
"Jingga!"
Tak ada sahutan apapun dari si pemilik nama. Hanya dengkuran halus saja yang terdengar.
Setelah mendengar cerita panjang lebar mengenai Kikan dan Deva, Jingga merasa sangat mengantuk. Hingga tanpa sadar, gadis itu tertidur dengan bersandar pada suaminya.
Senyum Banyu terbit begitu saja. Dengan perlahan, Banyu membawa istrinya ke dalam kamar. Ia membaringkan gadis itu, kemudian ikut berbaring di sampingnya.
Jingga menggeliat, namun tidak bangun. Ia hanya merubah posisi menjadi miring. Membuat Banyu lebih leluasa memandangnya.
Jemari Banyu menyibak helaian rambut Jingga yang menutupi wajah gadis itu.
"Cantik" gumam Banyu.
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu secepat ini?" Banyu menelusuri pipi Jingga dengan jari telunjuknya. "Apa yang kamu berikan padaku hingga aku merasa tidak bisa melihat wanita lain selain dirimu?" Banyu tersenyum, kemudian memeluk istrinya. Mencium kening gadis itu, kemudian berbisik.
"te amo mi amor (Aku mencintaimu, Sayang), cepatlah jatuh cinta padaku"
Setelah itu ia memejamkan mata. Menyusuri dunia mimpi untuk membangun apapun yang ia inginkan.
***
"Mas!" Jingga tersentak mendapati Banyu tiba-tiba memeluknya dari belakang. Saat ini ia sedang mencuci piring setelah sarapan.
Gadis itu merona begitu saja. Posisi mereka begitu dekat. Apalagi Banyu meletakkan dagunya pada bahu Jingga.
"Ih, Mas. Lepas dulu! Aku masih cuci piring ini." Jingga menggerakkan bahunya, sedikit tidak nyaman. Dan sekarang pria itu malah mengendus dan menciumi lehernya, membuat Jingga merasa kegelian.
"Mas!" Sentak Jingga dengan kesal. Ia merasakan lehernya digigit meskipun hanya kecil.
Banyu tertawa, kemudian mengangkat wajahnya untuk mencium pipi gadis itu sekilas. "Aku suka bau kamu, seger"
Tangan Banyu terulur, membantu istrinya membilas piring yang masih tersisa. Membuat tubuh mereka semakin menempel.
Jingga hanya menelan salivanya kasar. Ia salah tingkah sendiri saat ini. Apalagi sekarang Banyu membantunya mencuci tangan.
Setelah dirasa semua bersih, Banyu mematikan kran air, mengelap tangan Jingga hingga kering, kemudian membalik tubuh gadis itu hingga menghadap padanya.
Jingga terkesiap dengan apa yang Banyu lakukan. Tangannya menyentuh dada Banyu secara reflek karena merasa hampir terjungkal.
"Mas ..."
Suaranya tercekat. Ia terlalu terpesona dengan ketampanan suaminya. Mata coklatnya menyeret dan menahan Jingga untuk tidak melihat arah lain. Detak jantungnya bergerak hebat seiring deru napas Banyu yang kian terasa menerpa wajahnya. Sekali lagi Jingga terdiam tatkala bibir tebal Banyu menyentuh bibirnya. Hanya kecupan sekilas, namun dapat membuat wajahnya merona seketika.
"Ayo, nanti terlambat!"
Jingga baru tersadar kembali saat Banyu menyeretnya dengan lembut. Membawanya ke luar apartemen dan berangkat menuju kampus seperti biasa.
***
Setelah melepas helm dan maskernya Jingga mengambil ikat rambutnya dari dalam tas. Ia mengikat rambutnya dengan rapi meskipun tanpa sisir.
Diam-diam Banyu tersenyum misterius melihat istrinya berkaca di depan spion. Dengan cepat ia mengecup pipi gadis itu.
"Semangat tambahan untuk hari ini," bisik Banyu di dekat telinga istrinya.
Jingga hanya melotot melalui spion. Menatap kesal suaminya. Tanpa berpamitan, Jingga meninggalkan Banyu yang tengah tersenyum sendiri di samping motornya.
__ADS_1
"Hati-hati mi amor" teriak Banyu membuat seluruh mahasiswa yang melintasinya menatap geli.
***
Jingga merasa tidak nyaman melihat tatapan semua orang tertuju padanya. Beberapa kali ia menghela napasnya dalam untuk menenangkan diri.
"Astaga Jingga!" Keyra menutup mulutnya terkejut.
"Ih, kenapa sih?" tanya Jingga lirih. Semua teman satu kelasnya juga menatapnya.
"Lo gila ya?" umpat Keyra.
"Lo yang gila. Orang gue dari tadi nggak ngapa-ngapain." Jingga semakin salah tingkah. "Emang penampilan gue ada yang salah ya? Dari tadi semua orang ngliatin gue tahu nggak"
"Lo nggak tahu?" Pertanyaan Keyra membuat Jingga semakin penasaran.
Keyra mengeluarkan cermin dari dalam tasnya, kemudian memeberikannya pada Jingga.
"Apa sih? Bedak gue nggak rata?" Jingga menatap pantulan dirinya. Ia ikut terkejut melihat tanda merah pada lehernya. "Anjrit, ini kenapa ada beginian di sini." Jingga menutupi lehernya dengan tangan.
"Tadi pagi lo abis ... "
"Sialan, enggak lah." Jingga semakin salah tingkah. "Ini gimana nutupinnya?" Gadis itu sudah hampir menangis. "Emang sialan suami gue itu."
"Lah, lo gimana sih. Lo nggak tahu suami lo buat tanda kek gitu?" tanya Keyra polos.
"Ya mana gue tahu. Tadi pagi dia cuma nyium leher gue pas cuci piring. Mana tahu sampai merah gini."
Keyra menutup telinganya. "Stop, Ji! Gue jomlo, nggak kuat gue denger cerita lo."
Jingga bersumpah, setelah jam kuliah ini selesai dia akan menemui suaminya dan membuat perhitungan pada pria itu.
Dua jam kemudian, setelah kelasnya berakhir Jingga nekat keluar kampus sendiri. Meninggalkan Keyra sendiri di kelas, karena Riana juga sedang dirawat di rumah sakit.
BB kafe
Kikan mengernyitkan dahinya melihat raut wajah Jingga tidak bersahabat sama sekali. Ia hendak bertanya pada Jingga, tapi urung karena Jingga melewatinya begitu saja.
Ruangan Banyu
Kedua sudut bibir Banyu tertarik ke atas. Membentuk satu simpul yang bisa membuat siapa saja terkesima. Ia tengah membaca laporan dari beberapa restoran dan kafe miliknya.
Hari ini pria itu terlihat lebih tampan dengan kacamata baru yang ia beli beberapa hari yang lalu. Terlalu sering menatap layar monitor membuat matanya sedikit tidak nyaman. Ia pun berkonsultasi pada dokter, dan dokter menyarankan untuk menggunakan kacamata saat menatap monitor ataupun membaca buku.
Laporan di hadapannya itu seakan berlalu begitu saja, mengingat apa yang telah ia lakukan pada istrinya. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Jingga adalah miliknya. Ia tidak ingin ada pria yang melirik Jingga, terutama mantan pacarnya.
Brak
Brak
Lamunan Banyu buyar mendengar suara pintu dibuka dan ditutup secara kasar. Ia semakin terkesiap saat tas ransel yang sangat ia kenali melayang ke arahnya. Untung saja Banyu sigap untuk menghindar, sehingga tas itu luruh ke lantai.
Melihat istrinya datang, ia pun berdiri. Tapi hanya sebentar karena ia terduduk lagi saat Jingga mendorongnya secara kasar. KemudianJingga memukuli Banyu membabi buta. Meluapkan seluruh kekesalannya pada pria itu.
"Jingga, hei ... Aw ... Ji ... Astaga!" Banyu berusaha menghindar, tapi tetap saja tak bisa. Ia yang tadinya merasa senang karena bisa berdiri lagi malah terpojok ke sudut ruangan saat ini.
"Ini balesan buat kamu, udah mempermaluin aku." Jingga terus memukul suaminya.
__ADS_1
Hap
Banyu berhasil menangkap kedua tangan Jingga. Membawanya untuk duduk agar lebih tenang.
Dan tentu saja Jingga tak bergeming. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Banyu. Tapi tak berhasil, tenaga Banyu jauh lebih kuat untuk menyeretnya.
"Hei, tenang dulu." Banyu berhasil membawa Jingga duduk. Bukannya marah, Banyu malah tersenyum geli melihat raut wajah Jingga yang begitu menggemaskan.
Jingga memalingkan wajahnya. Ia masih sangat kesal pada pria itu. Bahkan tadi dosennya sempat menyindirnya di kelas perkara tanda merah di lehernya.
"Kamu kenapa?, dateng ke sini marah-marah kayak gitu. Ilang lo nanti cantiknya."
Jingga menatap suaminya nyalang. Bisa-bisanya pria itu masih menggodanya di saat dirinya marah seperti ini.
"Kenapa-kenapa. Gara-gara tanda merah sialan ini aku jadi pusat perhatian tahu!"
Nada sarkas Jingga terdengar begitu menggemaskan di telinga Banyu.
"Enak dong, jadi tambah terkenal," jawab Banyu enteng.
Jingga meremas udara dengan kesal. Ingin sekali meninju wajah tanpa dosa suaminya agar kekesalannya terlampiaskan.
Tanpa mengucapkan apapun Jingga berbalik, memunggungi suaminya dengan melipat tangannya di dada. Dadanya naik turun menahan setiap emosi yang ingin sekali ia keluarkan.
Namun, siapa bisa menduga. Ternyata Banyu malah melingkarkan tangannya pada leher Jingga dan meletakkan dagunya pada puncak kepala gadis itu.
"Maaf ... "
Satu ucapan itu lolos dari bibir Banyu dengan mudah.
"Nggak dimaafin!" Nada ketus Jingga membuat Banyu terkekeh.
"Kenapa nggak dimaafin?" Pancing Banyu.
"Aku malu tahu. "
"Ya udah sebagai gantinya kamu mau apa aku beliin," tawar Banyu.
Jingga mendengus. Ia tak menjawab, tapi tertarik dengan tawaran tersebut.
"Gimana? Apapun dan berapapun aku beliin buat kamu." Tawar Banyu lagi.
"Janji, apapun dan berapapun?"
Banyu mengangguk dengan senang hati. Ia yakin gadis itu tak mungkin membeli hal yang aneh-aneh.
"Ok" Jingga tersenyum licik tanpa diketahui oleh Banyu.
***
Banyu mengusap wajahnya dengan kasar. Mobil box berukuran sedang baru saja pergi dari halaman kafenya setelah menurunkan berbagai macam snack dan es krim. Jika dihitung totalnya bisa sampai dua puluh juta. Apalagi snack ini brand ternama di sana, dan yang pasti harganya sangat mahal.
"Makasih Mas Banyu. Aku suka sama cara kamu minta maaf. Besok gitu lagi juga boleh. Asalkan minta maafnya kayak gini." Jingga bergelayut manja pada lengan Banyu.
Dari dalam kafe Kikan tertawa begitu keras. Ia sudah tahu apa yang terjadi pada pasangan tersebut. Dan ia sangat menyetujui cara Jingga untuk balas dendam.
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1