You Are Mine

You Are Mine
Maafkan Aku, Nona Aira. Tapi, Aku Benar-Benar terpaksa 132


__ADS_3

Kagira tersadar, ia menoleh dan menjawab, "Tenang saja, Aira akan sembuh, jika mereka tidak berhasil menyelamatkan Aira, maka nyawa mereka juga akan hilang." Akeno mengangguk, ia kemudian berjalan mendekat pada dokter yang sedang memeriksa wanita yang tengah terbaring.


Ia menghela nafas dan mengelus pelan wajah yang sedang tertidur, hatinya mencelos saat Aira berhasil di selamat kan. Ia sangat bersyukur sekali wanitanya sudah tidak berada dalam bahaya lagi.


"Lihat lah, aku tidak kehilangan mu, Aira. Karena kamu di takdir kan hanya untuk ku." ujar Akeno tersenyum. Dokter itu ikut tersenyum, namun mereka menyembunyikan bibir mereka yang naik ke atas sedikit.


Larisa berdiri dengan memakan buah apel, sungguh teman yang gila, ia tidak menyangka jika Akeno sangat terobsesi, seandainya mereka tidak melakukan perjanjian, sudah pasti Aira tidak perlu seperti ini.


"Maafkan aku, nona Aira. Tapi, aku benar-benar terpaksa." lirih Larisa, sebisa mungkin tidak boleh di dengar oleh orang lain.


Ia melangkah mendekat pada Akeno, pria itu tidak berhenti menatap wajah wanita itu.


"Cinta... membuat ku gila seperti ini..." Larisa berdendang menyanyi.


"Aku tidak tahu, kemana cinta kita akan di bawa?" Akeno mengerutkan keningnya heran, sepertinya lagi itu di tujukan untuk menyindirnya.


"Larisa, jika masih betah berada di sini, aku tidak melarang mu untuk tinggal. Tapi, sebisa mungkin jangan bernyanyi, karena telingaku akan tuli." Sindir Akeno terkekeh geli. Larisa membungkam mulutnya, ia melempar apel yang tersisa sedikit pada Akeno.


"Mati saja kau!" desis Larisa seraya pergi dari sana. Akeno menghela nafas kasar, Larisa terkadang bisa bercanda juga.


"Aku akan pergi, jaga calon istriku." ucap Akeno pada dokter wanita, mereka mengangguk kompak. Setelah memastikan kebaikannya, ia pergi dari kamarnya.


Malam ini adalah ulang tahunnya, namun sampai sekarang keadaan wanita itu belum pulih.


"Tidak peduli dengan ulang tahun ku, kesembuhan Aira lebih penting dari segalanya." lirih Akeno berjalan keluar.


Jari-jari tangan Aira akhirnya bergerak, para dokter tersenyum karena bisa menyelamatkan nona mereka dengan sangat baik.

__ADS_1


"Nona, Anda bisa mendengar suara saya?" tanya salah satunya. Aira membuka kedua matanya dan menoleh pada wanita berbaju putih.


Keningnya mengerut heran, "Apa yang terjadi padaku?" tanyanya. Mereka tersenyum bersamaan.


"Anda pingsan, dan tuan Akeno langsung menyuruh kami memeriksa anda." jawabnya. Akeno tidak mungkin mengatakan jika Aira pingsan akibat kekuatan yang di milikinya keluar tanpa di ketahui.


"Pingsan? bagaimana bisa seperti itu?" tanya Aira heran. Tangan dokter itu menepuk pundaknya dan berkata: "Anda tidak perlu khawatir, tubuh anda dan janin dalam perut nona semuanya baik, tidak terjadi apapun."


Tatapan yang tajam itu membuat dokter wanita menarik tangannya, aura yang di pancarkan tadi langsung berbeda.


Melirik ke arah pundak lalu ke tangan dokter itu, "Berani sekali tangan mu menyentuh ku!" desis Aira menajamkan matanya.


"Nona, maafkan saya jika salah-"


"Kau memang salah, aku harus menghukum mu dengan apa sekarang?" Aira bangun dari duduknya, ia kemudian menghadap pada wanita itu. Lirikan matanya, mampu membuat semua orang menunduk kan pandangan mereka ke bawah.


Aira berbalik memunggungi wanita itu, belum sedetik berbalik, ia menghadap kembali dan- PLAK! suara itu mengagetkan mereka yang berada di sana.


"Aku adalah Aira, kau tidak bisa menyentuh ku seenaknya, lakukan tugasmu dengan baik, jangan menyentuh ku jika itu tidak penting." desisnya memberi tahu. Para dokter hanya bisa tercengang melihat semua ini.


Pelayan itu menangis, isakan kecil terdengar di telinga Aira, membuatnya sedikit kesal.


"Pergi dari sini, setelah berhenti menangis, kau bisa pergi dari rumah ini atau bisa pergi ke neraka."


Dokter yang seolah tidak memiliki harga diri langsung berlari ke luar karena kata demi kata membuatnya rendah. Aira terkekeh melihatnya, dengan santai mengambil buah anggur dan memakannya dengan setengah tidur.


"Hey kalian!" panggil Aira pada dokter yang lainnya. Mereka saling meneguk salivanya, mereka tidak menyangka akan jadi seperti ini. Siapa yang tidak kasihan pada dokter yang tadi? dia hanya ingin berinteraksi lebih dekat, namun pasiennya malah bereaksi berlebihan.

__ADS_1


"Bawakan aku air minum, dari tadi tidak ada yang menawari ku." Titah Aira dengan suara manjanya. Dokter itu seketika merasa gugup, namun tetap saja, ia berjalan ke arah meja untuk mengambil airnya. Tangannya tidak berhenti bergetar, melangkah sedikit demi sedikit dengan nafasnya yang tidak beraturan.


"Nona, minuman Anda." kata pelayan itu dengan gugup. Aira memutar bola matanya seraya mengambil gelas yang berada di tangan dokternya.


Dokter yang lainnya tidak menduga jika pasien yang baru bangun dari pingsan itu ternyata sangat pemarah, bahkan meminta air saja sampai menatap mereka tajam seolah akan membunuh mereka jika keinginannya tidak di turuti.


Aira yang sedang minum, matanya melirik ke arah dokter karena terus menatap dirinya. Ia pun menghentikannya dan bertanya, "Kau ingin minum juga?" Dengan cepat menggeleng sebagai jawaban.


"Kalian bisa pergi dari sini, aku sudah tidak butuh!" Usir Aira. Alisnya bergerak ke arah pintu mengkode mereka agar cepat keluar.


"Kalau begitu, saya pamit, Nona." Seru sang dokter.


Tidak ada jawaban sama sekali, apa lagi sampai mendengar ucapan terima kasih, mungkin dunia akan hancur jika itu terjadi. Melihat ke arah mereka, Aira menutup pintu dan menguncinya.


Anya berlari ke arah pintu kamar Aira, sekilas ia mendengar bisikan para dokter.


"Cantik, tapi sangat sombong. Sikapnya itu, jika dia bukan calon istrinya tuan Akeno, aku tidak mau menyelamatkannya!" desis dokter itu.


"Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Anggap saja nona Aira adalah batu yang tidak bisa bergerak ataupun bicara." seru yang lainnya.


Anya mengerutkan keningnya, jelas sekali sifat ini berbeda dari Aira. Sudah pasti jika perasaannya tidaklah benar, melihat betapa kakak iparnya sangat baik dan orang yang sangat menjaga kata-katanya, ia yakin itu bukanlah Aira dari istrinya Aryan.


"Anya!" teriak temannya yang selalu saja membuyarkan lamunannya. Anya menoleh menatap Via.


"Ada apa?" tanya Anya heran.


Via berdecak kesal, "Ini sudah hampir jam sepuluh, kau tidak mau menghadiri acara ulang tahunnya tuan Akeno?" cecar wanita itu sedikit kesal.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara nona Aira, jika dia tidak berulah, sudah pasti kita sudah selesai bersiap-siap." cibir Via malah menyalahkan Aira. Anya memegang tangan temannya.


"Jangan di pedulikan, ayok." ajaknya kemudian. Keduanya melangkah menjauh dari lantai 3, rumah yang sangat besar ini, bahkan jika berjalan melalui tangga, sudah pasti akan merasa kelelahan.


__ADS_2