You Are Mine

You Are Mine
Part 63


__ADS_3

Banyu mengerjapkan matanya. Ia terpaku melihat istrinya yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang sembari memainkan gawainya. Pria itu menggaruk kepalanya, bingung melihat perubahan emosi istrinya begitu cepat. Padahal tadi saat ia masuk ke dalam kamar mandi, gadis itu masih memasang muka kesal. Dan Banyu sangat yakin ia mandi hanya memakan waktu dua puluh menit, tidak lebih.


Suami Jingga itu semakin dibuat heran. Pasalnya sekarang gadis itu menatap Banyu dengan senyum terkembang. Bahkan melambai padanya, memintanya untuk duduk di sampingnya.


Tak ingin mencari masalah. Banyu memilih untuk diam dan menuruti pujaan hatinya. Ia duduk di sebelah Jingga. Kemudian gadis itu tidur beralaskan pahanya.


"Maaf, ya?"


"Untuk apa?." Banyu mengusap rambut istrinya. Ia dapat melihat pancaran penyesalan dari mata gadis yang ia cintai itu.


"Aku udah marah-marah nggak jelas sama, Mas," ucap Jingga seraya menyusupkan wajahnya pada perut sang suami. Tangannya ikut melingkar pada pinggang Banyu, seperti tak ingin lepas dari pria itu.


"Kamu datang bulan ya?," tanya Bangu dengan tangan masih terus mengusap kepala Jingga.


Gadis itu mendongak. "Enggak sih. Seminggu yang lalu aku datang bulan, tapi anehnya cuma keluar dikit dan sekali."


Banyu mengernyit tak mengerti. "Emang bisa ya datang bulan cuma sehari?"


Jingga mengedikkan bahunya. "Aku sih pernah denger bisa." Ia kembali menyusupkan kepalanya pada perut Banyu.


"Bentar deh, dulu seinget aku Kikan pernah kayak gitu. Penyebabnya karena dia stres mikirin adiknya yang udah nggak ada." Banyu menatap istrinya. "Kamu lagi stres ya? Mikirin apa sih?"


Mata Jingga memicing tanpa Banyu tahu. "Enggak kok, aku nggak lagi mikirin apa-apa." Kepalanya menggeleng pelan. Ia menjawab jujur.


Banyu terdiam memikirkan keanehan ini. Ia masih setia mengusap kepala istrinya, hingga kakinya kesemutan. Banyu mengamati istrinya. Sepertinya sudah tidur, batin Banyu. Ia kemudian memindahkan Jingga dengan begitu hati-hati. Setelah itu, ia ikut membaringkan diri di sampingnya, memeluk Jingga dengan erat.


***


Pagi hari menyapa. Banyu merasakan dirinya didekap sangat erat. Pria itu membuka matanya, kemudian menggeliat. Matanya memicing pada jam dinding. Sudah pukul setengah enam, Banyu harus segera bersiap. Dengan perlahan ia melepaskan dekapan sang istri pada tubuhnya. Tapi sayangnya tidak bisa terlepas dan semakin erat.


"Sayang, aku harus bangun sekarang," ucap Banyu sembari mengusap sebelah pipi istrinya.


Jingga hanya bergumam tak jelas dan kembali mengeratkan dekapannya.


"Kamu kenapa sih? Ini udah siang lo," ucap Banyu lagi. Kali ini istrinya mau membuka mata.


"Aku mager banget, Mas. Gini aja ya. Bentar doang," jawab Jingga dengan muka memelas. Matanya pun kembali tertutup.


"Kamu sakit?" tanya Banyu.


Jingga menggeleng. Akhrinya Banyu hanya bisa pasrah. Ia mengusap-usap kepala istrinya lembut.


Setengah jam berlalu. Banyu kembali membujuk Jingga untuk melepaskan tubuhnya. Bersyukur, kali ini Jingga mau melepaskannya. Ia pun bergegas menuju kamar mandi dan membiarkan Jingga tetap pada posisinya.


"Kamu kalau sakit nggak usah ke kampus!" Banyu mendekap istrinya yang tengah berdiri dengan malas di depan pintu apartemen.

__ADS_1


Mata mereka saling berpandangan. Sejak tadi Jingga memang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Dan Banyu hanya bisa menyarankan itu pada sang istri karena tubuh Jingga memang dalam kondisi normal.


Jingga menyandarkan kepalanya pada dada suaminya. Tangannya melingkari tubuh Banyu. "Aku nggak papa, cuma lagi mager aja. Lagi pula nanti ada quiz, aku nggak boleh ketinggalan," ujarnya.


"Ya udah, terserah kamu. Kalau mau pulang nanti telepon aku aja. Kalau nggak sibuk nanti aku jemput, ya?"


Jingga hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan tempat tinggal mereka.


Kampus


"Kamu beneran nggak papa masuk kuliah?" tanya Banyu untuk kesekian kalinya selama perjalanan dari apartemen hingga kampus Jingga.


"Iya nggak papa, Mas." Jingga membuka seatbelt-nya.


"Ya udah hati-hati, ya."


Jingga mengangguk, lantas segera turun. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada sang suami.


Ruangan Banyu


"Tumben banget lo dateng jam segini"


Banyu sedikit berjingkat mendapati Deva berada dalam ruangannya.


"Dari jam berapa lo?" tanya Banyu. Ia meletakkan tasnya ke atas meja. Melepaskan jas dan menggantungnya pada sandaran kursi.


Banyu mengerjapkan matanya. Tangannya reflek menepuk kening. "Astaga, gue lupa. Jam berapa nanti?" tanya Banyu.


"Sejam lagi bego!" sarkas Deva. "Lo dari tadi ngapain aja sampek lupa jadwal. Padahal dari semalem gue ngingetin lo." Pria itu mendengkus.


"Ck... Dari tadi Jingga nggak bisa ditinggal. Gue udah bangun dari jam setengah enam, tapi gue nggak boleh ninggalin dia, katanya masih mager. Badan gue didekep kenceng banget, sampek nggak bisa gerak," jelas Banyu. Ia jadi ingat kondisi istrinya. Tangannya berinisiatif mengambil ponsel dan menghubungi istrinya melalui pesan.


"Tumben banget dia kayak gitu?" tanya Deva ikut dibuat heran.


"Gue juga nggak tahu. Mana tadi dia bilang badannya lemes, gue suruh libur dulu aja kuliahnya malah nggak mau."


"Ya mungkin dia cuma kecapean."


Banyu mengangguk. Tak lama kemudian sekretarisnya masuk dengan dua gelas kopi dan dua botol air mineral untuk Banyu dan Deva.


Kantin kampus


"Kok cuma diaduk, Ji? Lo nggak suka?" tanya Keyra.


Jingga menggeleng. Tangannya mendorong mangkuk berisi bakso ke tengah meja.

__ADS_1


"Mau gue pesenin yang lain?" tanya Kevin.


Saat ini Kevin dan Keyra memang lebih sering bersama, dan Jingga tidak mempermasalahkannya.


"Nggak usah, Kev. Gue minum ini aja." Jingga tersenyum kecil sebelum meminum jus alpukat melalui sedotan.


"Lo lagi nggak enak badan?" tanya Keyra. Lagi-lagi Jingga hanya menggeleng.


Kedua pasangan itu saling lirik. Dan selanjutnya tidak ada yang berbicara. Mereka fokus pada makanan mereka masing-masing.


Pukul satu lewat dua belas. Ketiga manusia tadi keluar dari kantin hendak menuju perpustakaan. Dalam perjalanan, Keyra lebih banyak mengobrol dengan Kevin dan Jingga berjalan di depan mereka.


Saat Keyra bercerita dengan Kevin tiba-tiba ....


Brukk


"Jinggaa!"


****


Banyu memarkirkan mobilnya sembarangan. Langkahnya terayun cepat menuju UGD.


Beberapa menit yang lalu Banyu mendapat telepon dari Keyra melalui ponsel istrinya. Gadis itu berkata Jingga pingsan di kampus dan dibawa ke rumah sakit olehnya dan Kevin. Buru-buru Banyu meninggalkan klien yang sudah ia tunggu sejak tadi pagi. Tanpa peduli apa risiko yang akan ia dapat nanti. Sekarang yang terpenting bisa melihat keadaan istrinya. Toh di sana juga ada Deva yang bisa Banyu andalkan.


Banyu menangkap tubuh Keyra berada di depan UGD bersama Kevin, ia pun segera menghampiri kedua teman Jingga itu.


"Gimana keadaan istri gue?" tanya Banyu dengan napas naik turun.


Keyra sempat terpesona melihat penampilan Banyu yang begitu berbeda. Cepat ia sadar saat tiba-tiba Kevin mengusap wajahnya.


"Ihhh," Keyra menepis tangan Kevin dan menatapnya sinis. Kemudian beralih menatap Banyu.


"Belum tahu juga, Mas. Masih diperiksa. Ini kita baru selesai daftarin nama dia," jawab Keyra.


Tak lama kemudian seorang perawat mencari seseorang yang membawa Jingga ke sana. Sontak Kevin dan Keyra menyusul perawat tersebut. Banyu pun mengikuti mereka dari belakang.


"Apa benar pasien ini sudah menikah?" tanya seorang dokter muda yang sepertinya tadi menangani Jingga.


"Benar, Dok. Saya suaminya." Banyu maju, mendekat pada dokter tersebut. Alisnya mengerut mendapati dokter itu tersenyum.


"Kalau begitu selamat, Pak. Istri Anda hamil."


Banyu terpaku. Mencerna ucapan dokter itu. "Is-istri saya hamil, Dok?" tanya Banyu memastikan.


"Iya, Pak. Istri Anda hamil," jawab dokter itu sambil menahan tawa kecilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2