You Are Mine

You Are Mine
Part 38


__ADS_3

Jingga membanting pintu kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai. Hatinya hancur. Ia sama sekali tak menyangka, cinta pertama yang pernah ia rasakan ternyata hanya cinta palsu semata. Ia menyesal pernah terjerat pada cinta Kevin dengan begitu dalam. Bahkan nama pria itu belum hilang sepenuhnya dari hati kecilnya.


Air matanya tak dapat ia tahan. Menangis sekeras mungkin. Ia berteriak memaki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dulu ia percaya pada pria playboy itu. Apa salahnya dimasa lalu hingga ia dipermainkan seperti itu. Jingga memukul dadanya, berharap rasa sesak segera pergi.


...


Senja baru saja muncul saat Banyu membuka pintu apartemennya. Langkahnya terayun menuju dapur. Ia meneguk segelas air putih. Menghempaskan dahaga yang sejak tadi menghampiri dirinya.


Pria itu memutar kepala. Mencari sosok istrinya. Biasanya gadis itu berada di depan teve jika pulang lebih dulu. Tapi kali ini ia tak melihat batang hidung gadis itu.


Menghilangkan rasa penasaran, Banyu bergegas mencari keberadaan istrinya. Pikiran pria itu hanya tertuju pada kamar. Benar saja, setelah membuka pintu kamar ia mendapati istrinya tengah duduk di balkon. Ia pun segera mendekati istrinya.


"Hei!" Banyu duduk di samping istrinya.


Gadis itu tersentak. Ia mengusap air mata yang masih saja terjun tanpa henti. "Baru pulang?" Jingga menoleh. Memasang senyum, mencoba menyembunyikan segala kesedihan yang baru saja ia rasakan.


"Kamu nangis?" Mata sembab dan hidung memerah Jingga tak dapat disembunyikan dengan mudah. Banyu sangat tahu gadis itu baru saja menangis.


Jingga kembali mengusap pipinya. "Enggak kok." Elaknya lagi. Ia memalingkan wajahnya. Tak mau terlihat menyedihkan di hadapan Banyu.


"Jangan bohong!" Banyu menarik wajah Jingga hingga menghadap dirinya. "Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja." Ia menatap Jingga lembut, berharap gadis itu mau menceritakan masalahnya.


Tak kuasa menatap mata teduh suaminya. Jingga dengan berani memeluk pria itu, menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan sendiri.


Entah benar atau salah. Hatinya terlalu sakit mengingat kejadian siang tadi. Fakta yang baru ia dengar benar-benar mematahkan hatinya. Menghancurkan seluruh cinta yang masih sedikit tersimpan untuk Kevin, meskipun ia sudah memiliki suami.


Salahkah jika ia bersedih, tatkala cinta pertamanya ternyata tak sungguh mencintainya. Pria pertama yang berhasil meluluhkannya ternyata hanya mempermainkannya saja. Bukankah ini sangat menyakitkan?


Air matanya yang tak dapat lagi terbendung membasahi kaos hitam milik Banyu. Ia semakin mengeratkan dekapannya tatkala mengingat kejadian tadi. Meskipun hanya masa lalu, tapi tetap terasa begitu pilu.


Banyu mengusap punggung Jingga pelan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang tengah dialami istrinya.


"Apa sebegitu besarnya dosaku dimasa lalu, hingga Tuhan menghukumku seperti ini." Gumaman Jingga cukup lirih, tapi Banyu masih bisa mendengarnya. Ia semakin dibuat bingung. Tetapi tetap diam dan semakin mengeratkan dekapannya, sesekali ia mencium puncak kepala istrinya.


Lama mereka dalam posisi ini. Hingga akhirnya Jingga sedikit lebih tenang dan melerai dekapan mereka. Banyu mengusap pipinya yang basah akan air mata. Namun, pergerakannya terhenti saat mendengarkan ungkapan Jingga.


"Ternyata, selama ini Kevin tidak mencintaiku."


Apa aku salah dengar?, batinnya.


"Dia hanya mempermainkan perasaanku saja." Menghela napas. "Dulu dia mendekati ku setiap hari meskipun aku tak acuh padanya, hingga akhirnya aku luluh dan benar-benar jatuh cinta pada Kevin. Tapi ternyata semua itu dia lakukan untuk memenangkan taruhan yang dibuat teman-temannya." Jingga kembali terisak. "Apa aku sehina itu?"

__ADS_1


Banyu terpaku. Ia tidak fokus dengan apa yang Jingga katakan barusan. Karena hatinya turut teremas saat nama mantan kekasih istrinya disebutkan. Ia hanya bisa mengusap kepala istrinya dengan pelan.


"Apa kamu masih mencintainya?"


Jingga gelagapan mendengar pertanyaan Banyu. Tidak mungkin kan ia mengatakan 'iya' pada suaminya. Meskipun mereka belum saling mencintai, bukankah tetap tidak benar?.


"Mas Banyu sudah makan malam? Aku lapar. Aku order aja ya?" Setelah mengatakan itu Jingga berlalu, masuk ke dalam kamar meninggalkan Banyu sendiri di sana.


"Apa itu artinya kamu masih belum bisa mencintaiku, Jingga?" gumam Banyu. Ia menatap nanar punggung Jingga yang telah hilang ditelan pintu.


...


Pagi hari tiba. Banyu membantu Jingga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Jam dua"


"Aku jemput, ya. Nggak lupa kan nanti kita harus ke rumah bunda?"


Jingga menggeleng. Pagi ini suasana hatinya sedikit lebih baik. Ia sendiri tidak tahu, bagaimana bisa secepat itu ia melupakan kejadian kemarin siang. Meskipun masih sedikit terngiang dengan setiap apa yang ia dengar. Rasanya sudah tak sesakit kemarin.


Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Saat matanya hampir terpejam, ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa diberitahu pun ia tahu siapa pelakunya. Ada gelenyar aneh yang tiba-tiba ia rasakan. Terutama saat napas pria itu menerpa tengkuknya.


"Aku masuk dulu, ya. Kamu hati-hati." Setelah menyalami Banyu, Jingga bergegas pergi. Karena kelasnya sebentar lagi akan dimulai.


...


Waktu sudah menunjukkan pukul 14.15, dan Jingga baru saja keluar dari kelasnya. Ia berjalan sedikit cepat, takut suaminya sudah menunggu.


Saat melewati koridor yang cukup sepi, tiba-tiba seseorang mendekap Jingga dari belakang. Ia hampir saja melawan. Tapi urung, setelah mendengar suara yang begitu ia kenal.


"Jingga, please maafin aku."


Jingga terpaku sejenak. Ia rindu suara pria ini. Tapi kerinduan itu telah sirna sejak kemarin. Sejak ia mendengar sebuah kebenaran yang begitu menyakitkan.


"Kevin, lepas!" Jingga tak bergeming. Ia terus memberontak. Mencari cara agar bisa lepas dari pria yang pernah mengisi hati dan harinya.


"Aku nggak akan lepas kamu, sampai kamu mau dengerin penjelasan aku." Pria itu semakin mengeratkan dekapannya.


"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Lagian kita udah putus. Aku juga udah punya suami."

__ADS_1


"Jingga, please. Jangan pernah katakan kita udah putus. Kamu dengerin penjelasan aku ok?." Kevin membalik tubuh Jingga hingga menghadap dirinya.


"Kev, aku nggak ada waktu buat kamu! Lepasin aku!" Jingga tetap saja memberontak, tapi tenaganya tak bisa membuatnya lepas dari Kevin.


"Ji, aku beneran cinta sama kamu. Awalnya aku emang deketin kamu untuk taruhan itu. Tapi semua berubah saat aku kenal kamu. Aku jatuh cinta sama kamu, Ji."


Kevin menatap Jingga dengan perasaan hancur. Ya, ia hancur melihat Jingga tersenyum dengan pria lain. Hati Kevin telah terpaut kuat pada Jingga. Tak mudah baginya melupakan Jingga. Gadis itu tak sama dengan gadis lain. Sikap dan sifatnya membuatnya lupa siapa dirinya. Membuatnya ingin menjadikan Jingga sebagai miliknya sendiri. Menjadi pendampingnya di masa depan.


"Bohong!"


Jingga menatap nyalang. Ia benci pada Kevin saat ini. Sudah cukup Jingga dipermainkan dimasa lalu. Ia tidak akan bisa dibohongi lagi.


"Aku nggak percaya sama semua penjelasan kamu." Dadanya naik turun menahan emosi. "Aku benci kamu Kev, aku benci!" Jingga hendak berbalik meninggalkan Kevin. Tapi terlambat Kevin lebih dulu menarik dirinya, mendekapnya, mencium bibirnya dengan paksa. Jingga berusaha memberontak tapi tetap saja gagal karena eratnya dekapan Kevin.


Saat merasakan Kevin merasa lengah, Jingga mendorong pria itu dan ...


Plak


Melayangkan satu tamparan cukup keras. Hingga menampakkan jejak tangannya.


"Brengsek!"


Kevin tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Ia menghampiri Jingga sambil bergumam maaf.


"Maaf, Jingga. Aku khilaf. Ji. Aku nggak sengaja. Jingga itu tanda kalau aku masih cinta sama kamu."


Jingga menggeleng. Tatapannya penuh dengan kebencian. "Stop! Jangan mendekat!" Jingga mengangkat telapak tangannya.


"Ingat Kevin kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Jingga masih berjalan mundur. "Dan ingat satu hal. Aku-benci-sama-kamu."


Jingga berbalik dan berlari meninggalkan Kevin sendiri. Air mata yang hendak jatuh ia halau dengan mendongak menatap langit. Ia tidak ingin terlihat kacau di depan Banyu. Atau masalah ini tidak akan pernah selesai.


Sebelum sampai gerbang, Jingga berhenti. Memastikan penampilannya normal seperti biasa. Ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 14.30. Pasti Banyu sudah menunggunya. Dan benar saja, pria itu sudah di depan gerbang kampus. Di tempat biasa pria itu menurunkan Jingga saat pagi hari.


"Udah lama, Mas?" tanya Jingga basa-basi. Tak lupa memasang senyum lebar seperti biasa.


Tak ada tanggapan dari pria itu. Hanya suara kunci motor yang diputar dan mesin motor yang mulai menyala saja yang terdengar.


"Maaf, ya kalau kamu nunggu lama. Tadi dosennya telat. Ponsel aku juga mati. Jadi nggak bisa hubungi kamu."


Hening. Lagi-lagi Banyu tak menanggapi. Jingga sendiri dibuat bingung dengan sikap Banyu yang tak biasa.

__ADS_1


Mungkin sedang kecapaian, dan boring nunggu gue. Jingga bermonolog sendiri sambil mengancingkan helmnya.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2