
"Bodoh!" teriak Larisa merasa kesal, terlebih Akeno hanya melihatnya saja.
"Bantu aku!" rengek Larisa dengan memanyunkan bibirnya, mata Aira langsung menajam melihat interaksi mereka berdua yang sangat dekat, jika bisa di pastikan sudah pasti mereka memiliki hubungan dari sekedar teman.
Tangannya terkepal, Aira melangkah dengan cepat ke arah mereka. Terlebih saat ini Akeno membantu Larisa yang terjatuh, dia tidak bodoh, tapi wanita itu lah yang berpura-pura jatuh tadi. Ia melihat sendiri kakinya tidak tersangkut ataupun kaki sepatunya terpotong.
"Akeno!!!" teriak Aira kencang, pria itu berbalik, kilatan di mata Aira sedikit membuatnya takut juga terkejut bersamaan.
"Jangan berpikiran negatif, aku dan Larisa hanya-"
"Teman kecil, tapi kami sangat lah dekat." potong Larisa tersenyum. Matanya melirik pada tangan Larisa yang mengapit lengan Akeno, mereka sepertinya benar-benar teman dekat, lebih dari dekat.
Larisa tertawa kecil, melihat Aira yang marah, ia juga tidak berani berbuat apapun padanya, ia mengambil gelas yang akan Akeno minum tadi.
Larisa memberikan minuman itu pada Aira yang sedang marah, ini adalah salah satu rencananya, biasanya orang yang marah akan sangat mudah di beri air minum.
"Aku tidak mau!" tolak Aira tegas. Larisa mencoba untuk terus tersenyum, kesabarannya juga bisa ikut habis.
"Minuman ini aku ingin, tapi karena hanya ada satu gelas, jadi tidak ku lakukan." seru Larisa dengan wajah murung.
"Minumlah, ayok." rengek Larisa.
"Minumlah, ayok cepat." Paksanya lagi. Aira mencebik kan bibirnya, namun tidak menolak.
Aira menghela nafas kesalnya, lagi pula siapa yang mau di paksa seperti ini? Larisa tersenyum dengan begitu cantiknya, bahkan Aira pun tidak bisa tidak memuji wanita tersebut, entah kenapa dirinya malah menjadi semakin sebal.
"Ternyata kau sangat pintar sekali, aku juga ingin meminumnya." Ujar Larisa merenggut gelasnya. Aira mengerutkan keningnya seraya mengambil gelas itu kembali.
__ADS_1
"Jika ingin minum, pakai gelas lain!" sergah Aira berdecak kesal. Larisa tertawa sedikit menggema, kemudian ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kepribadian wanita ini berbeda 180 derajat, sangat pelit untuk berbagi.
"Sangat malas jika harus menuang air." jawab Larisa dengan duduk bermalas-malasan di sofa yang ada di kamar Aira.
"Bisa kau pergi saja di sini? Aku ingin istirahat." Usir Aira dengan tegas. Larisa menutup mulutnya kembali, namun sekarang dengan wajah terkejutnya.
"Ya ampun, aku akan mati jika aku mengganggumu."
"Baiklah, karena kau yang mau aku pergi, aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di sini, kan?" lanjut Larisa, ia berdiri tegak, tersenyum pada Aira, setelah itu pada Akeno.
Menyadari wanita di hadapannya ini sedang menatap Akeno, Aira menyunggingkan senyumannya, bibirnya tertarik ke atas. Suara mengejutkan itu, membuat Akeno dan Larisa menoleh ke belakang Aira.
Lemari di dekatnya, ternyata sudah terjatuh dengan kacanya yang sudah pecah semua, Akeno dan Larisa, keduanya membelalak kan mata mereka masing-masing.
"Pergi dari sini!" Perintah Aira, Larisa tidak tahu apa yang terjadi, namun jika di rasa, dalam diri wanita itu, ada sesuatu amarah yang akan keluar jika terus di provokasi. Larisa mungkin tidak tahu apa maksud dari itu, namun jelas sekali bahwa Aira seolah tidak ingin ada saingan di keluarga ini.
Dengan cepat Larisa berkata: "Baik, aku akan pergi sekarang, sampai berjumpa." Ia langsung berlari keluar, dalam tubuhnya Aira banyak sekali aura negatif, Larisa pun tidak tahu entah dari mana kekuatan itu di dapatkan.
"Menurut mu, baju apa yang bagus untuk ku pakai?" tanya Aira, tangannya menumpang kepalanya, sedangkan anggur kesukaannya di makan olehnya satu persatu, dan kakinya di angkat ke atas.
Monika meneguk Saliva nya, matanya lalu melirik ke arah baju yang akan di pakai Aira.
"Nona, bagaimana jika warna merah?" tanya Monika seraya menunjuk pada gaun yang indah itu.
Aira menggeleng tidak setuju. Monika membuka mulutnya, tapi tidak jadi karena takut salah.
__ADS_1
"Jika warna merah muda?" usulnya lagi
"Kau pikir aku anak-anak?" bentak Aira tidak setuju. Monika lagi-lagi menghela nafasnya, tapi tidak terlalu kencang, jika pilihannya tidak di sukai oleh nona nya, kenapa malah bertanya, batin Monika sedikit jengkel.
"Cepat katakan! apa yang harus ku pakai!" sentak Aira yang nampaknya masih tidak puas dengan pilihan Monika.
"Nona, pakaian ini hanya ada sepuluh, jika Anda tidak mau memakainya, maka kami juga tidak tahu harus pergi ke mana lagi." Berkata dengan lirih, dalam hatinya, Monika terus berdoa agar tidak di marahi lagi.
"Jika begitu, maka pilihkan gaun yang baik." ujar Aira yang kini malah memelas, hatinya sedikit dongkol sekali. Ia bahkan heran kenapa pelayan yang biasa tidak ada di sini setelah di tampar habis-habisan.
Aira yang merasa kesal, langsung berdiri dari tidurnya, ia menghadap pada Monika, tanpa aba-aba lagi, pipi wanita itu menjadi makanan tangannya.
Monika yang di tampar merasa telinganya berdengung hening, ia kemudian meraba wajahnya karena tamparan yang di berikan Aira padanya. Matanya melirik, hampir saja menajam, Monika kemudian berlutut di kaki majikannya.
"Maaf jika saya membuat Anda tidak puas, Nona." seru Monika, sudah di salahkan dan di tampar, tetap saja dirinya yang harus meminta maaf, Monika menangis karena hidupnya sangat payah.
"Saya sudah tidak mempunyai orang tua, saya di jual dari bar hingga ke sini, ingin hidup dengan bekerja di rumah yang besar. Nona, mohon ampuni saya." Pinta Monika terisak sedih, bahkan menceritakan sebagain hidupnya.
Aira berdecih, tangannya masih melipat di depan dada, ia berjongkok, satu tangan kiri itu mencengkram kuat dagu Monika yang tirus.
"Kalian para pelayan, tidak bisa berkerja dengan baik." desis Aira. Monika menautkan alisnya sekilas, lalu menunduk lagi.
"Pantas saja, kau ternyata pelacur yang ada di club-club malam, benarkan?" Monika menekan dadanya yang sakit, meskipun beberapa kali dirinya di di lecehkan oleh laki-laki, tetap saja hatinya menolak untuk melakukan hal itu.
"Nona, Anda bisa menampar saya, tapi jangan sebut saya pelacur." Monika menangis dengan sedihnya, kata-kata itu akhirnya terdengar dari orang terhormat.
__ADS_1
"Hahaha, jika sudah pernah menjadi pelacur, maka kata-kata apa lagi yang bisa kau dapat kan dari ku?" tanya Aira dengan berjalan pergi meninggalkan Monika sendirian di dalam kamarnya.
Ke dua pelayan itu mengikuti sang nona, mereka bahkan tidak peduli sama sekali pada Monika, meskipun merasa kasihan pada wanita yang baru di hina habis-habisan.