You Are Mine

You Are Mine
Part 54


__ADS_3

Melupakan siapa wanita yang sering mengunjungi Icha di panti asuhan. Banyu dan Jingga mengajak gadis kecil itu pulang ke apartemen setelah makan malam di restoran. Rencananya besok sore mereka baru akan mengantarkan Icha kembali. Ada beberapa hal yang harus mereka beli untuk diberikan pada anak panti yang lain.


Terlalu kelelahan, gadis kecil itu tertidur saat mereka dalam perjalanan pulang. Saat ini Jingga mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Ia tersenyum menatap wajah manis Icha yang tengah terlelap. Jingga mencubit pipi Icha karena terlalu gemas. Tidak ada reaksi apapun dari gadis kecil itu selain menggaruk pipinya. Membuat Jingga terkekeh sendiri.


Jingga mendongak, mengalihkan pandangan dari Icha saat merasakan seseorang mencium pipinya. Ia tersenyum mengikuti senyum suaminya.


"Seneng banget kamu." Banyu mendudukkan dirinya di tepi ranjang, di belakang Jingga. Ia mengusap lembut kepala istrinya.


Jingga hanya tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya. Perasaannya memang begitu senang hari ini. Ia jadi membayangkan bagaimana jika suatu saat mereka memiliki anak sendiri. Mungkin akan jauh lebih membahagiakan. Bisa bersama seorang malaikat kecil setiap hari. Jingga semakin tersenyum lebar kala membayangkan keluarga kecilnya bertambah.


"Hari ini untuk pertama kalinya aku bisa seseneng ini," ucap Jingga tanpa menoleh pada suaminya.


"Emang dulu kamu ngapain aja sampai nggak bisa seseneng ini?" tanya Banyu heran. Bukankah istrinya ini baru saja mengalami masa SMA? sejak dulu yang ia tahu, masa SMA adalah masa paling membahagiakan.


"Dari dulu aku jarang keluar. Sekali pamit, pasti nggak diizinin sama mama. Kalaupun pengen keluar sama Keyra, pamitnya ke papa lewat telepon. Tapi ujung-ujungnya pasti tetep dimarahin mama." Ada nada sendu dari setiap kata yang terucap dari bibir gadis itu.


"Itu tandanya mama sayang sama kamu," ucap Banyu pengertian.


Jingga menggeleng. "Mama nggak pernah sayang aku," ucapnya sendu.


"Kok kamu bilangnya gitu?"


"Kamu tahu, mama ngomong apa kalau aku keluar tanpa izin mama?"


Banyu menaikkan kedua alisnya. "Apa?"


Jingga tersenyum kecut mengingat bagaimana masa-masa saat ia masih sekolah dulu. "Kamu itu anak nggak tahu diuntung. Udah enak disekolahin malah ngehamburin duit orang tua." Ia menirukan ucapan mamanya dulu. "Setelah itu pasti aku nggak dikasih uang jajan selama seminggu ditambah ponsel dan laptop aku disita," imbuhnya.


Banyu merasa semua yang Jingga ceritakan mustahil adanya. Yang ia tahu, seorang ibu pasti menyayangi putrinya. Semarah apapun ibu, mereka tidak akan tega mengambil uang jajan putrinya. Tapi mendengar semua itu pengalaman istrinya sendiri, sangat tidak mungkin jika itu hanya bualan semata.


"Mungkin itu karena mama sayang sama kamu. Mama pengen kamu minta izin baik-baik ke mama, dan untuk hukuman itu biar kamu jera dan nggak ngulangin lagi."

__ADS_1


Jingga menoleh, ia membuang napasnya malas. Sepertinya bagaimanapun Jingga menjelaskan Banyu tidak akan pernah mengerti bagaimana sikap ibunya itu. Memang terlalu mustahil ada ibu seperti itu, tapi nyatanya memang seperti itu adanya. Jingga tidak pernah mengada-ngada.


Tak ingin ada perdebatan lagi, Jingga memilih diam tak menanggapi. Hingga ia merasakan suaminya merangsek di belakangnya. Ia pun sedikit menggeser tubuhnya.


Banyu melingkarkan tangannya pada pinggang Jingga. Menghirup aroma rambut istrinya yang begitu wangi. Tak lupa satu kecupan ia berikan pada kepala gadis itu. Sebelum akhirnya ia melabuhkan diri pada alam mimpi.


***


Pagi yang sangat berbeda untuk Jingga dan juga Banyu. Adanya Icha di tengah mereka, membuat satu kerepotan yang sangat menyenangkan.


Dengan sangat telaten Jingga membangunkan gadis kecil itu. Seperti layaknya anak kecil lain yang masih sulit untuk dibangunkan, Icha pun juga begitu. Hingga jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, bocah itu baru mau membuka matanya. Setelah itu, Icha mandi sendiri. Memakai pakaian sendiri tanpa bantuan orang lain, karena sudah menjadi kebiasaannya saat di panti.


Sarapan hari ini hanya Banyu yang memasak, karena Jingga sibuk menata semua keperluan Icha untuk dibawa pulang ke panti. Mereka sarapan dengan ceria. Celotehan Icha meramaikan pagi mereka.


Selesai sarapan, Banyu dan Jingga mengajak Icha pergi ke sebuah toko makanan ringan. Mereka akan membeli beberapa snack di toko tersebut untuk diberikan pada anak-anak panti yang lain.


"Ma, kenapa kita nggak ngajak bunda juga?" tanya Icha setelah lelah menatap jalanan luar dari kaca jendela mobil.


"Bunda sedang sibuk, sayang," jawab Banyu masih fokus dengan kemudinya. Icha hanya manggut-manggut saja, seolah ia paham.


***


Satu jam berlalu. Mereka tiba di toko khusus makanan ringan. Langkah kaki Icha begitu semangat melihat banyaknya snack berjajar di etalase toko tersebut. Memperlihatkan beberapa produk mereka sebagai ajang promosi.


Ketiga orang itu terlihat memilih beberapa makanan ringan yang pas untuk dibagikan pada anank panti. Banyu sebagai sopir stroller hanya bisa mengikuti kemanapun kedua wanita itu melangkah.


Jingga masih terus melangkahkan kakinya sembari memindai setiap produk makanan ringan yang ditata rapi. Dan saat ia memadang lurus ke depan, ia melihat sosok wanita yang semalam ia bicarakan bersama suaminya.


"Mama," gumamnya sangat lirih.


"Eh itu mama kan?" Banyu menunjuk ke tempat ibu mertuanya berdiri. Jinggga mengangguk.

__ADS_1


"Ayo samperin!" ajak Banyu.


Jingga terdiam. Ada rasa rindu yang sedikit mengusik jiwanya. Namun, tetap saja ada rasa segan untuk menemui wanita yang telah melahirkannya. Tidak pernah ada pertemuan manis antara dirinya dan sang ibu, hingga Jingga sangat enggan untuk menemui wanita itu.


Jingga berusaha mengingat kapan terakhir ia berbicara dengan ibunya. Dan ingatannya kembali saat resepsi. Lebih tepatnya beberapa menit setelah resepsi berakhir. Mereka berbicara dengan penuh ketegangan dan berakhir dengan tangisan dari Jingga.


"Ayo, malah diem." Banyu mengguncang bahu Jingga.


Jingga pun menurut. Sisi baik dalam dirinya menyuruhnya untuk menyapa ibu kandungnya sendiri. Ia mengembuskan napasnya pelan. Mencoba mengontrol emosinya sendiri. Ia akan mulai belajar untuk nenerima semua dari masa lalunya. Terutama tentang ibu kandungnya.


"Ma," sapa Banyu.


Wanita itu menoleh kemudian tersenyum lebar mendapati sang menantu. Namun wajahnya tiba-tiba sangat berubah saat menatap Jingga. Apalagi gadis itu menggenggam tangan seorang anak kecil.


"Ma," Kali ini Jingga yang bersuara. Ia menyalami ibunya.


Dapat Banyu lihat bagaimana sikap ibu mertuanya yang terlihat tidak senang dengan kedatangan istrinya.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?" Pertanyaan itu terlontar saat menatap Banyu.


"Baik, Ma." Banyu membalas senyum ibu mertuanya.


"Pasti Jingga nyusahin kamu ya? dia dari kecil emang nyusahin banget. Kalau dia bikin salah atau ulah, kamu hukum aja dia biar kapok." Tak ada raut gurauan dari wanita itu. Bahkan ia melirik putrinya sinis.


Banyu bisa membaca, apa yang istrinya semalam katakan memang benar adanya. Ia pun hanya membalas ucapan ibu mertuanya dengan senyuman.


Sedangkan Jingga hanya menunduk. Seperti ingin pergi dari sana secepatnya.


"Kamu jangan nyusahin suami kamu terus. Belajar nglayanin suami. Belajar hemat juga. Jangan sukanya ngehamburin duit doang kamu." Ucapan mama Kiran terdengar begitu sarkas. Tidak ada kelembutan menyertainya. Membuat Jingga semakin menunduk.


Melihat istrinya semakin terlihat sedih, Banyu berpamitan pada ibu mertuanya untuk melanjutkan langkah mereka. Ia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

__ADS_1


Dan di satu sisi ruangan. Seseorang menyembunyikan dirinya. Mengintip dari celah jejeran rak. Menatap seorang gadis kecil yang sering ia temui secara diam-diam.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2