
“Bohong! Nggak usah dikasih, Nit. Cakra orangnya nggak bener,” larang Rania dengan kesal.
“Siapa yang bilang Cakra orangnya nggak bener?”
Atensi ketiga orang dalam kelas itu beralih ke ambang pintu. Seorang gadis dengan rambut digerai dan sebuah bando berwarna hitam di atas kepalanya tengah memasang sorot mata tajam.
Ata yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya malas. Ia sudah hafal apa yang akan gadis itu lakukan. Sehingga sebelum sebuah kehebohan terjadi, Ata sudah lebih dulu beranjak dan berdiri di depan gadis itu.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Ata sinis.
“Cakra,” panggil gadis itu dengan suara lirih.
“Aku mau ngomong sama kamu, bentar aja, kok,” ucap gadis itu memohon.
“Berapa kali gue harus ngomong. Gue nggak mau ketemu lo lagi!” Ata menatap tajam pada gadis itu.
“Cakra!” Gadis itu memasang raut muka sedih.
“Eh tolong, ya, kalau mau berantem keluar aja, jangan di situ,” tutur Rania memberanikan diri. Ia paling tidak suka ada keributan di dalam kelasnya. Apalagi jika itu sepasang kekasih seperti Ata dan gadis itu.
__ADS_1
“Eh diem, ya, lo!” seru gadis itu pada Rania.
“Lo yang harusnya diem, Stel!”
Gadis bernama Stella itu menatap Ata nanar. Sebelum benar-benar diusir oleh mantan kekasihnya, Stella mengutarakan tujuannya datang ke kelas itu.
“Cakra, please! Ayo kita ngobrol sebentar, kita luruskan kesalahpahaman kita dulu.”
Netra Ata menyipit. Ia tahu maksud mantan kekasihnya itu. “Kesalahpahaman seperti apa maksud, lo?”
Stella terdiam.
“Kesalahpahaman tentang lo yang maki-maki dan nampar gue di mal, yang kata lo gue selingkuh padahal gue jalan sama kakak gue? Atau tentang lo yang sebenarnya selingkuh di belakang gue? Oh, atau lo mau nglurisin kalau ternyata gue yang yang jadi selingkuhan, lo?” Sudut bibir Ata naik sebelah. Kisah cintanya dengan gadis itu memang sedikit rumit dulu. Ia yang pernah diselingkuhi membuat Ata benar-benar tidak ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Di dalam kelas, Rania dan juga temannya yang bernama Nita hanya bisa terbengong melihat pertengkaran dua sejoli itu. Mereka saling melempar pandangan tak terbaca saat kedua orang tadi sama-sama meninggalkan kelas.
**
“Kucel banget, lo.” Dio menepuk bahu Ata, membuat cowok itu menoleh seketika.
__ADS_1
“Gue bingung, Di. Kenapa sih cewek itu masih berusaha ketemu gue?”
Kening Dio berkerut tipis. Namun, tak lama kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti siapa yang Ata maksud.
“Dia ke kelas, lo?” tanya Dio dibalas anggukan oleh Ata.
“Ya udah sih nggak usah dipikirin,” nasihat Dio pada sahabatnya itu.
Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Ata yang tengah berada dalam suasana hati yang buruk memilih tak angkat suara.
Dio dan Ata beranjak dari duduknya saat bel tanda masuk berbunyi. Sesekali Dio mengajak Ata berbicara. Menasihati sahabatnya itu untuk tidak lagi memikirkan pengkhianatan yang telah Stella lakukan dan tetap tak acuh pada gadis itu. Hingga tanpa terasa mereka telah tiba di depan kelas Ata dan mereka pun berpisah.
Bibir Ata kembali melengkung saat netranya tak sengaja bertabrakan dengan pandangan Rania. Dengan langkahnya yang cukup lebar, Ata berjalan menuju mejanya, dan saat melewati meja Rania, Ata dengan sengaja menginjak kaki gadis itu.
“Cakra!” sentak Rania tak terima.
“Kenapa, Ran? Kangen, ya, sama gue?” Ata memasang tampang tak berdosa saat bertatap muka dengan Rania setelah membalik tubuhnya.
Netra Rania melebar begitu saja. Ia yang awalnya ingin memprotes apa yang Ata lakukan pun tak jadi, karena terlalu kesal dengan cowok itu.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤