
Hening menyelimuti ruang rawat Jingga. Menyebarkan hawa dingin yang begitu kental tanpa adanya suara.
Dalam ruangan tersebut, hanya ada Jingga dan ibunya. Sedangkan Banyu dan yang lain keluar, memberikan ruang untuk mereka berbicara.
Tak ada dari keduanya yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Kecanggungan yang teramat besar menyelubungi hati mereka.
"Ji ..."
"Ma ... "
Mereka saling tatap saat saling memanggil secara bersamaan. Andai kata mereka akrab, mungkin saat ini mereka sedang menertawakan kekompakan mereka.
"Mama dulu," suruh Jingga sedikit canggung.
Wanita itu menatap putrinya, sedih. Ia meraih tangan kanan Jingga yang terpasang infus. Membelainya dengan begitu lembut dan hangat. Hingga ia sendiri merasakan kehangatan itu merasuk dalam dadanya.
"Maafin mama ya, Sayang" Matanya terasa begitu panas, kala satu kalimat pendek itu bisa meluncur. "Gara-gara mama, kamu jadi seperti ini." Air mata mulai mengembun, memenuhi kelopak mata Kiran.
"Ma," Jingga mengusap tangan ibunya yang masih setia menggenggam tangannya. "Mama nggak perlu minta maaf untuk ini. Semua yang aku lakukan adalah kewajibanku sebagai seorang anak." Ucapan Jingga berhasil meloloskan satu air mata ibunya.
"Kenapa, Ji? Kenapa kamu sangat baik pada mama, padahal mama nggak pernah baik sama kamu." Kiran terisak, dadanya terasa terhimpit batu, sesak. Bagaimana bisa ia memiliki seorang putri yang begitu baik, padahal ia seorang ibu yang begitu jahat.
"Mama minta maaf untuk semua perlakuan mama di masa lalu. Mama sudah jahat sama kamu. Maaf telah menyia-nyiakan kamu." Air matanya tak dapat lagi terbendung. Ia menangis dan menyesali semua perbuatannya pada Jingga. Wanita itu ingin memperbaiki semuanya dan menjalani hidup rukun bersama putri bungsunya.
Jingga berkaca-kaca. Apakah ini yang dimaksud keajaiban Tuhan? Apakah ini yang disebut buah dari kesabaran?. Jingga tak sanggup lagi menahan keharuan yang terjadi. Air matanya ikut luruh seperti ibunya.
"Maa ..."
Kiran berdiri, duduk di samping Jingga. Merangkul, memeluk, dan mencium putrinya dengan penuh sayang. "Maafkan mama, Sayang. Maafkan semua kesalahan mama. Mama janji akan menyayangi kamu sebagaimana mestinya. Mama akan menebus semua kesalahan mama. Maafkan mama, Jingga" Kiran semakin terisak. Mungkin ini memang jalan terbaik. Melupakan masa lalu, menerima yang sudah ada, dan memperbaiki yang hampir rusak.
"Terima kasih, Ma... " gumam Jingga lirih. Ia memeluk ibunya begitu erat, seolah meyakinkan diri, bahwa semua ini bukan mimpi semata.
"Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengabulkan keinginan yang tak pernah lupa aku panjatkan pada-Mu," batin Jingga.
Rasa syukur akan kejadian ini semakin menjadi. Benar kata Kikan, semua pasti memiliki hikmah tersendiri.
Jingga kehilangan janinnya, namun di sisi lain, ia mendapatkan kembali sosok ibunya yang tak pernah mengisi hari-harinya.
__ADS_1
***
Di tempat lain
"Udah deh, Nyu, lo tu nggak usah khawatir. Gue yakin, mertua lo nggak bakal ngapa-ngapain Jingga." Kikan merasa begitu kesal pada Banyu. Sebab sejak tadi pria itu menggeram frustasi seakan istrinya terancam bahaya.
"Lo nggak tahu, Ki, gimana hubungan mereka yang sebenarnya," jawab Banyu frustasi.
"Nyu, gue cewek. Dan gue tahu mana tatapan orang yang tulus. Gue yakin, kali ini mertua lo itu sadar, dan sekarang dia lagi minta maaf ke Jingga." Kikan meletakkan sendoknya sedikit kasar. Menguapkan rasa kesalnya pada Banyu. "Dan gue tegesin ke lo. Gue tahu banyak tentang Jingga. Gue tahu gimana hubungan dia sama nyokapnya," imbuhnya setelah beberapa saat.
"Kikan bener. Tante Kiran itu nggak sejahat yang lo pikirin. Dia itu sebenarnya baik. Gue kenal keluarga istri lo udah lama. Gue juga yakin sekarang mertua lo itu udah sadar." Deva membenarkan ucapan Kikan dengan mengimbuhi beberapa alasan yang ia tahu.
"Sekarang lo makan! Lo tu lagi laper, makanya marah-marah mulu." Kikan menyodorkan satu piring nasi goreng yang tadi Banyu pesan. Memaksa sahabatnya yang keras kepala itu untuk makan.
***
Banyu terdiam di depan pintu kamar rawat Jingga. Ia mendengar suara tawa istrinya bersama ... ibu mertuanya?.
"Nah kan, apa gue bilang," bisik Kikan sembari memutar gagang pintu dan mendorongnya.
"Tan," sapa Kikan sembari menyalami ibu mertua sahabatnya. Ia lalu berpaling menatap Jingga. "Gue balik dulu ya sama Deva. Besok gue ke sini lagi," pamit Kikan.
"Udah malem, kasian Kikan capek pasti. Dia kan baru pulang kerja langsung ke sini," ucap Banyu menyusul Kikan dan berdiri di sampingnya. "Kamu juga harus istirahat, Sayang," imbuhnya.
"Janji ya besok ke sini lagi" Jingga memberikan sorot mata berharap pada Kikan.
Kikan mengangguk. Setelah itu ia keluar bersama Deva.
"Mama juga pulang dulu, ya," ucap Kiran sembari beranjak dari kursinya. "Kamu harus istirahat biar cepet sehat" Kiran mengusap kepala Jingga dengan lembut.
"Besok Mama ke sini lagi kan?" tanya Jingga penuh harap.
"Mama usahain ya? Soalnya ada banyak pesanan bunga untuk besok," jawab Kiran.
Jingga mengangguk. Menimbulkan satu senyuman pada bibir Kiran.
"Mama pulang dulu ya, Banyu. Kamu jagain Jingga," pamit Kiran. Ia keluar dari sana setelah mencium kening Jingga.
__ADS_1
Dalam hati Kiran bersyukur, Jingga tak membencinya dan masih mau menganggapnya sebagai ibu. Padahal ia tak pernah memperlakukan Jingga dengan baik. Ditambah kejadian sore tadi hingga Jingga kehilangan janinnya. Kiran menyesal, sungguh menyesal. Dan kini ia akan mulai memperbaiki hubungannya dengan Jingga.
***
"Bagaimana sudah lebih baik?" tanya Banyu. Ia duduk di samping istrinya di tepi ranjang.
"Ya, semakin baik setelah mama akhirnya mau berbicara denganku," jawab Jingga. Kepalanya bersandar nyaman pada bahu Banyu. "Aku merasa ini adalah hari bahagiaku, meskipun kita harus kehilangan dia." Perasaan sedih tiba-tiba menyelubungi mereka lagi.
Segera Banyu mendekap tubuh Jingga. "Kita tidak kehilangan apapun. Dia masih ada dalam hati kita. Dia pasti juga sedang melihat kita saat ini," ucap Banyu. Ia yakin anaknya yang saat ini sudah tiada pasti sedang memperhatikan mereka dengan bangga. "Jangan sedih lagi, ya? Aku takut dia juga sedih kalau lihat kamu sedih kayak gini. Dia sangat hebat, karena mau ikut berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan kamu yang lain." Banyu mengulas senyumnya. Pancaran bahagia dan sedih beradu menjadi satu dan senyuman adalah pengalihan dari rasa sedihnya yang ingin ia simpan dengan rapat.
"Ya, aku berjanji, asal kamu tetap bersamaku sampai kapanpun" Jingga menatap Banyu penuh cinta. "Terima kasih sudah ada di sampingku," ucapnya lagi.
Banyu mengulas senyumnya lagi. "Sekarang istirahat, biar cepet sembuh" Banyu mengurai dekapannya. Menurunkan ranjang hingga bisa digunakan untuk berbaring. Ia menata bantal Jingga dengan begitu telaten. Kemudian membantu istrinya untuk berbaring.
"Mas, tidur di mana?" tanya Jingga. Keningnya mengernyit saat Banyu hendak meninggalkannya.
"Di sana," Banyu menunjuk sofa dengan dagunya.
"Tidur sini aja!" Jingga menepuk-nepuk sebelah ranjangnya yang kosong.
Banyu menatap ranjang Jingga. Memang cukup besar, muat untuk dua orang, tapi ....
"Kamu yakin?" tanya Banyu memastikan
Jingga mengangguk. "Aku mau tidur dipeluk sama kamu," pintanya dengan nada manja.
"Ok," Banyu melepas sepatunya. Kemudian naik dan ikut merebahkan diri di samping Jingga yang sudah bergeser.
Mereka tidur saling berhadapan. Banyu merapikan rambut Jingga yang menutupi wajah cantik wanita itu. Mata mereka saling bertubrukan dan tiba-tiba saja Banyu teringat sesuatu.
"Aku lupa mau ngucapin sesuatu sama kamu," ucapnya membuat alis Jingga tertaut.
"Selamat ulang tahun istriku sayang. Semoga bertambahnya usia, kamu bisa menjadi wanita yang lebih hebat lagi. Semakin bijak, pintar, cantik, dan tentunya semakin bermanfaat bagi orang lain. Semoga apapun yang kamu inginkan terkabulkan."
Mata Jingga berkaca-kaca. Ia bahkan lupa tentang hari ulang tahunnya. Ia memeluk suaminya itu. "Terima kasih," gumamnya dengan suara serak.
Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Banyu melingkarkan tangannya pada tubuh Jingga. Mengusap punggung wanita itu dengan lembut, mengantarkannya pada alam mimpi. Tak butuh waktu lama, mereka sudah masuk ke dunia mereka masing-masing.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤