhatian Jingga walaupun hanya sekejap.
Setelah mendapatkan uang dari suaminya. Jingga segera mengajak Kikan beranjak dari sana. Mereka keluar dari kafe bersamaan.
Kikan mengedipkan matanya pada Banyu saat melewatinya. Katakan saja, ini memang rencana mereka untuk menghibur hati Jingga.
Tubuh Banyu bersandar pada kosen pintu masuk kafe. Ia masih memandangi mobil Kikan yang telah bergerak keluar. Dalam hatinya ia bersyukur, Jingga sangat mudah dialihkan perhatiannya. Kepala Banyu menengadah menatap langit yang begitu cerah.
Dalam hatinya ia berdoa kepada Tuhan. Jika memang ia dan Jingga belum bisa diberi kepercayaan, setidaknya jangan membuat gadis itu bersedih akan hal lain.
***
Sinar senja terlihat begitu cantik. Menghangatkan setiap mata kala memandangnya. Deburan ombak terdengar begitu merdu, mengiringi desiran angin yang bergerak melambai.
Pasir putih terasa begitu lembut menggelitik kaki. Memberikan rasa nyaman pada siapa saja yang duduk di atasnya.
Angin sore menerbangkan anak rambut Keyra. Menghadirkan kesan cantik pada gadis itu. Senyumnya cerah bagai matahari pagi. Matanya berbinar indah kala menyelami setiap ombak lautan.
__ADS_1
Keyra menopangkan dagu pada lututnya. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menatap seseorang yang tadi menghelanya kemari. Senyumnya tersungging sejenak, membalas satu senyuman dari dia yang telah memorakporandakan hatinya sejak kecil.
Kembali Keyra fokus pada alam depan. Ia ingin mengenyahkan sejenak pikirannya dari dia, atau wajahnya akan berubah seperti kepiting rebus yang siap dihidangkan.
"Key"
Keyra menoleh pada sosok pria yang baru saja duduk di sampingnya. Pria itu menyodorkan kelapa muda padanya. Keyra menerimanya dengan senang hati. Ia menenggak cairan bening itu dengan sedikit terburu-buru, karena tiba-tiba saja detak jantungnya bertalu cepat.
"Enak, ya, sore-sore gini ke pantai" Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, tapi yang bisa Keyra lakukan hanya mengangguk tanpa sanggup menatap.
"Mau jalan-jalan di bibir pantai?" tawar pria itu setelah meletakkan kelapa mudanya di atas pasir.
"Boleh," jawab Keyra.
Sedetik Keyra terdiam saat pria itu mengulurkan tangannya. Ada sedikit kecanggungan tiba-tiba mendera, hingga Keyra terkesiap saat pria itu meraih tangannya untuk berdiri.
Mereka berjalan menyusuri bibir pantai dengan tangan bertautan. Hening terasa menyelubungi keduanya. Hanya deburan ombak yang saling bersahutan mengisi pendengaran mereka.
"Kapan terakhir kali kita ke pantai bareng?" Akhirnya satu pertanyaan itu memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kayaknya sebelum kamu pindah deh, Vin," ujar Keyra sembari mengingat-ingat liburan terakhir mereka berdua.
"Kita ini lama nggak ketemu, ya? Sekalinya ketemu lo ngejauh."
Langkah kaki keduanya berhenti.
"Kenapa dulu lo nggak mau kedekatan kita kebongkar?" tanya Kevin mengutarakan rasa penasarannya.
"Karena saat itu lo nanyain tentang Jingga"
Alis Kevin bertaut. Keningnya berkerut dalam. "Terus? Apa hubungannya?"
Keyra menjilat bibirnya. Matanya tampak berkeliaran ke mana-mana. "Gue cuma takut aja, kalau Jingga tahu lo sahabat gue, nanti dia malah nggak mau nerima, lo." Keyra sama sekali tak berani menatap mata Kevin.
Ada senyum kecil di bibir Kevin. Ia tahu, Keyra sebenarnya menyukainya sejak dulu. Sejak mereka masih kecil. Tapi, gadis itu selalu diam dan tak pernah mengungkapkan isi hatinya.
"Kenapa? Karena lo pernah cerita ke dia, kalau lo suka sama gue?"
Keyra menelan ludahnya susah payah. Lantas menatap mata Kevin. "Nggak usah ngaco deh, Vin." Ia terkekeh di ujung kalimatnya dan membuang pandangan.
"Key" Kevin menarik dagu Keyra untuk menatapnya.
"Kalau misal dulu gue nggak pernah nanyain Jingga ke lo, apa lo bakal cerita ke dia kalau kita sahabat?"
Keyra diam. Ia larut dalam mata Kevin. Kelemahannya sejak dulu adalah tatapan mata pria itu. Sorotnya tak pernah gagal menghancurkan pertahanan hati Keyra.
"Key, asal lo tahu! Sejak dulu sampai sekarang gue cuma suka sama lo"
Keyra kembali terkekeh. Ia tidak ingin hatinya berbunga begitu saja. Kevin adalah pria yang terkenal playboy. Pria itu suka bergonta-ganti pacar sejak SMP dulu.
__ADS_1
"Bercanda lo basi kali, Vin" Keyra menutupi tawa kecilnya dengan kepalan tangan. "Dari dulu, lo itu pacaran sama banyak cewek, dan sekarang lo bilang lo suka sama gue dari dulu? Yang bener aj–"
"Gue mau buat lo cemburu, Key" tukas Kevin.
Keyra lagi-lagi terdiam.
"Dan untuk Jingga. Gue bisa suka sama dia, karena gue tahu gimana kehidupan dia. Gue kasihan sama dia. Gue tahu semua kisah hidup dia. Dan karena dia ... " Menggenggam tangan Keyra. "Karena dia punya sifat yang sama, sama lo," terang Kevin. Ia lalu berjongkok dan berkata.
"Key, would you be my girlfriend?"
Keyra ternganga. Apa ini nyata?, pikirnya. Keyra mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Benar saja, Keyra mengusap pipinya, karena terasa begitu sakit.
Namun, masih ada sedikit ganjalan dalam hatinya. Apakah benar Kevin menyukainya sejak kecil?
"Key," panggil Kevin dengan sorot mata tulus.
Keyra menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sedetik kemudian ia mengangguk.
"Wwooo!!"
Siapa yang sangka Kevin akan berteriak kencang. Dia melompat-lompat layaknya anak kecil diperbolehkan makan es krim. Bahkan beberapa pengunjung menatap pria itu. Ada yang tersenyum, ada juga yang mencibir.
Kevin menghentikan lompatannya kemudian memeluk gadis yang baru saja menjadi kekasihnya.
Ia menangkup wajah gadis itu. Mengusap pipinya dengan lembut. Ia mengangkat dagu Keyra lantas bertanya lirih, "Boleh cium?"
Pipi Keyra bersemu kemudian mengangguk kecil.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kevin menyatukan bibirnya dengan bibir Keyra.
Di bawah langit senja, di depan lautan berombak, kedua orang itu saling memagut untuk pertama kalinya.
***
Gaes, aku minta dukungan kalian untuk cerita baruku🙏
Judulnya 'Maafkan Aku'. Tentang Kevin dan Keyra gaes. Ini blurb-nya
Cinta saja tak cukup membuat sebuah pernikahan menjadi sumber kebahagiaan. Lika liku kehidupan terus membayangi setiap langkahnya.
Masih satu bulan pernikahan Keyra dengan Kevin, tapi guncangan nan dahsyat sudah menghampiri mereka.
Seorang perempuan hamil datang dan meminta pertanggungjawaban Kevin.
"Apa itu tidak disebut berkhianat?"
"Maafkan aku, Key!"
Yang pengen tahu bagaimana kisah mereka, jangan lupa tap love, biar bisa dapet notif-nya🤗
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya❤