You Are Mine

You Are Mine
Tumben Bener 140


__ADS_3

Cahaya itu sudah menghilang, kini tetua Akari berjalan kembali menuruni tangga, ia dengan tersenyum mendekat pada Aryan yang masih terpesona pada kilatan cahaya tadi.


"Tuan Aryan, aku sudah mendapatkan yang Anda inginkan." Ujar tetua Akari. Aryan menatap ke arah telapak tangan Akari yang terbuka, sebuah batu berwarna merah, di padukan dengan biru dan ungu, nampak sangat indah.


"Batu apa ini, tetua?" tanya Aryan heran. Terlihat indah, namun nyatanya sangat panas saat dia ingin memegangnya. Untunglah tangannya tidak melepuh di saat itu juga. Akari tertawa kecil melihat tingkah laku Aryan yang ceroboh.


"Ini adalah batu dari kekuatan api. Aura negatif dari tubuh nona Aira tidak bisa jika hanya menggunakan kekuatan biru saja, jadi aku harus mengalahkan kekuatan jahat itu dengan aura negatif lagi." Kata Akari memberitahunya.


Aryan menatap intens, dengan hati-hati ia mengambilnya kembali, sangat indah, jika ada seorang wanita yang gemar mengoleksi barang-barang yang bagus, tentunya ini akan menjadi pilihan yang tepat.


"Anda bisa pulang jika sudah tidak sabar untuk menemui istri Anda, tuan Aryan." Titahnya seraya menggoda Aryan yang langsung tersenyum dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Tidak tahu kenapa tetua bisa mengetahui isi dan pikiran ku, kalau begitu aku sangat berterima kasih pada Anda. Pengorbanan ini, aku juga tidak akan melupakannya." Seru Aryan membungkukkan tubuhnya 90 derajat, untuk menghormati ketua pertama.


Prai tua itu menganggukkan kepalanya, mengelus kepala Aryan dengan harapan semoga kedua suami istri ini selalu mendapatkan kebahagiaan mereka.


Aryan berlalu pergi dari sana, setelah urusannya selesai. Lagi pula tidak ada yang harus di bicarakan lagi, ia memilih kembali dan menginap di apartemen yang berada di negara ini.


Aira tersenyum dengan malu, mimpi itu lagi, ia rasanya benar-benar seperti nyata, bahkan pria itu seperti ada di sini.


"Ya ampun, kenapa wajah ku terasa panas setelah bangun dari mimpi itu?" gumam Aira mendekap kedua pipinya. Dirinya seperti wanita remaja saja.


"Pria gila! aku juga tidak mau harus bermimpi itu lagi, tapi kau sangat tampan, jadi aku menginginkan mu untuk datang ke dalam mimpi ku! kau mengerti!" Aira menunjuk pada cermin yang ada di depannya. Bibirnya tertarik ke atas, ia kembali tertawa setelah melakukan hal gila itu.

__ADS_1


***


Kabir, Shi Yin dan Qivian, baru saja turun dari mobil, mereka sudah merencanakan ini dengan matang, tidak ada yang mengetahui jika ke tiganya akan pergi ke pegunungan Fengyuzen.


Kabir merasa senang ketika teman-temannya selalu saja membantunya di saat ia sedang kesusahan dan bersedih hati. Meskipun sedikit di buat jengkel, namun mereka tidak pernah bercanda jika sedang dalam keadaan serius.


Seperti sekarang, Shi Yi dan Qixian menatap hutan itu dengan lirikan mata tajam mereka. Shi Yi menatapnya dengan mencemooh.


"Aku heran, mereka mengatakan jika hutan ini sangatlah berbahaya, tapi ku rasa di dalam sana tidak berbahaya sekali pun." Ujar Shi yi.


"Ibu mengatakan, jangan melihat dari luar, tapi lihat juga di dalamnya. Terkadang kita bisa salah menilai." Sahut Qivian pada adiknya. Kabir membenarkan ucapan sang kakak dari Shi yi.

__ADS_1


"Tumben bener?" Kata Shi yi dengan tertawa kecil. Pukulan di layangkan oleh Qivian pada adiknya yang malah berkata seperti itu.


"Kita tidak punya banyak waktu, ayok cepat selesaikan dan kita harus pulang dengan cepat." Kabir tidak memiliki waktu yang lama, ia sebisa mungkin harus bisa mendapatkan penawar buah pembakar hati sebelum satu bulan.


__ADS_2