You Are Mine

You Are Mine
Part 83


__ADS_3

“Suami Mbak Celin ganteng banget,” ujar Jingga tanpa sadar.


“Apa?” Banyu mendekatkan telinganya, takut ia salah dengar.


Jingga mengangkat kepalanya. “Suami Mbak Celin ganteng,” ucapnya mempertegas.


Mata Banyu menyipit. Kemudian memutar jengah. “Masih gantengan aku lah,” ucapnya penuh percaya diri.


Terkekeh. Jingga menyeret lengan suaminya untuk mendekati pemilik acara malam ini.


Mereka naik ke atas pelaminan. Jingga lebih dulu menyalami suami Celin. Ingin Jingga menggenggam tangan pria itu sedikit lama, namun tak bisa karena Banyu dengan sengaja mendorong tubuhnya.


Jingga melirik sinis pada Banyu. Kemudian ia tersenyum manis pada Celin. Ia mengucapkan selamat pada kedua pengantin itu dan mendoakan semoga segera diberi momongan.


“Oh, ya. Kenalin! Ini Jingga dan ini suaminya Banyu,” ucap Celin memperkenalkan Jingga dan Banyu pada suaminya.


Pria itu tersenyum, kemudian mengangguk kecil sebagai tanda mengerti. Ia mengulurkan tangan kembali pada Jingga dan Banyu seraya berkata, “Perkenalkan saya Keanu.”


Banyu tersenyum kemudian menjabat tangan pria bernama Keanu itu sambil menyebutkan namanya. Dan saat Kean hendak menyalami istrinya, dengan segera Banyu kembali menyalami pria itu.


“Dia istri saya Jingga,” ucapnya. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri. Menunjukkan bahwa Jingga adalah miliknya.


Kean terkekeh. Ia paham bahwa Banyu tidak ingin istrinya bersentuhan dengan pria lain. Kean memaklumi itu.


Jingga hanya bisa menggelengkan kepala saja menghadapi suaminya. Kemudian ia mengajak Banyu untuk turun, karena ia merasa begitu malu dengan kelakuan pria itu.


Langkah kaki keduanya menghampiri deretan jamuan makanan dan minuman. Mereka mengambil masing-masing satu gelas minuman tanpa alkohol.


Jingga dan Banyu mengobrol sembari menikmati jamuan makanan di sana. Mereka mengomentari para tamu undangan yang berpenampilan begitu glamor. Mereka tertawa bersama karena memiliki pemikiran yang sama pula.


“Kok aku nggak asing sama rasa kue ini.” Jingga mengamati kue yang telah ia sendok. Ia memutar-mutar sendok tersebut sembari mengingat-ingat rasanya. “Ini dari toko Twins Cake bukan?” tebaknya.


Banyu mencecap kue yang baru saja mendarat ke dalam mulutnya. Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk.


“Iya, kayaknya ini emang produk Twins Cake,” jawab Banyu sambil kembali menyendok kuenya.


“Jangan deket-deket, Ris!”


Suara anak kecil mengalihkan perhatian Banyu dan Jingga. Mereka menatap dua bocah berbeda jenis kelamin yang tengah berjalan di belakang mereka secara bersamaan.


“Bang, ikut dong. Jangan tinggalin aku,” ucap gadis kecil di belakang bocah laki-laki tadi.


“His, si Abang kebiasaan deh,” gerutu gadis kecil itu dengan bibir mengerucut. Ia menatap kesal kakaknya yang sudah melangkah jauh.


Gadis itu menghela napas lelah. Kemudian beralih menatap deretan kue yang ada di atas meja. Tiba-tiba perutnya merasa lapar, ia pun berusaha meraih kue yang ada di meja. Gadis itu berjinjit, untuk melihat beberapa kue yang akan ia pilih.


Merasa tak tega, Banyu menghampiri gadis kecil itu. Ia berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan tinggi gadis itu.


“Mau dibantu?” tawarnya.


Gadis bermata biru itu menatap ragu pada Banyu. Namun, ia tetap mengangguk, rasa laparnya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Ia hanya yakin pria ini pasti orang baik.


Banyu tersenyum, lantas menggendong tubuh mungil bocah itu supaya bisa memilih kue mana yang ingin ia makan. Setelahnya, Banyu mengajak bocah itu untuk duduk bersamanya dan Jingga. Ia khawatir gadis itu akan menghilang jika dibiarkan berkeliaran sendiri.


“Nama kamu siapa, Sayang?” tanya Jingga.


“Kharris” jawab bocah itu.

__ADS_1


Jingga tersenyum. Ia mengusap kepala bocah itu dengan lembut. Dalam hatinya ia berharap suatu saat diberikan seorang putri yang cantik seperti gadis ini.


Banyu menanyai di mana kedua orang tua gadis itu. Ternyata gadis kecil bernama Kharris ini merupakan keponakan dari suami Celin.


“Bentar deh, Yang. Kita kayaknya pernah ketemu sama anak ini? Di mana tapi?” bisik Banyu.


Sejak tadi ia mengamati wajah bocah ini dan merasa pernah bertemu dengannya. Tapi ia lupa.


“Ah, aku tahu. Kita ketemu dia di toko Twins Cake,” ujar Jingga sambil menjentikkan jarinya.


“Kamu anaknya yang punya toko kue ini kan?” tanya Jingga.


Bocah itu mengangguk sembari menelan kudapannya.


Banyu merasa gemas dengan bocah itu. Ia terus saja mengajak bicara, bertanya macam-macam hingga ia tak menyadari ada seseorang yang mendekati meja mereka.


“Kharris, kamu di sini ternyata”


“Ayah!” seru Kharris dengan mata berbinar.


Banyu mengangkat kepalanya, ia terkejut mendapati salah satu kolega bisnis ayahnya di sana.


“Loh, Pak Arjun!”


“Pak Banyu,” balas pria itu tak kalah terkejut.


Banyu lantas berdiri menyalami pria bernama Arjuna itu.


“Maaf, apa ini putri, Anda?” tanya Banyu memastikan.


“Iya, Pak. Ini putri saya. Tapi, bagaimana dia bisa bersama Pak Banyu?”


Bukannya marah dengan putranya, Arjun malah tertawa. “Putra saya memang seperti itu. Dia tidak suka diikuti adiknya. Tapi, Kharris malah sebaliknya, dia tidak suka jika berpisah dengan kakaknya.”


“Pokoknya nanti Bang Riyo harus dimarahin!” seru Kharris tiba-tiba.


Arjun tersenyum. “Iya, nanti ayah kasih tahu abang biar nggak ninggalin Kharris sendiri”


“Jadi, mempelai pria itu saudara Pak Arjun?” tanya Banyu mengingat kata Kharris, Kean adalah pamannya.


“Bukan, Bang Kean itu kakak istri saya,” jawab Arjun. Ia mengalihkan pandangan pada Jingga.


“Ini istri, Anda?”


“Oh, iya. Ini istri saya Jingga.” Banyu menatap istrinya sekilas, kemudian kembali berkata, “Sayang, ini Pak Arjun, salah satu kolega ayah yang kemarin bantu aku sama Bang Rega untuk memulihkan kondisi perusahaan.”


Jingga mengangguk kecil sebagai tanda menyapa. Dibalas anggukan juga oleh Arjun.


Melihat putrinya sudah selesai dengan kudapannya, Arjun berpamitan pada Banyu dan Jingga. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada pasangan suami istri itu, karena sudah menjaga putrinya.


***


Jingga dan Banyu hendak pulang setelah serangkaian acara hampir selesai. Namun, langkah kaki Jingga terhenti saat netranya menangkap siluet bayangan Keyra bersama Kevin di balik pilar besar.


Jingga menyeret suaminya untuk menghampiri dua orang itu. Dan ternyata benar saja, Keyra dan Kevin sedang bergandengan tangan sembari berbincang dengan seorang wanita paruh baya.


“Key,” panggil Jingga.

__ADS_1


Keyra memutar tubuhnya mendengar suara orang yang begitu ia kenal. Gadis itu tersenyum canggung sembari melepaskan tangannya dari Kevin.


“Ji-Jingga!” Ia terkejut melihat adanya Jingga di sana. Tak pernah terlintas dalam benaknya akan bertemu sahabatnya itu di sini.


“Lo ngapain di sini?” tanyanya basa-basi.


“Harusnya gue yang tanya, lo ngapain di sini? Pengantin ceweknya kan temen suami gue.” Mata Jingga menyipit penuh curiga.


Keyra membasahi bibir bawahnya sebelum menjawab, “Gue dateng sama Kevin. Pengantin cowoknya sepupu dia,” jawabnya malu-malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena terlalu gugup.


Keyra masih terlalu malu jika ada yang tahu sedekat apa dirinya dan Kevin. Ia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang, karena dekat dengan mantan kekasih sahabatnya. Ya, walaupun sebenarnya ia yang lebih dulu mengenal Kevin daripada Jingga.


Tersenyum. Jingga melipat kedua tangannya di atas dada. “Oh, jadi ceritanya Kevin bawa gandengan buat acara keluarganya?” Kepala Jingga manggut-manggut. “Berarti kalian udah jadian dong?” tanyanya menebak.


Keyra melebarkan matanya tak percaya. “Eh, eng-enggak. Siapa yang pacaran. Kebetulan aja dia ngajak gue, dan guenya lagi bisa,” kilahnya.


Di sana Kevin hanya bergeming. Ia tidak ingin membuka suara, atau malah nanti dia salah menjawab dan Keyra akan marah padanya. Kevin tidak ingin mengambil risiko apapun saat ini.


“Key, ini siapa?” tanya seorang wanita paruh baya. Wanita itu menyentuh bahu Keyra, membuat Keyra menoleh dan menatap wanita itu.


Keyra menaikkan kedua alisnya. Lantas menjawab dengan sedikit gugup. “I-ini sahabat Keyra, Ma. Dan itu suaminya,” jawab Keyra. Ia sedikit canggung memanggil wanita itu dengan sebutan mama di depan Jingga.


“Oh ini sahabatnya Key.” Wanita itu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan saya Siska, ibunya Kevin,” ucap wanita itu.


Jingga mengerjap, lantas membalas uluran tangan wanita itu.


“Saya Jingga dan ini suami saya Mas Banyu”


Wanita itu tak melepaskan genggaman tangannya. Malah semakin mendekat pada Jingga. Matanya sedikit menyipit dan keningnya berkerut.


“Jadi, kamu yang namanya Jingga?” Senyum lebar wanita itu tercetak begitu jelas. “Pantes Kevin jadi berubah setelah pacaran sama kamu. Lawong orangnya baik sama cantik gini,” ucapnya tanpa beban. Ia menyentuh pipi Jingga dengan begitu lembut, seakan sedang mengagumi sosok mantan kekasih putranya.


Kali ini Jingga yang tersenyum canggung. Ia menatap pada Keyra yang tiba-tiba mengalihkan pandangan dari dirinya. Kemudian menatap suaminya yang juga berubah datar.


“Tante jangan ngomong gitu lah. Nanti ada yang marah,” pintanya memberanikan diri.


Siska mengerutkan keningnya. Kemudian tertawa setelah menatap ekspresi Banyu dan Keyra. Wanita itu melepaskan genggaman tangan Jingga dan beralih pada Keyra.


“Meskipun Jingga cantik dan baik terlebih bisa mengubah sedikit sifat Kevin. Tapi, kebanggaan mama Cuma kamu, Sayang.” Siska mencolek dagu Keyra.


“Aku nggak cemburu, Ma!”


“Iya nggak cemburu, Cuma iri,” goda wanita itu dengan menaikturunkan alisnya.


Bibir Keyra mengerucut kesal digoda oleh Jingga dan juga ibu Kevin yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


“Apa si, Ma. Nggak ada ya yang kayak gitu”


Siska hanya tertawa. Sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangan pada Jingga dengan senyum manis.


“Tan, aku sama Mas Banyu pamit dulu, ya.” Jingga kembali menggamit lengan suaminya, kemudian berlalu setelah menyalami Siska dan kembali menggoda Keyra.


“Udah sono, balik aja lo!” Keyra mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir sahabatnya itu.


Jingga hanya terkekeh sambil melangkah meninggalkan ballroom hotel tersebut. Dalam hatinya ia bersyukur Keyra bisa mendapatkan seseorang yang ... ya, katakan saja baik. Dan mendapatkan calon ibu mertua yang sepertinya juga menyayangi Keyra.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2