You Are Mine

You Are Mine
Part 51


__ADS_3

Cinta dan jodoh adalah satu kesatuan. Di mana setiap manusia yang berjodoh pasti akan memiliki cinta di dalamnya. Dan meskipun memiliki cinta, jika bukan jodoh manusia tidak akan bisa bersama meskipun memaksa ~An Nisa


Dingin merasuki setiap dinding kamar apartemen penghuninya. Mencoba membangunkan mereka tanpa suara. Mustahil memang, tapi kenyataannya sepasang mata mengerjap saat rasa dingin itu berusaha menyentuh tubuhnya yang tak berbusana.


Seutas senyum sedikit tertarik. Tangannya mengeratkan dekapan untuk menetralisir rasa dingin yang kian menyerang. Bayangan kejadian semalam masih melekat erat dalam benaknya. Membawa senyum Banyu untuk terus berkembang. Mengalirkan semangat untuk terus menjalani hari.


Banyu merasakan sedikit pergerakan dari istrinya. Ia memilih untuk kembali menutup mata.


"Aku tahu kamu udah bangun," ucap Jingga sembari mengusap pipi Banyu.


Pria itu pun tersenyum kemudian membuka matanya. Ia menyentuh jemari lembab istrinya. Membawanya untuk melingkari tubuhnya seperti yang ia lakukan. Banyu menatap istrinya yang kembali menutup mata. Mengusap setiap sisi wajahnya dengan penuh kelembutan.


"Kamu nggak papa?" tanya Banyu setelah keheningan melanda mereka berdua.


"Nggak papa." Jingga semakin mengeratkan dekapannya. Udara dingin begitu terasa menusuk seluruh kulit tubuhnya. Dan tubuh Banyu satu-satunya penghangat di kamar ini.


"Nggak sakit?" tanya Banyu lagi. Ia pernah mendengar, saat pertama kali berhubungan si wanita pasti akan merasakan kesakitan pada bagian intinya. Bahkan semalam Banyu hampir saja menghentikan kegiatan mereka saat tiba-tiba istrinya memekik dengan begitu keras.


"Sakit sih. Namanya juga pertama." Jingga mendongak. Pandangan matanya bertubrukan dengan sang suami. Entah kenapa, tiba-tiba saja Jingga merasa malu. Ia dengan berani memasrahkan dirinya pada Banyu. Hanya karena ia takut Banyu meninggalkannya jika tidak ia ikat dengan hubungan seperti ini.


Bayang-bayang Celin masih menghantui pikiran Jingga. Gadis dengan perawakan yang begitu sempurna itu tentu jauh lebih menarik daripada dirinya. Selalu membuatnya takut, Banyu akan berpaling dan memilih kembali pada gadis itu. Jingga sama sekali tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan terjadilah hal semalam atas saran Riana dan juga mamanya.


Merasa gemas, Banyu mencubit pipi istrinya yang telah berubah warna menjadi semerah tomat. Mendengar istrinya mengaduh, Banyu tak juga melepaskan. Ia malah tertawa kecil, berganti dengan mengusapnya lembut kemudian mendaratkan satu kecupan yang begitu hangat.


Bukannya kembali seperti semula, pipi gadis itu malah tambah merah. Membuat Banyu semakin gemas. Lagi dan lagi pria itu mendaratkan kecupan disetiap sisi wajah cantik istrinya. Dan labuhan terakhirnya tentu saja pada bibir merah muda yang entah kenapa terlihat begitu menggoda.


Jingga mendorong tubuh Banyu saat merasakan ciuman mereka akan berakhir seperti semalam. Ia masih sangat lelah dengan apa yang mereka lakukan. Untuk saat ini ia masih belum ingin mengulangi hal itu kembali. Lagi pula matahari sudah hampir naik, ia harus segera bersiap untuk pergi ke kampus.

__ADS_1


"Mas, nanti lagi aja. Hari ini aku ada kelas pagi loh," ujarnya sembari mendorong tubuh suaminya.


Kening Banyu mengerut. "Kamu mau kuliah? Libur aja lah, kamu nggak capek apa?" tanyanya tidak suka. Ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya lebih lama, syukur-syukur kalau bisa melanjutkan kegiatan panas mereka.


"Nggak bisa, Mas. Aku harus kuliah. Kamu tega apa liat istri kamu jadi orang bodoh sendiri karena nggak ikut kelas," ujarnya seraya memasang wajah melas. Jingga tak ingin melewatkan satu mata kuliahnya. Ia paling tidak suka menjadi orang bodoh sendiri di kelasnya. Maka dari itu, meskipun ia merasa seluruh tubuhnya remuk, ia tak mempermasalahkannya. Menurutnya, semua rasa lelahnya akan sirna dengan sendirinya nanti.


Banyu menghela napasnya. Ia sadar, terlalu egois jika menyuruh istrinya untuk bolos meskipun hanya satu hari. Ia pun merelakan bayangan rencana hari ini yang sempat tersusun rapi pergi menjauh. Ia mengangguk setuju dengan apa yang Jingga katakan. Kemudian Banyu meminta Jingga untuk mandi terlebih dahulu. Setelah itu bergantian dengan dirinya.


***


"Tumben order makanan?" Jingga mengambil piring dan juga sendok sesaat setelah seseorang mengantarkan pesanan Banyu. Ia kembali ke dapur setelah meletakkan piring ke atas meja makan untuk mengambil kopi yang telah ia buat untuk Banyu.


"Males masak, capek," jawab Banyu sembari membuka bungkusan berisi nasi pecel langganannya. Ia memindahkan bungkusan tersebut ke tas piringnya dan Jingga.


"Maaf ya, Mas aku belum bisa masakin kamu." Jingga menundukkan kepalanya, ia merasa malu sendiri karena belum bisa menjadi istri yang baik. Bahkan selama ini masih Banyu yang selalu memasak meskipun hanya saat sarapan saja. Ia hanya menyapu atau sesekali membersihkan apartemen dari debu. Itu pun hanya dua hari sekali, karena mereka jarang menempatinya, jadi tidak terlalu kotor.


"Makasih ya, Mas, kamu udah mau ngertiin aku," ucap Jingga.


"Berterima kasihlah dengan menghabiskan waktu denganku besok. Besok weekend kan?" Jingga mengangguk malu.


Mereka kembali melanjutkan sarapan yang sedikit tertunda. Setelah sarapan selesai mereka keluar rumah untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.


***


Banyu memasuki kafenya tanpa menghilangkan senyum. Bibirnya terasa terpatri, tak bisa bergerak selain senyuman.


Dari arah dapur, Kikan memperhatikan wajah sahabatnya yang jauh lebih cerah dari biasanya. Guratan kebahagiaan terpancar begitu jelas dari muka tampan pria itu. Membuatnya ikut melengkungkan senyumnya tanpa sadar.

__ADS_1


"Seneng banget lo kayaknya, abis dapet motor baru lo?" Tegur Kikan saat Banyu berjalan mendekatinya.


Gadis itu terkesiap saat Banyu tiba-tiba memeluknya erat meskipun hanya sesaat. Jarak mereka masih cukup dekat membuat Kikan mengerutkan keningnya tak paham dengan sikap Banyu.


"Gue lagi bahagia banget hari ini," ucap Banyu dengan senyumannya yang masih belum bisa luntur. "Akhirnya gue bisa dapetin Jingga seutuhnya, Ki."


Bibir Kikan melengkung lebar. Entah sejak kapan, melihat Banyu dan Jingga semakin dekat tidak membuatnya sakit, malah membuatnya semakin ikut bahagia. Perasaannya pada Banyu berangsur menghilang ditelan waktu.


"Gue ikut seneng, Nyu. Semoga kalian lekas diberikan apa yang kalian inginkan." Banyu mengamini doa Kikan yang terdengar begitu tulus.


"Ki, lo nggak pengen gitu nikah kayak gue?"


Senyum yang tadinya terpancar terganti dengan dengusan kasar dan muka datar. "Belum ada jodohnya terus gue bisa apa?" Kikan memutar bola matanya malas.


"Kan ada Deva. Lo bisa nikah sama dia"


Kikan tersenyum kecut. Ia megalihkan pandangan. "Nggak mungkin bisa lah, orang dia usah punya cewek," tuturnya.


"Nggak mungkin, Ki," sanggah Banyu.


Kemudian Kikan menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Deva dan juga kekasihnya kemarin.


****


Hai guys boleh minta ramein GC aku? 🤭 siapa tahu jadi tambah deket kita wkwk. Nggak maksa kok, buat yang mau aja hehe.


Yang penting jangan lupa terus like dan komen

__ADS_1


__ADS_2