You Are Mine

You Are Mine
Part 89


__ADS_3

"Lo belum cuti kuliah, Ji?" tanya Keyra sembari menggeser sebuah gelas tinggi berisi cairan berwarna hijau.


Jingga menggeleng. Bibirnya sibuk menyesap jus alpukat yang baru saja Keyra berikan padanya.


"Belum, masih tujuh bulan juga. Gue cutinya nanti kalau udah masuk sembilan bulan," jawabnya. Tangannya kini mengaduk jus tersebut.


Keyra mengangguk, lantas mengikuti Jingga mengurangi isi gelas miliknya. Mata gadis itu mengedar pada seluruh penjuru kantin. Tanpa sengaja pandangannya mengarah pada seorang gadis cantik yang berjalan ke arah mereka.


"Ji!"


Jingga menoleh pada sosok gadis berparas cantik yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya.


"Hai, Kak!" Jingga tersenyum lebar menatap kakaknya berada di sana bersamanya.


"Nih, disuruh mama bawain ini. Untuk kamu katanya," ujar Iren. Ia memberikan sebuah kotak bekal berwarna merah kepada Jingga.


Kening Jingga berkerut, menatap kotak bekal tersebut. Namun, tak ayal ia juga mengambilnya.


"Ini apa, Kak?" tanya Jingga mengurai rasa penasaran yang tiba-tiba menggerogoti dirinya.


"Ayam kecap buatan mama. Katanya kemarin kamu pengen. Jadi, tadi mama buatin ini buat kamu," jawab Iren. Setelahnya ia berdiri dan berpamitan untuk kembali ke kelasnya.


"Kok, buru-buru banget si, Kak?" Jingga menahan pergelangan tangan Iren. Ia terlihat cemberut mendapati kakaknya buru-buru pergi.


"Aku ada kelas habis ini. Dosennya killer banget. Aku enggak mau dimarahin sama dia. Serem"


Jingga mencebikkan bibirnya. Lalu, melepaskan genggaman tangannya dari lengan sang kakak. Mendapat alasan seperti itu, jelas Jingga tak akan tega membiarkan kakaknya terlambat masuk kelas.


"Ya, udah deh," ujar Jingga pasrah. "Makasih ya, Kak, udah bawain ini buat aku," imbuhnya seraya mengangkat kotak bekal tersebut dan menggoyangkannya.


Iren tersenyum lantas mengangguk. Sebelum pergi, gadis itu mengusap perut Jingga yang tampak besar.


"Ante pergi dulu, ya, Sayang. Kapan-kapan kita ketemu lagi," ujarnya.


Kemudian ia menatap Keyra untuk menyapa dan berkata, "Jagain adik gue, ya, Key. Gue pergi dulu." Satu senyuman manis terukir begitu saja, mengiringi langkah Iren menjauhi Jingga dan Keyra.


Berdecak kagum. Keyra masih tak bisa mengalihkan tatapannya dari Iren. Padahal gadis itu sudah hampir tertelan pintu.


"Gila, Ji. Kakak lo pesonanya," ujar Keyra.


"Bukannya dari dulu dia udah cantik?" tanya Jingga. Bola matanya memutar malas.


"Iya si. Tapi, semenjak dia baik sama lo, pesonanya tu jadi nambah berkali-kali lipat," ujar Keyra sedikit menggebu.


Jingga terkekeh. Ia sendiri juga mengakui akan kecantikan dan keanggunan alami yang Iren miliki. Bahkan terkadang ia iri dengan setiap hal yang melekat pada kakaknya, karena selalu terlihat sempurna.


Mengingat bagaimana sikap kakaknya saat ini membuat senyum Jingga terkembang begitu saja. Iren yang sekarang sangat berbeda dengan Iren yang dulu. Semenjak pengakuan Iren mengenai siapa Icha membuat gadis itu terlihat lebih manusiawi terhadapnya. Bahkan, Iren kini menggunakan aku-kamu dan bukan lo-gue lagi pada Jingga.


Sembari menyuapkan mi ke dalam mulutnya, Keyra berkata, "Gue yakin, siapa pun yang bisa dapet hati Kak Iren, dia pria yang beruntung banget. Udah cantik, sekarang baik banget. Behhh. Pokoknya lengkap sudah."

__ADS_1


"Telen dulu, Key," timpal Jingga. Tawanya menyembur begitu saja melihat kelakuan sahabatnya.


Keyra hanya melemparkan cengiran pada Jingga.


Sejenak mereka larut dalam diam. Menikmati makan siang sederhana ala mereka. Hingga dering telepon Jingga membuat fokus keduanya beralih pada ponsel Jingga.


"Halo, Ma," sapa Jingga setelah ponselnya tersambung dengan si penelepon.


"Halo, Jingga. Kamu di mana?" tanya wanita itu dari seberang telepon.


"Jingga lagi di kantin, Ma. Makan sama Key," jawab Jingga.


Keyra tampak menyimak percakapan yang ia yakini antara Jingga dengan ibu kandungnya.


"Udah ketemu Iren belum? Tadi Mama nitip makanan ke Iren untuk kamu," tanya wanita itu lagi.


"Udah, Ma. Makasih, ya" Kedua sudut bibir Jingga tertarik ke atas. Menampakkan senyum manis secerah matahari.


"Sama-sama, Sayang. Ya udah, Mama cuma mau nanya itu. Kalau gitu kamu lanjutkan makan siangnya, ya. Mama mau kembali ke florist," ujar wanita itu sebelum menutup kembali sambungan telepon mereka.


"Nyokap lo?"


Jingga mengangkat pandangannya pada Keyra. Ia mengangguk kecil, kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Buah kesabaran itu emang ada, ya?" ujar Keyra tiba-tiba.


Tak mengerti apa maksud Keyra. Jingga hanya bisa mengerutkan kening dan juga menautkan alisnya.


"Ohh, itu. Ya semua emang selalu ada balasannya sendiri, Key. Gue juga bukan orang yang sabar banget dalam menghadapi mereka. Mungkin emang ini cara Tuhan untuk memberikan warna-warni dalam hidup kita," balas Jingga. Ia kembali tersenyum mengingat bagaimana dirinya dulu yang tak pernah mendapatkan kasih dan sayang dari ibunya. Namun, sekarang ia bisa merasakan itu, bahkan lebih dari yang ia bayangkan.


Mereka kembali melanjutkan makan siang sambil membicarakan hal-hal lain, sebelum akhirnya beranjak dari sana dan kembali ke kelas.


***


Matahari tenggelam meninggalkan kenangan dan menerbitkan sebuah kenangan baru yang lebih menyenangkan.


Di tengah dinginnya malam, Jingga menatap langit tanpa penghalang. Membiarkan kulitnya digigit udara yang cukup rendah. Dalam pandangannya, Jingga dapat merasakan sebuah ketenangan. Menatap bulan, adalah hobinya beberapa waktu terakhir ini.


Hanya berbalut daster berlengan pendek. Jingga cukup merasa kewalahan dalam menghalau rasa dingin itu. Beberapa kali ia mengusap kedua lengannya, hingga meninggalkan secuil rasa hangat dalam tubuhnya.


Tersenyum. Jingga melebarkan bibirnya, kala ia merasakan sebuah selimut tebal membalut tubuhnya dalam satu dekapan bersama suaminya. Jingga ikut menyentuh lengan sang suami yang cukup hangat, kemudian menatapnya sekilas, sebelum kembali menatap bulan yang berbentuk sabit.


"Mas, apa boleh nanti aku yang memberi nama anak kita?" tanya Jingga tanpa mengalihkan pandangan dari langit.


Sudut bibir Banyu tertarik ke atas. Ia mencium leher istrinya sembari menghirup aroma strawberry dari wanita itu.


"Tentu saja boleh, Sayang. Kamu nggak perlu tanya," jawabnya sembari ikut menatap langit.


"Memangnya kamu ingin memberi nama anak kita siapa?" tanya Banyu penasaran.

__ADS_1


"Kalau perempuan aku ingin namanya Cahaya Bulan," jawab Jingga antusias.


Kening Banyu mengernyit. "Kenapa Cahaya Bulan?"


"Entahlah, aku rasa anakmu ini sangat suka melihat cahaya bulan." Memandang Banyu sejenak.


"Lagi pula, cahaya bulan terlihat begitu lembut. Dia memancarkan keindahan sendiri di tengah gelap malam. Dia mampu bertahan, meskipun terkadang dia tidak punya teman," imbuhnya.


"Aku ingin anak kita menjadi seperti bulan. Meskipun kecil, tapi terlihat indah. Meskipun redup, tapi tetap memancarkan cahaya. Dan setidaknya dia juga sadar, dia selalu mendapatkan bantuan dari cahaya matahari untuk terus menghiasi langit," tambah Jingga lagi.


Banyu semakin mengeratkan rengkuhannya, karena udara semakin terasa dingin.


"Baiklah. Tapi, kalau anak kita laki-laki kamu ingin memberi nama siapa?"


Jingga tampak berpikir. Sejauh ini, Jingga tidak terlalu terpikirkan dengan anak laki-laki. Dalam bayangannya selalu ada anak perempuan.


Tak kunjung menemukan ide. Jingga mengedikkan bahunya. Lantas berbalik dan menghadap pada suaminya.


"Sepertinya aku tidak memiliki inspirasi untuk laki-laki. Kalau kamu? Mau kasih nama siapa?"


Banyu juga tampak berpikir. Selama kehamilan Jingga, ia memang belum memikirkan nama anak. Bahkan mereka belum tahu jenis kelamin anak mereka saat ini, karena mereka sengaja untuk tidak menanyakannya, supaya menjadi kejutan saat lahir nanti.


"Bagaimana kalau Langit Biru?" tanya Banyu sembari menaikkan kedua alisnya.


Jingga mengangguk antusia. Langit Biru, nama yang cukup bagus untuk seorang anak laki-laki.


"Kenapa Langit Biru?" tanya Jingga.


"Seperti yang kamu katakan. Kamu akhir-akhir ini sangat sering menatap ke atas sana." Banyu menunjuk pada langit.


"Dan menurut kamu, itu mungkin keinginan baby kita. Jadi, nama Langit sangat cocok untuk anak laki-laki. Dan Biru aku ambil dari nama belakang aku," jelas Banyu.


"Ih, curang dikasih nama kamu!" Jingga mencebikkan bibirnya.


"Emang kenapa? Nggak papa, dong. Kan ini anak aku. Yang bikin kan aku," kelakar Banyu, membuat Jingga kesal.


"Ih, yang bikin berdua lah," ujarnya kesal.


"Eh, ya aku doang, dong. Kan kamu diem aja,"


"Ih, apaan sih!" Jingga berlalu meninggalkan suaminya. Pembicaraan seperti ini selalu sukses membuat pipinya bersemu, dan ia tidak ingin Banyu melihatnya.


Baru saja Jingga melewati pintu. Jingga terkesiap saat tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Aku kangen sama adek," ucap Banyu lirih dengan suara seraknya.


Dan Jingga hanya bisa pasrah menikmati setiap perlakuan suaminya, yang dapat membawanya menuju surga dunia.


***

__ADS_1


Haiii, aku muncul lagi, setelah sekian purnama menghilang🤣


Jangan lupa like dan komen yess❤


__ADS_2