
Banyu menggenggam jari tangan istrinya dengan begitu lembut. Sesekali ia melirik wanita di sampingnya kemudian kembali fokus pada jalan. Senyumnya terukir jelas. Mempertegas rasa yang ada dalam hatinya saat ini.
Tak kalah bahagianya. Bibir Jingga juga tak bisa dicegah untuk terus tertarik ke atas. Melengkung dengan begitu indah. Mempercantik wajahnya dengan senyum cerah.
Gadis itu, ralat! wanita itu masih tak menyangka dirinya mengandung. Diusianya yang baru akan memasuki kepala dua sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki seorang bayi. Ia bersyukur Tuhan tidak membencinya, karena telah lahir dari cara yang salah.
"Makasih, ya." Ucapan Banyu memutar kepala Jingga untuk mengahadapnya. Mereka tengah berhenti pada perempatan besar menuju ke kediaman keluarga Banyu.
"Untuk apa?" tanya Jingga dengan kening berkerut.
"Sudah mau mengandung anakku." Banyu tersenyum tulus pada istrinya.
Wanita itu terkekeh. "Berterimakasih lah pada Tuhan, karena sudah memberi kita kepercayaan untuk menjadi orang tua," ujar Jingga sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Banyu kembali tersenyum. Mereka saling pandang. Menyelami mata yang memancarkan sorot penuh cinta.
Dan acara saling pandang itu harus berakhir saat bunyi klakson mobil menggema dari belakang mereka. Tawa mereka pecah seketika seiring bergeraknya roda mobil yang akan membawa mereka ke tujuan utama.
Mengayun begitu cepat. Kaki Banyu telah menapak di depan pintu rumah orang tuanya. Jingga hanya bisa menggelengkan kepala di belakang pria itu mendengar teriakan Banyu memanggil sang bunda.
"Bun!"
"Bunda!"
"Bundaaaa!"
"Bunnnnn!"
"Mbak, bunda mana?" tanya Banyu pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Kayaknya di taman belakang sama bapak, Mas."
Banyu segera berlari ke arah taman belakang setelah mengucapkan terima kasih pada art-nya itu.
Kepala Jingga semakin menggeleng melihat suaminya lari-larian di dalam rumah. Ia hendak menyusul Banyu. Namun, suara Dika menginterupsi langkah kakinya.
"Suami kamu kenapa teriak-teriak nggak jelas manggilin bunda?." Raut masam Dika menimbulkan senyum di bibir Jingga.
Wanita itu hanya mengedikkan bahu.
"Bang Dika nggak ke kantor?" tanya Jingga sembari menghampiri adik dari suaminya. Ini masih pukul dua dan Dika sudah berada di rumah. Terlihat sangat aneh di mata Jingga.
Pria itu menggeleng. "Semalem meriang. Tadi pagi juga masih belum terlalu enakan. Jadi, libur dulu sehari."
"Kalian dari mana? Tumben ke sini?"
"Emang nggak boleh ke sini?" tanya Jingga sinis. Calon mama muda itu sepertinya sedikit tersinggung dengan ucapan adik iparnya.
Dika mengerjap bingung. "Siapa yang ngomong nggak boleh ke sini?" tanya Dika dengan kepala menggeleng.
Dika Tidak tahu saja kakak ipar rasa adiknya ini tengah hamil dan emosinya tidak stabil.
"Ya, tadi Bang Dika kenapa nanyanya gitu?" Bibir gadis mengerucut ke depan.
Jawaban Dika tertahan saat mendengar suara teriakan ibunya.
__ADS_1
"Jingga!"
Apalagi ini Tuhan?, batin Dika menjerit.
Wanita paruh baya itu memeluk menantunya dengan erat. Bahkan Ia menciumi seluruh wajah menantunya hingga basah.
Jingga hanya terkekeh geli dengan kelakuan ibu mertuanya. Ia tahu suaminya pasti sudah memberitahu sang ibu.
"Selamat ya, Sayang. Bunda seneng banget dengernya." Wanita itu mengurai pelukannya. Menangkup pipi menantunya dengan lembut.
"Ini Bunda kenapa sih? Seneng banget."
Bunda Ika mengalihkan pandangannya pada putra bungsunya. Menatapnya sambil tersenyum lebar.
"Kamu dari tadi duduk sama Jingga masa nggak tahu?"
Dika menggeleng. Ia memang tak tahu apa-apa.
Wanita itu memutar bola matanya malas. "Jingga hamil!," ucapnya antusias.
Dika membelalakkan matanya. "Serius, Bun?" pekiknya. Anggukan dari kedua wanita itu mengangkat sudut bibir Dika. Ia maju satu langkah untuk memeluk istrinya kakaknya. Tapi ...
"Eh, mau ngapain lo!" Banyu menarik kerah kaus Dika dari belakang. "Istri gue ini, nggak usah peluk-peluk." Pria itu menghadang adiknya. "Peluk gue aja, jangan istri gue!"
Bola mata Dika memutar malas. "Aelah, Bun. Si Banyu cemburuan banget. Ini aku adeknya loh," adu Dika pada ibunya.
"Dika, berapa kali Bunda bilang sama kamu. Yang sopan manggil kakak kamu. Manggil abang kek, kakak kek. Jangan sebut nama kayak gitu!"
Dika mencebik. Bukannya mendapat pembelaan ia malah diceramahi.
"Dengerin tuh!" Banyu menoyor kepala adiknya.
"Ni anak mentang-mentang dibelain, jadi kurang ajar."
Bunda Ika hanya geleng-geleng kepala melihat kedua putranya bertengkar. Ia tidak tahu sampai kapan kedua orang yang sudah berusia dewasa itu akan seperti itu.
"Kalian nggak capek apa dari dulu berantem?" Suara sang ayah mengalihkan pandangan semua yang ada di sana. Pria paruh baya itu berjalan mendekati menantunya. Ia memeluk wanita itu lembut.
"Selamat ya, Sayang. Ayah seneng denger kabar kehamilan kamu." Pria itu mengusap kepala menantunya. "Semoga sehat selalu, ya. Sampai dia lahir."
Jingga tersenyum menatap ayah mertuanya. "Makasih Ayah dan Bunda."
Perlakuan seluruh keluarga Banyu menghangatkan hati Jingga. Mungkin jika ia berada di rumahnya, hanya ayahnya saja yang antusias dan ibunya pasti akan cuek seperti biasa.
"Mbak Ama di mana, Bun?" Mata gadis itu celingukan mencari kakak iparnya.
"Katanya tadi nemenin Sheila ke rumah temennya."
Jingga hanya ber-oh ria saja.
"Oh ya, bagaimana kalau kita undang mama-papa kamu makan malam untuk merayakan kehamilan kamu?“ tanya bunda Ika.
Mata Jingga berbinar bahagia. Belum pernah ia makan satu meja dengan orang tuanya setelah menikah. Jingga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pun mengangguk antusias.
"Ok, nanti Bunda hubungi orang tua kamu, sekarang kamu istirahat."
__ADS_1
Jingga mengangguk. Ia menuruti perintah ibu mertuanya untuk beristirahat. Ia dan Banyu meninggalkan Dika dan ayah Liyas di ruang keluarga.
Malam harinya
Semua orang berkumpul di ruang makan keluarga Banyu. Tadi sore, bunda Ika menghubungi besannya dan mengundang mereka makan malam di sana untuk merayakan sesuatu. Bunda Ika sangat senang karena Kiran–mama Jingga– setuju untuk datang.
Jingga menyuapi gadis kecil kesayangannya. Ia meminta pada Banyu untuk mengajak Icha juga. Rasanya terlalu hampa jika gadis itu tak ikut merayakan kebahagiaan mereka.
Ibunda Jingga yang duduk bersebrangan langsung dengan Icha mengernyitkan kening. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan anak itu. Wanita itu melirik putri kesayangannya sejenak, lalu menatap Icha kembali. Sikunya menyenggol lengan Iren dengan sengaja. Dan saat Iren menatapnya, ia berbisik.
"Itu anak siapa yang dibawa Jingga?"
Iren melirik adiknya sekilas. Ia mengangkat bahu tak tahu. Dan matanya melebar mendengar ibunya kembali berbisik.
"Kenapa matanya mirip banget sama kamu dan Jingga?"
***
Jingga duduk di sebalah ayahnya di ruang tamu. Ia menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh pria yang selalu ada di belakangnya itu.
"Manja banget ini anak papa. Udah mau jadi ibu loh," ucap pria paruh baya itu sambil menjawil hidung putri bungsunya.
"Aku lagi pengen gini sama Papa. Kita 'kan lama nggak ketemu." Jingga menatap ayahnya dengan senyum manis. Sikap manjanya kembali keluar jika sudah berada di dekat sang ayah. Bahkan Icha ia abaikan dan hanya duduk bersama Sheila dan Banyu.
Kedua mertua Jingga terkekeh melihat kedekatan menantu dan besannya.
Icha memandang Iren kagum. Kecantikan gadis itu mengingatkannya pada seseorang yang selalu mengunjunginya selain Celin dan Jingga.
"Yah, tante itu siapa?" tanya gadis kecil itu penasaran. Jari telunjuknya menunjuk pada Iren.
"Itu kakaknya mama. Namanya tante Iren. Icha mau kenalan?"
Gadis itu kembali memandang Iren. "Boleh, Yah?"
Banyu tersenyum. "Boleh dong"
Gadis kecil itu pun turun dari tempat duduknya mendekati Iren. Ia berdiri tepat di depan kakak Jingga dengan senyum manisnya.
"Hai, Tante," sapa Icha dengan riang.
Iren menatap gadis itu dalam. Senyumnya sama sekali tak mengembang melihat bocah itu.
"Mau apa kamu?" tanya Mama Jingga sinis.
"Icha mau kenalan sama tante ini," jawab bocah itu tanpa takut.
"Tante cantik banget sih," ucap gadis itu terang-terangan. "Tante mirip orang yang selalu ngunjungin aku di panti." Gadis itu tersenyum lebar.
Iren masih tak membuka suara. Ibunya yang tahu Iren tak terlalu menyukai anak kecil akhirnya menyuruh bocah itu untuk pergi dengan alasan Iren sedang flu dan suaranya habis. Karena sejak tadi pun Iren tak mengeluarkan suara di sana.
"Semoga cepet sehat ya, Tante," ucap gadis itu dengan sedikit kecewa.
Iren hanya bisa memandang kepergian gadis itu nanar.
***
__ADS_1