You Are Mine

You Are Mine
Part 61


__ADS_3

Pagi kembali menyapa penduduk bumi. Menghangatkan mereka dengan sinar matahari yang sudah meninggi.


Pagi ini terasa berbeda untuk Banyu dan Jingga. Jika biasanya mereka akan bersantai dipagi hari, maka tidak untuk saat ini. Mereka sibuk mengurus diri, mencari pakaian berbeda dari biasanya. Membawa barang yang tak pernah Banyu bawa sebelumnya.


"Udahlah, Mas. Mukanya jangan kayak gitu ih. Gantengnya ilang nanti," gurau Jingga. Kekehannya terdengar meskipun lirih.


Banyu mendaratkan kecupannya pada bibir mungil istrinya, selagi gadis itu memasangkan dasinya.


Ya, Banyu akhirnya memilih untuk menggantikan posisi ayahnya, dengan sedikit paksaan dan nasehat panjang lebar dari istri kecilnya. Dan Banyu menyerahkan seluruh kafe dan restoran pada Kikan.


Anggap saja Kikan naik jabatan. Gadis itu Banyu percaya untuk mengelola restoran dan kafenya selama Banyu mengambil alih perusahaan.


Jingga menarik simpul terakhir dasi suaminya. Ia tersenyum tatkala selesai dengan urusan sederhana ini. Jingga mengalungkan kedua lengannya pada leher Banyu. Kakinya berjinjit. Bibirnya mengecup bibir Banyu.


Cup


"Ini untuk ucapan selamat pagi yang tertinggal hari ini"


Cup


"Ini untuk sarapan kamu, dan ini .... "


Cup


"Untuk nambah semangat kamu." Jingga menyunggingkan bibirnya. Seutas senyum dari Banyu membawanya untuk ikut tersenyum. Kaki Jingga hampir saja menapak saat tiba-tiba Banyu menarik pinggangnya untuk semakin merapatkan tubuh mereka.


Tanpa aba-aba dan persetujuan, Banyu mencium bibir istrinya dengan lembut dan tak menuntut.


Mereka saling memagut. Saling menyalurkan cinta dan kasih sayang masing-masing. Menyatukan rasa cinta yang terasa semakin besar dalam diri mereka. Memberikan semangat untuk menjalani hari mereka.


Banyu melepaskan bibir istrinya saat dirasa pasokan oksigen mulai menipis. Kening mereka menempel dengan seulas senyum yang tak bisa luntur. Embusan napas mereka bertabrakan, menyentuh sisi wajah mereka masing-masing.


"Makasih, ya. Udah jadi penyemangat aku," ucap Banyu tanpa memindahkan posisi mereka.

__ADS_1


Jingga hanya tersenyum tak menimpali ungkapan terima kasih suaminya.


"Sekarang kita berangkat!" Banyu menarik diri. Mengambil jas berwarna navy yang senada dengan celananya.


Jingga terkikik. Ia menutup bibirnya dengan sebelah tangan untuk menahan tawanya.


"Kenapa kamu ketawa hm?"


"Kamu keliatan beda kalau pakai kayak gini." Jingga berdehem, kemudian berkata, "Kamu tambah ganteng."


Banyu menghentikan gerakannya merapikan jas. Ia tersenyum, kemudian berbalik menghampiri istrinya yang menggemaskan. Ia tangkup pipi Jingga, lalu mendaratkan sebuah ciuman untuk kedua kali.


"Kamu lebih suka aku pakai ini atau pakaian biasa?" tanya Banyu setelah melepaskan ciumannya.


Jingga tertawa pelan. "Aku suka kamu..." Jingga sengaja menggantungkan ucapannya. Kakinya melangkah mundur. "Nggak pakai baju." Gadis itu berlari keluar kamar dengan tangan menangkup seluruh wajahnya.


"Heh. Dasar kamu ya!" Banyu mengambil tasnya. Berlari mengejar istri nakalnya.


"Ih, Mas. Nanti merah lo." Jingga berontak, mencoba melepaskan diri dari gigitan suaminya.


"Abisnya kamu nakal banget. Harusnya aku yang ngomong kayak gitu tadi." Banyu terkekeh melihat wajah kesal istrinya. Ia berjalan sambil mnyeret tangan Jingga dengan lembut. Mereka akan sangat terlambat jika tidak segera keluar dari apartemen.


***


"Nanti kalau mau mampir kafe kamu hubungi Kikan dulu. Takutnya dia nggak di sana."


Jingga mengangguk.


"Kalau dia nggak ada dan kamu mau pulang kamu naik taksi aja, ya? Aku nggak tahu nanti pulang jam berapa." Banyu membantu istrinya melepaskan seatbelt.


"Iya, Mas." Jingga meraih tangan suaminya kemudian menciumnya dengan lembut. Dan satu kecupan di kening Jingga terima dengan senang hati.


"Aku masuk dulu, ya? Hati-hati." Jingga membuka pintu lalu keluar.

__ADS_1


"Hati-hati, Sayang." Banyu melambaikan tangan pada istrinya. Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam pelataran kampus, Banyu melajukan kembali mobilnya. Menembus keramaian jalan.


Tiga puluh menit berlalu. Banyu sudah sampai di gedung perusahaan ayahnya. Ia menghentikan mobilnya dengan halus. Memarkirkannya dengan rapi. Banyu kembali merapikan penampilannya untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menerpa dirinya. Ini kali pertama ia datang ke perusahaan sang ayah dengan pakaian formal. Bisa dipastikan tidak ada yang tahu bahwa ia putra kedua pemilik perusahaan.


Setelah dirasa lebih tenang, Banyu mengayunkan kadua kakinya menuju lobi perusahaan. Di sana sudah ada Rega dan Dika. Mereka menyambut kedatangan saudara mereka yang jarang menginjakkan kaki di gedung perusahaan ini.


Semua mata karyawan yang bertugas di lobi memperhatikan Banyu dengan saksama. Mereka menatap kagum pada putra kedua petinggi mereka. Para kaum hawa dibuat menganga melihat Banyu yang memiliki kadar ketampanan melebihi kedua saudaranya.


"Gila, semua orang natap lo," ujar Dika setelah mereka memasuki lift. Ia geleng-geleng kepala melihat reaksi para karyawan yang ada di bagian lobi.


Banyu tertawa kecil. "Itu artinya gue lebih ganteng dari, lo," ujarnya sambil menyisir rambutnya ke belakang.


Dika memutar bola matanya malas.


Tak perlu memerlukan waktu lama. Mereka sudah tiba di lantai sepuluh. Di lantai ini hanya ada ruang owner, ruang sekretarisnya, dan ruang khusus rapat besar.


Mereka tidak langsung memasuki ruangan yang akan Banyu gunakan untuk beberapa waktu kedepan. Mereka memasuki ruang rapat terlebih dahulu, karena mereka akan mengumumkan tentang diambil alihnya perusahaan oleh Banyu untuk sementara waktu.


Saat Banyu masuk, semua kursi telah terisi. Para dewan direksi sudah menunggu sejak tadi. Kegugupan Banyu terasa lebih besar. Banyak sekali orang-orang yang berusia lebih tua darinya. Ia merasa semakin kecil dan tak lagi berminat.


Sebagai perwakilan, Rega mengumumkan Banyu akan memimpin perusahaan selama ayahnya berada di rumah sakit. Ia menjelaskan alasan kenapa Banyu yang dipilih dan bukan dia.


Ada beberapa orang yang tidak setuju. Melihat Banyu yang tak pernah berkecimpung di perusahaan membuat mereka tak yakin akan kemampuannya. Mereka berpikir, mengelola kafe tidak sama dengan mengelola perusahaan.


Tapi, ketidaksetujuan mereka ditolak. Karena Rega dengan sepenuh hati meyakinkan bahwa Banyu pasti bisa membawa nama perusahaan menjadi lebih baik. Ia mengatakan bahwa ini memang keputusan dari ayahnya sendiri.


Lagi-lagi ada yang membantah. Tapi, kali ini langsung dijawab oleh pengacara ayahnya yang tiba-tiba saja datang. Ia mengumumkan bahwa ayah Liyas telah menyerahkan seluruh tugasnya ada Banyu. Bahkan pengacara tersebut memperlihatkan surat kuasa dari ayah Liyas kepada para dewan direksi.


Dengan berat hati, beberapa dewan direksi yang tadi sempat tidak setuju, menyetujui pengangkatan Banyu sebagai pemimpin perusahaan yang baru.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2