You Are Mine

You Are Mine
Part 62


__ADS_3

Hari terus berganti. Sudah satu minggu Banyu menggantikan posisi ayahnya di perusahaan. Setiap hari ia akan berangkat tiga puluh menit lebih pagi dari biasanya. Ia akan mengantar istrinya dulu ke kampus, dan jika istrinya ada kelas pada siang hari maka Banyu akan meninggalkannya, menyuruhnya untuk berangkat sendiri. Pekerjaan barunya ini mengharuskan Banyu tiba lebih pagi, sangat berbeda saat ia mengelola kafe.


Hari ini Banyu tiba di apartemen saat matahari sudah terbenam. Langkah lelahnya membawa Banyu ke arah pintu apartemen. Ia masuk setelah membuka pintunya.


Jingga keluar dari kamarnya saat mendengar pintu apartemen dibuka. Ia tampak berbinar melihat suami yang sejak tadi ia nanti sudah tiba. Langkahnya dengan cepat menghampiri sang suami dan tiba-tiba ia melompat. Menubruk tubuh suaminya.


Hampir saja Banyu terjatuh jika ia tak memperhatikan istrinya yang terlihat sedikit aneh. Bukan penampilannya, tetapi sikap yang tak biasa gadis itu tunjukkan membuat Banyu merasa ada sesuatu.


Banyu letakkan kedua tangannya untuk menyangga tubuh istrinya. Ia menatap gadis itu dengan senyum semringah. Rasa lelahnya tadi hilang entah ke mana.


"Tumben banget." Banyu menerima satu kecupan di bibir dari Jingga.


Jingga yang sejak tadi mengalungkan lengannya pada leher Banyu, merebahkan kepalanya pada bahu kekar suaminya, tanpa menanggapi ucapan suami tampannya ini. Jingga menghirup aroma parfum cendana yang selalu bisa meningkatkan suasana hatinya. Ia mendengar suaminya terkekeh tapi Jingga tak peduli.


"Kenapa sih, tumben banget?" tanya Banyu dengan posisi yang sama.


"Kangen," jawab Jingga singkat. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa merasa serindu ini pada Banyu. Padahal tadi mereka melakukan panggilan video selama Banyu bekerja.


"Udah ih, turun dulu, aku mau naruh tas sama ambil minum." Banyu pasrah saat Jingga menggelengkan kepalanya. Ia menaruh tas kerjanya di tas meja. Kemudian masuk ke dapur dengan Jingga berada di gendongannya.


"Bisa bantuin aku minum dulu?" tanya Banyu pelan.


Jingga langsung mendongak. Ia membuka kulkas meskipun agak kesulitan. Kemudian mengambil air mineral. Membuka tutupnya dari belakang kepala Banyu. Ia pun membantu suaminya untuk menenggak air tersebut. Jingga meletakkan kembali botol itu di atas kulkas. Gadis itu benar-benar tidak ingin lepas dari Banyu, dan malah kembali merebahkan kepalanya di bahu sang suami.

__ADS_1


Hanya menggelengkan kepala yang bisa Banyu lakukan saat istrinya kembali merebahkan kepalanya. Dan tiba-tiba sebuah ide jahil muncul.


Banyu berjalan santai menuju kamar. Ia bersyukur pintu kamarnya tak tertutup, jadi ia bisa masuk dengan mudah. Kakinya melepas sepatu dengan mudah. Ia bisa melakukan itu tanpa tangan. Dan sekarang ia lebih bersyukur lagi, karena pintu kamar mandi juga terbuka lebar. Dengan langkah pasti Banyu membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi tanpa istrinya tahu.


Gadis itu masih menikmati aroma suaminya yang begitu menenangkan. Ia baru membuka mata saat mendengar suara pintu tertutup dan dikunci. Jingga terkesiap saat sadar bahwa dirinya dibawa ke kamar mandi. Ia pun berontak untuk turun. Tapi, terlambat! Banyu sudah lebih dulu menahan tubuhnya.


"Katanya tadi kangen," ucap Banyu sembari menurunkan istrinya di bawah shower. Ia menyalakan shower itu, dan jelas saja mereka basah dengan baju masih menempel pada tubuh mereka.


"Mas, aku udah mandi!" sungut Jingga kesal. Ia mengerucutkan bibirnya di bawah kucuran air. Gadis itu hendak melangkah pergi, tapi tertahan oleh lengan Banyu.


"Temani aku mandi!"


Dan Jingga hanya bisa pasrah saat Banyu menciumnya dan menyentuh titik sensitifnya.


****


Semakin hari Banyu dibuat semakin sibuk. Kasus korupsi yang menimpa proyek pembangunan hotel ayahnya semakin menemui titik terang. Beberapa orang yang dicurigai sudah mulai diperiksa secara diam-diam. Banyu sendiri yang turun tangan untuk masalah ini. Ia membaca seluruh laporan dari mulai awal pembangunan hingga sekarang dengan teliti.


Setelah mengantongi beberapa nama yang sekira mencurigakan, Banyu menyuruh beberapa orang bawahannya yang sudah ia percaya untuk memeriksa orang-orang tersebut. Meskipun butuh waktu, Banyu tetap bersabar. Ia tidak ingin tergesa, karena sejatinya hal ini perlu dihati-hati.


Sembari menunggu hasil, Banyu mencoba untuk mencari investor baru dengan bantuan Deva. Satu minggu terkahir ini ia gunakan untuk membuat proposal pengajuan bersama orang-orang kepercayaannya. Sudah tiga hari ia pulang hingga larut malam, hingga ia selalu mendapati istrinya tertidur di sofa ruang tamu saat ia masuk ke dalam apartemen.


****

__ADS_1


Jingga merasa kesal. Suasana hatinya begitu buruk. Sedari tadi Banyu tidak mengangkat penggilan videonya. Padahal biasanya pria itu akan langsung mengangkat panggilannya dalam dering kedua.


Memang hampir setiap hari Jingga berkomunikasi dengan Banyu melalui panggilan video. Semua itu ia lakukan karena takut suaminya digoda oleh sekretarisnya.


Pernah sekali Jingga melakukan panggilan video dengan Deva saat pria itu berada di kantor ayah mertuanya. Deva tak sengaja memutar kameranya ke arah Banyu. Tiba-tiba saja sekretaris suaminya itu masuk. Dia berlenggak-lenggok seperti tengah menggoda. Tubuhnya yang tinggi bak model membuat Jingga diterpa cemburu, tapi ia diam saja. Karena yang ia tahu Banyu sama sekali tak menanggapi godaan sekretaris itu.


Memutar kepalanya, Jingga melihat suaminya masuk dengan kondisi berantakan. Dasi dan jasnya sudah terlepas dan tersampir di lengannya. Ia pun menghampiri suaminya dengan wajah kesal.


"Kamu ke mana aja sih dari tadi aku telponin nggak diangkat?"


"Sibuk"


"Sesibuk apa sih kamu sampai ngangkat telepon aku aja nggak bisa? Atau jangan-jangan kamu berduaan sama sekretaris baru kamu itu?" tuduh Jingga asal. Suasana hatinya begitu buruk hanya karena Banyu tak memberinya kabar sama sekali hari ini.


Banyu memicingkan matanya. "Ngaco kamu. Nggak ada yang kayak gitu." Kepalanya menggeleng tak percaya dengan tuduhan istrinya.


"Terus kamu ngapain di kantor tadi sampai nggak ngangkat telepon aku?" Jingga masih saja mendesak Banyu.


"Aku sibuk, Jingga. Sibuk!" Nada suara Banyu terdengar sedikit kesal. Ia tidak tahu kenapa jadi seperti ini. Padahal sebelum-sebelumnya ia juga pernah tak mengangkat telepon istrinya, dan gadis itu diam saja.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus ngangkat telepon aku meskipun kamu sibuk." Jingga berlalu setelah mengucapkan kalimat tersebut. Gadis itu tidak seperti dirinya sediri. Ia sama sekali tidak peduli dengan penjelasan Banyu.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2