You Are Mine

You Are Mine
Part 24


__ADS_3

"Kita mampir ke toko kue dulu ya, Mas. Aku ingin membelikan bunda dan yang lain kue. Nggak enak kalau datang nggak bawa apa-apa." Jingga menolehkan kepalanya pada sang suami yang tengah fokus menyetir.


Saat ini mereka berada dalam perjalanan menuju rumah keluarga besar Banyu.


"Tidak masalah. Kamu ingin beli kue di mana?"


"Di depan nanti kita belok kiri. Tokonya ada di kiri jalan," jelas Jingga.


Kening Banyu mengerut. Sepertinya ia kenal. "Twins Cake?" tebak Banyu.


"Mas Banyu tahu juga toko kue itu?" tanya Jingga sedikit terkejut.


"Itu toko kue langganan bunda."


"Kebetulan sekali. Aku juga suka beli di sana. Jadi nggak salah kalau kita beli di sana," seru Jingga dengan begitu semangat. Menerbitkan senyum kecil pada bibir Banyu.


Tak sampai lima belas menit mobil mereka sampai di depan toko tersebut. Mereka segera turun dan masuk ke dalam toko.


Sudah lama Banyu tidak mengunjungi toko kue ini. Terlalu sibuk mengurus bisnisnya membuat Banyu jarang datang sendiri dan memilih memesan secara online.


Mata Banyu tampak menelisik setiap sudut ruangan dari kursi tunggu. Ada banyak perubahan dari toko ini. Terlihat lebih luas dari terakhir kali ia berkunjung.


Banyu mengawasi istrinya yang masih sibuk memilih kue yang berjajar rapi di dalam etalase. Ia berinisiatif untuk membantu memilih kue kesukaan keluarganya.


"Bunda suka kue yang ini!" Tunjuk Banyu pada kue yang berada di depan istrinya.


Jingga mengangguk, dan meminta kepada pegawai toko yang sedari tadi menunggunya untuk membungkus kue itu beserta beberapa kue yang telah ia pilih sebelumnya.


"Pakai ini saja!" Banyu mengeluarkan kartu debitnya dari dompet.


"Tidak usah, aku ingin membelikan keluarga kamu dengan uangku sendiri."


"Uangku uang kamu juga, Ji"


Jingga menggigit bibir bawahnya. Ada benarnya. Tapi, tidak! Jingga benar-benar ingin membeli semua ini dengan uang yang ia punya.


"Tidak perlu, Mas! Sekali ini saja menggunakan uangku, besok aku janji akan menggunakan uang yang kamu berikan," putus Jingga setelah berpikir beberapa saat.


Menghela napas berat, Banyu kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku celana, ia menyetujui permintaan istrinya.

__ADS_1


Tak berapa lama semua pesanan Jingga telah siap. Gadis itu benar-benar tidak mau menerima uang dari Banyu. Ada sedikit rasa kecewa dan bangga pada gadis itu dari diri Banyu. Kecewa karena ditolak, dan bangga karena sangat mandiri.


Jingga segera mengajak suaminya keluar dari toko. Saat Banyu hendak membuka pintu, badannya terhuyung ke depan, karena istrinya menabrak dirinya.


"Aww," suara seorang gadis kecil terdengar di telinga Banyu. Tapi, itu bukan suara istrinya.


"Kamu tidak apa-apa cantik?"


Ini baru suara istrinya.


Saat Banyu berbalik, ia melihat istrinya membantu seorang gadis kecil untuk berdiri. Ia melihat istrinya berjongkok dan membantu membersihkan baju gadis itu.


"Kharrissss!"


Teriakan seorang pria mungil mengalihkan pandangan Banyu dan Jingga. Pria kecil itu berlari menghampiri mereka dengan raut wajah marah dan gadis kecil itu berusaha bersembunyi di balik tubuh Jingga.


"Abang, aku nggak matahin krayon Abang, beneran!" ujar gadis itu dari balik punggung Jingga.


Banyu terkekeh geli melihat ekspresi marah dari pria kecil yang tengah berjalan dengan tergesa dan ekspresi takut dari gadis kecil itu.


Seperti pemandangan yang sudah biasa. Semua karyawan yang ada di sana hanya memandang keributan dua bocah yang bisa ditebak anak dari pemilik toko ini dengan senyum tertahan.


"Bang Riyo ampun, Bang!" Teriak gadis kecil itu lagi saat si pria mungil itu hendak menyeretnya.


"Om, lepasin!" pinta bocah itu. Hanya kekehan dari Banyu sebagai jawaban dari permintaan bocah itu.


"Hei Boy, sebenarnya ada masalah apa kamu dengan teman gadismu itu?" tanya Banyu ramah setelah mereka duduk pada salah satu kursi tunggu yang tersedia.


"Dia bukan temanku!"


Bocah itu berteriak sembari menunjuk gadis mungil bermata biru yang masih berdiri di belakang Jingga.


"Hei, aku memang bukan temanmu, aku saudara kembarmu" jawab gadis itu tanpa rasa takut.


Bocah laki-laki itu mendengus, ia membalas ucapan adik perempuannya itu, "jika boleh aku minta aku tidak mau jadi kembaranmu!"


Banyu sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa begitu keras, hingga lupa bahwa objek yang ia tertawakan berada pada pangkuannya.


"Kenapa om ketawa?"

__ADS_1


Mulut Banyu tertutup dengan segera. Pertanyaan sarkas bocah itu membungkamnya. Sambil mengulum senyum ia menggeleng.


"Ish ... turunin dong, Om. Aku mau ngejar dia lagi." Bocah itu kembali memberontak dengan lebih kuat, hingga Banyu dengan terpaksa melepaskan bocah itu.


Setelah lepas dari Banyu, bocah yang dipanggil Riyo itu berlari menghampiri gadis kecil itu. Namun, langkahnya terhenti saat suara seorang wanita memekik di dalam ruangan itu.


"Kharrissss, Geriyoooo ... "


Wajah kedua bocah itu menegang seketika. Mereka berdua terlihat sangat ketakutan.


"Kalian berdua ini, Bunda sudah bilang jangan kejar-kejaran di dalam toko Bunda," tegurnya pada bocah laki-laki tadi.


"Kharris, Bun, yang mulai. Dia matahin krayon Riyo," adu bocah itu pada ibunya, mungkin.


"Enggak, Bun. Kharris nggak sengaja," bela gadis kecil itu.


"Kamu tuh kalau ngerusak barang aku pasti bilangnya nggak sengaja. Tapi nyatanya rusak dan nggak bisa dipakai lagi," sergah si bocah laki-laki itu tadi.


"Tapi kan nggak sengaja, Bang!" bela gadis itu lagi.


"Kharris!"


Mendengar suara ibunya, gadis kecil itu langsung menunduk. Sepertinya gadis kecil itu tahu apa yang harus ia lakukan jika ibunya sudah memanggilnya seperti itu. Ia mendekati bocah laki-laki itu dan mengulurkan tangan.


"Maaf, Bang. Nanti Kharris ambilin warna yang patah tadi dari krayon Kharris," kata bocah itu dengan wajah menyesal.


Banyu dan Jingga saling pandang melihat interkasi dua bocah yang begitu menggemaskan itu. Apalagi saat si bocah laki-laki itu menerima uluran tangan gadis kecil itu dan kemudian memeluknya.


"Maaf ya Mas, Mbak. Anak-anak saya bikin gaduh. Maklum masih kecil. Apalagi tadi cuma berdua mainnya."


Banyu dan Jingga yang telah berdiri berdampingan sama-sama mengangguk. Kemudian mereka berpamitan pada wanita yang tengah mengandung itu. Tak lupa, mereka juga berpamitan pada dua bocah kecil yang ternyata adalah saudara kembar.


*


*


*


*

__ADS_1


Ada yang kenal Kharris dan Geriyo? wkwk🤭


Jangan lupa like dan komen😚


__ADS_2