
Tak bisa dipungkiri. Kepekaan Wina terhadap sikap Rania patut diacungi jempol. Gadis itu selalu tahu apa yang tengah Rania rasakan saat ini tanpa Rania bercerita. Hanya Wina yang seperti itu tidak ada yang lain. Bahkan Rania sampai bingung sendiri harus bersikap seperti apa agar Wina tak lagi bisa menebak suasana hatinya.
Sejenak senyap menyapa kedua gadis itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Rania sibuk dengan rangkaian kata yang akan ia ceritakan pada Wina dan Wina sibuk menunggu jawaban yang tanpa diutarakan pun ia sudah tahu.
Denting jam terdengar menggema. Mengisi kamar Rania yang masih saja senyap. Hingga helaan napas Rania membuat Wina menegakkan punggungnya.
Kedua gadis itu saling tatap. Sorot kesedihan dan rasa penasaran sama-sama mereka lemparkan. Sampai pada akhirnya Rania mulai menceritakan tentang pertengkarannya dengan sang kakak pagi itu.
Wina tahu, sahabatnya satu ini memang memiliki keluarga yang cukup kaku. Sehingga ia tidak terkejut mendengar Rania menceritakan bahwa ia baru saja dibentak oleh kakaknya sendiri hanya karena meminta untuk diantar sekolah. Wina sangat menyayangkan keretakan hubungan keluarga Rania yang disebabkan oleh keluarganya sendiri.
Mereka yang selalu mementingkan pekerjaan membuat salah seorang anggota keluarga mereka telantar. Wina mengusap bahu Rania setelah gadis itu selesai bercerita. Ia jadi merasa bersalah sendiri karena membuat Rania kembali bersedih.
“Lo yang sabar ya, Ran. Gue tahu ini cukup berat. Tapi, mau gimana lagi, jalan kita emang kayak gini. Lo harus bisa jadi semakin kuat. Gue tahu lo bisa,” ucap Wina mendapatkan satu senyum Rania kembali.
“Sekarang kita tidur, besok kita harus bangun pagi. Gue setel alarm dulu.” Wina mengutak-atik ponselnya menyalakan alarm pada pukul lima pagi. Setelah kembali meletakkan ponsel di atas nakas, kedua gadis itu merebah dan mulai menggapai mimpi.
**
Minggu pagi yang cukup panas. Ata berulang kali menghela napas lelah di belakang ayah dan ibunya. Cowok dengan jaket denim berwarna abu-abu itu tampak lelah mengikuti langkah kedua orang tuanya yang sejak tadi mengelilingi pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumah neneknya.
“Ayah sama Mama sebenarnya mau cari apa sih? Dari tadi Cuma muter-muter mulu. Capek aku,” keluh Ata dengan wajah lelahnya.
Sudah satu jam lamanya mereka mengelilingi mal itu dan tak ada satu pun barang yang dibeli oleh ayah maupun ibunya. Ata tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari di sana.
“Yah,”
Pertanyaan Ata bagai angin lalu. Kedua orang tuanya tak menyahut membuat dia semakin kesal saja. Saat ia beralih memanggil sang ibu, Ata dibuat sama kesalnya. Wanita paruh baya yang masih cantik itu hanya menoleh tanpa menjawab apa pun.
__ADS_1
Di belakang punggung kedua orang tuanya Ata mengepalkan tangan gemas. Kenapa orang tuanya tiba-tiba berubah sangat menjengkelkan hari ini?, batinnya.
“Maaa,” rengek Ata menahan langkah Jingga.
“Apa sih, Kak?” tanya Jingga santai. Wanita itu seperti tak melihat raut lelah dan kesal dari wajah putra ke duanya. Bahkan ia masih sempat cekikikan dengan suaminya saat melihat seorang bayi lucu yang melewati mereka.
“Kalian itu sebenarnya mau ngapain ke mal? Kenapa dari tadi cuma jalan aja, nggak mampir ke toko apa gitu?”
Jingga dan Banyu memutar tubuh, menatap putra ke tiga mereka dengan saksama. Wanita paruh baya itu mengusap lengan Ata lembut lantas menjawab, “Memangnya tadi ayah sama mama bilang mau beli sesuatu ke sini?”
Ata mengerjap. Ia ingat tadi sebelum berangkat kedua orang tuanya ini hanya mengatakan ingin pergi ke mal. Bukankah itu artinya mereka membutuhkan sesuatu dan hendak membelinya?.
“Kita ke sini cuma mau jalan-jalan, Kak.”
Bahu Ata merosot mendengar pernyataan konyol itu. Jadi, sejak tadi ia hanya mengikuti dua manusia paruh baya jalan-jalan?. Ata pikir, mereka ingin membeli sesuatu sehingga ia bisa meminta barang yang sedang ingin ia beli. Setiap kali Ata ikut kedua orang tuanya belanja ia selalu dibayari oleh ayahnya. Berbeda jika ia belanja sendiri, maka ia harus menguras kantongnya terlebih dulu.
“Ayah sama mama udah biasa kali, Ta, jalan-jalan di sini. Bukannya kami sering keluar dan pulang tanpa membawa apa pun?”
Pertanyaan Banyu mengingatkan Ata bahwa apa yang pria itu katakan benar adanya. Kedua orang tuanya itu memang sering keluar rumah dan pulang tanpa membawa buah tangan.
“Emangnya kamu ikut kami mau ngapain?” tanya Banyu saat mendapati putranya diam saja.
“Aku pikir tadi ayah sama mama mau beli baju atau apa gitu. Jadi, aku pengen ikut biar bisa dibeliin sekalian,” jawab Ata jujur, membuat kedua orang tuanya menahan senyum geli.
“Ya udah, sekarang kamu mau beli apa? Nanti biar dibeliin ayah.” Jingga bertanya sembari mengusap lengan remaja itu.
Namun, alih-alih menjawab apa yang dia inginkan, Ata malah mengajak kedua orang tuanya makan siang. Rasa lelah yang menjalari kakinya membuat perut yang tadinya telah terisi kini berubah kosong dan minta diisi. Suasana hatinya yang terlanjur jengkel membuat remaja itu semakin lapar saja.
__ADS_1
Jingga dan Banyu pun mau tak mau menuruti keinginan Ata. Mereka mencari restoran di dalam mal tersebut. Tak ingin terlalu pilih-pilih. Jingga mengajak kedua pria itu masuk ke restoran yang mereka lewati.
Akhir pekan seperti ini membuat restoran terlihat sangat ramai. Hampir seluruh meja telah terisi. Beruntung ada satu meja dengan empat kursi masih tersedia di sana. Jingga pun segera memesankan makanan untuk anak dan suaminya dan tak butuh waktu lama pesanan mereka telah bisa dinikmati.
Seperti biasa, Jingga dan Banyu selalu mengobrol saat sedang berkumpul seperti ini. Mereka bergantian menanyakan kegiatan Ata selama satu minggu. Tak pernah sekali pun Jingga melupakan perbincangan ringan dengan anak-anaknya, sehingga mereka selalu merasa nyaman dan merasa disayangi.
“Ta, itu bukannya temen kamu, ya?” tanya Banyu sembari menunjuk pada dua orang gadis yang baru saja masuk dan terlihat mencari meja kosong.
Ata mengangguk setelah melihat siapa yang ayahnya maksud.
“Suruh gabung sama kita aja, Kak. Kayaknya masih penuh juga. Kasihan,” suruh Jingga.
Ata berdiri dari duduknya dan menghampiri kedua gadis itu. Tampaknya mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Ata yang sangat tiba-tiba. Awalnya saat ditawari untuk bergabung dengan kedua orang tuanya mereka menolak, tetapi Ata memaksa mereka sehingga mau tak mau keduanya bergabung dengan Ata dan kedua orang tuanya.
“Selamat siang Om, Tante,” sapa mereka berdua bersamaan.
“Siang,” balas Banyu dan Jingga.
Ata yang baru saja tiba, menarik satu kursi kosong dari meja lain untuk diduduki temannya itu.
“Kamu temannya Ata yang waktu itu ke kafe saya kan?”
“Iya, Om. Saya Rania,” jawab gadis itu seraya menganggukkan kepala.
***
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1