
Tidak ada yang tahu bagaimana takdir Tuhan berjalan. Manusia hanya bisa melangkah sesuai arahnya. Menapakkan kaki pada garis yang telah tertulis dan tergambar.
—An Nisa
***
Langkah kaki Jingga terasa begitu berat. Benaknya masih tak sanggup menerima kenyataan ini. Ia baru menyadari, kenapa dulu saat pertama kali bertemu Icha, ia merasa tidak asing dengan gadis itu. Wajahnya begitu mirip dengan Iren. Berpadukan dengan sosok Fino pada bagian hidung dan bentuk bibirnya.
Hati Jingga ingin menampik, tapi logikanya membenarkan. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dirinya juga tidak tahu apa yang membuatnya begitu sedih. Apakah karena ia kecewa pada kakaknya yang telah tega membuang Icha saat masih kecil. Atau karena ia merasa akan berpisah dengan Icha jika gadis itu tahu siapa ibunya.
Jingga menatap Icha sedih. Benarkah gadis itu keponakannya?. Langkah kakinya begitu lemah menghampiri suami dan keponakannya, mungkin. Matanya kembali berembun saat Banyu menatapnya lekat. Jingga menundukkan kepala, menyandarkan keningnya pada bahu sang suami.
Dapat Banyu rasakan hoodienya basah. Namun, ia hanya diam dengan tetap memperhatikan Icha yang sedang bermain puzzle. Bukan Banyu tak peduli, tapi ia tahu apa yang terjadi, dan Banyu tak ingin Icha mengetahui Jingga tengah menangis.
"Mama dari mana?" tanya Icha tanpa menatap ibu angkatnya. Fokusnya masih pada mainan favoritnya. Tapi ia juga penasaran dari mana ibunya.
"Mama nemuin temen mama di depan. Tadi nggak sengaja ketemu," jawab Banyu. Ia sadar istrinya tak mungkin menjawab dalam kondisi seperti ini. Ia terus mengajak putrinya mengobrol supaya fokusnya tidak pada sang istri. Hingga hampir setengah jam berlalu, tangis Jingga mereda. Banyu mendengar bisikan istrinya untuk pulang. Dan ia pun meminta pada salah satu anak untuk membawa Icha ke dalam, dan ia berpamitan untuk pulang.
***
Banyu memeluk tubuh istrinya setelah sampai di apartemen. Ia mengusap punggung gadis itu berkali-kali. Jingga memang sudah tidak lagi menangis. Tapi, perasaan gadis itu masih sedikit terguncang dengan fakta yang baru ia dengar.
"Udah dong sedihnya. Nanti kalau kelamaan sedih baby-nya bisa jadi anak cengeng loh," bujuk Banyu.
Jingga mendongak. Matanya yang sembab menyipit memandang Banyu. Bibirnya mencebik tak percaya akan ucapan pria itu.
"Nggak nyambung, ya" sanggah gadis itu.
"Eh, nyambung, Sayang. Aku pernah baca, katanya kalau ibu hamil suka marah-marah nanti anaknya jadi suka marah-marah juga. Kalau ibu hamil rajin nanti anaknya juga rajin. Berarti, kalau sekarang kamu cengeng, nanti anaknya juga cengeng." Seulas senyum Banyu terbitkan untuk kembali menghibur istrinya. Tangannya mengusap-usap kepala Jingga dengan begitu sayang.
"Aku nggak nyangka, seseorang yang membuang Icha ternyata keluarga aku sendiri." Jingga mengeratkan dekapannya. Hatinya mulai mereda dan ia siap untuk bercerita. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada sang suami. Mendengarkan alunan detak jantung yang begitu teratur.
Jingga menerawang, apakah Iren benar-benar tulus atau hanya sekadar tak ingin kalah darinya. Embusan napas terdengar begitu berat dari dirinya sendiri, ia mendongak menatap suaminya lagi, lalu berkata, "Apa kita perlu memberitahu ibu siapa ibu kandung Icha?"
__ADS_1
Pria itu mengulas senyum. "Itu bukan hak kita. Iren yang membuang Icha dan dia juga yang mendekati Icha kembali. Jika suatu saat dia sadar, dia pasti akan mengatakan semuanya sendiri," jawabnya sembari mengunci tatapan istrinya.
"Aku tidak yakin Kak Iren bisa menyayangi Icha. Aku pikir sepertinya dia hanya tidak mau kalah denganku, jika benar Icha adalah anaknya."
"Kita tidak tahu bagaimana pikiran orang, Sayang. Setiap orang bisa berubah dan setiap orang berhak meluruskan apa yang telah ia lakukan." Banyu mengurai dekapan istrinya. Memegang bahunya lembut, lalu berkata lagi, "Bukankah Tuhan selalu mengampuni dosa-dosa manusia? Tuhan juga yang membawa hati manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Jadi, jangan pernah meragukan kebaikan orang lain, karena kita juga tidak tahu hati siapa yang benar-benar tulus."
Mendengarkan apa yang suaminya ucapkan, Jingga menghamburkan tubuhnya. Merasa bahagia memiliki suami yang begitu bijaksana. "Kenapa kamu baik banget sih?"
Banyu mengerutkan keningnya. "Emang kenapa kalau terlalu baik?"
"Kan aku jadi tambah sayang," jawab Jingga sebelum mengecup bibir suaminya. Dan bibir mereka tertaut hingga larut malam.
***
"Jingga,"
Kaki Jingga berhenti kala pergelangan tangannya dicekal seseorang dari belakang. Suara orang itu sangat tak asing, hingga tanpa menoleh pun ia tahu siapa orang itu.
"Gue pengen ngomong sama, lo," pinta Iren dengan suara begitu lirih.
"Ngomong aja kali, kayak biasanya gimana aja." Jingga masih tak mau menatap wajah kakaknya.
"Tapi nggak di sini!" Iren melangkah, berdiri tepat di depan Jingga. Sedangkan gadis itu hanya memutar bola matanya agar tidak bersitatap dengan Iren.
"Terserah!"
Iren tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bawa sang adik ke kantin yang berada di fakultas kedokteran. Ia memilih tempat duduk di pojokan agar tidak ada yang menganggu mereka.
"Ji, gue minta maaf soal Icha"
"Kakak nggak perlu minta maaf ke aku," sahut Jingga. "Kakak seharusnya minta maaf sama Icha dan Tuhan, karena Kak Iren udah buang dia dan lepas tanggung jawab sebagai orang tua." Gadis itu berbicara tegas. Berbeda dengan dulu yang hanya bisa melawan ucapan kakaknya dalam hati. Untuk saat ini, Jingga tidak ingin mengalah lagi dari kakaknya.
"Apa itu artinya lo bolehin gue deket sama Icha?" tanya Iren penuh harap. Binar matanya begitu bahagia, dan Jingga bisa melihat itu.
__ADS_1
"Aku nggak punya hak untuk ngejauhin siapapun dari hidup Icha!" Jingga menatap tajam Iren. "Tapi, jika sampai aku lihat Kak Iren nyakitin dia. Aku akan bawa dia jauh dari sini bersama suami aku, dan aku nggak akan pernah izinin Kak Iren untuk ketemu sama dia."
Bukan takut, Iren malah terlihat bahagia, karena semua yang adiknya ucapkan mengartikan bahwa ia masih diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahannya.
"Gue janji nggak akan nyakitin Icha. Dan suatu saat nanti gue bakalan bawa dia pulang dan ngakuin dia sebagai anak gue," ucap Iren sungguh-sungguh.
"Terserah!"
Iren tersenyum. Ada rasa menyesal dulu pernah membenci adiknya. Nyatanya sekarang gadis itu tetap baik padanya, meskipun sedikit ketus. Tapi, itu bukan masalah untuk Iren, selagi adiknya masih mau diajak bicara ia bahagia.
"Jingga!" panggil seorang perempuan dari ambang pintu kantin.
Jingga menoleh. Ia tersenyum lebar menatap perempuan itu. Tanpa berpamitan pada kakaknya ia menghampiri perempuan itu. Memeluknya erat, seakan mereka sudah lama tak bertemu.
"Mbak Kikan" Jingga menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Malu ih," ucap Kikan seraya melepaskan dekapan istri sahabatnya.
Jingga hanya menyengir saja. Kemudian menanyakan ada keperluan apa hingga Kikan menemuinya di sana.
"Gue tadi disuruh Banyu nganter ini." Kikan mengangkat satu kotak makanan bertuliskan 'Simit', makanan khas Turki berbentuk seperti donat, dengan taburan wijen pada seluruh permukaannya. "Katanya lo pengen makan ini, dari kemarin."
"Eemm, suami aku ngrepotin banget ya, Mbak? Sampek nyuruh Mbak Kikan nganter ke sini." Jingga mengajak Kikan duduk di salah satu kursi kantin dekat pintu.
"Kalau ini kemauan gue. Gue pengen aja ke sini. Lagian kalau nunggu lo ke kafe nanti kasian baby-nya nunggu kelamaan," ucap Kikan sambil terkekeh.
"So sweet banget Mbak aku ini." Jingga merengkuh Kikan hangat. Senyum lebarnya memperlihatkan bahwa ia sangat bahagia.
Dari kejauhan Iren menatap Kikan iri. Ada perasaan aneh menyusup ke dalam hatinya kala melihat adiknya sendiri lebih dekat dengan orang lain. Ia mulai menyesali semua perbuatannya dimasa lalu, hingga membuat kerenggangan pada hubungannya dengan sang adik.
***
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1