You Are Mine

You Are Mine
Part 43


__ADS_3

Selama ini


Ribuan Hari


Kudekat denganmu


Lewati berbagai hal, ku ada di sisi mu


Tanpa kau tahu perasaan ku padamu


Sendiri ku berharap


Memberi kasih walau tak kembali


I maybe not yours and you're not mine


But I'll be there for you when you need me


It is only me


Believe me girl, it's only me


Yeah, it's only me!


I will always be the one who pull you up


When everybody push you down


And it's only me


Believe me girl, it's only me!


Yeah it's only me


"Itu suaranya bang Deva kan?" Jingga bertanya pada suaminya setelah membuka pintu ruang kerja pria itu.


"Iya"

__ADS_1


"Wah, suaranya bagus banget. Baru tahu aku suara bang Deva sebagus ini." Jingga melangkah keluar bersama suaminya.


"Nyanyinya juga menghayati banget. Astaga!"


Banyu menggelengkan kepala melihat istrinya begitu excited dengan suara Deva. Apalagi lagu yang tengah dibawakan adalah lagu yang juga sering Jingga putar di apartemen akhir-akhir ini.


Langkah Jingga terayun lebih cepat dari biasanya. Ia ingin melihat sahabat kakaknya itu menyanyi. Jingga sangat yakin kadar ketampanan pria itu bertambah berkali-kali lipat.


Dari kejauhan Jingga melihat arah mata Deva, dan itu tepat pada sosok yang tengah duduk di meja depan mini stage tempat Deva menyanyi. Jingga tersenyum semringah menyadari bahwa lagu itu dikhususkan untuk gadis itu. Yang tak lain adalah Kikan.


"Hei!"


Jingga terjingkat mendapati Banyu menepuk bahunya. Reflek ia memukul lengan pria itu.


"Kedip!" Sekali lagi Jingga dibuat kesal. Pasalnya tangan besar pria itu mengusap matanya.


"Ini lagunya pasti untuk mbak Kikan," bisik Jingga pada suaminya.


"Sok tahu!" cibir Banyu


"Is, lihat deh. Matanya aja nggak lepas dari mbak Kikan." Jingga menunjuk Deva. "Emang bang Deva itu suka ya sama mbak Kikan?" tanya Jingga penasaran.


"Jangan kenceng-kenceng! Suara ketawa kamu ganggu tahu!" sungut Jingga sambil melepaskan tangannya dari mulut Banyu.


Pria itu hanya terkekeh. "Mungkin cuma Kikan yang nggak tahu kalau Deva suka sama dia," ujar Banyu, membuat Jingga menaikkan satu alisnya.


"Jadi bener bang Deva suka sama Mbak Kikan?"


Banyu mengangguk mengiyakan.


Seketika itu juga ingatan Jingga kembali pada saat kali kedua ia berkunjung ke kafe ini bersama kedua sahabatnya.


Saat itu Riana mengatakan, bahwa Kikan menyanyi dan tatapan matanya mengarah pada Banyu.


Apa itu juga mengartikan bahwa Kikan menyukai suaminya? batin Jingga bertanya-tanya.


Lamunan Jingga buyar mendengar namanya dipanggil oleh Deva. Ia sontak menoleh.

__ADS_1


"Nglamunin apa kamu," Deva mencubit hidung Jingga. Kemudian meringis saat Banyu menatapnya tajam.


"Kok udah sih nyanyinya, Bang. Suara kamu bagus banget loh. Sayang kalau diakhiri," ucap Jingga sembari menggosok hidungnya.


"Capek kali, Dek ... Apaan sih, Nyu. Melotot mulu lo dari tadi." Deva merangkul Jingga. "Bilangin suami kamu, Dek! Jangan melotot terus, entar matanya copot." Ia terbahak diakhir kalimatnya, karena Banyu kembali melayangkan tatapan tajam padanya. Deva sangat tahu maksud dari tatapan sahabatnya itu.


"Ada yang cemburu, Ji. Siap-siap nanti diserang kamu." Setelah mengatakan itu, Deva melangkah pergi, masih dengan tawa yang begitu menyebalkan menurut Banyu.


Mendengar kata cemburu menggetarkan sesuatu pada diri Jingga. Sampai akhirnya ia tak berani menatap suaminya lagi. Jingga memilih diam, hingga Banyu mengajaknya pulang.


***


Rasa penasaran Jingga sangat besar malam ini. Hingga ia lupa akan sesuatu hal yang membuatnya diam sejak tadi.


Sekarang gadis itu tengah duduk santai sambil menonton televisi dan memakan camilan. Kepalanya ia sandarkan pada bahu Banyu. Membuatnya merasa begitu nyaman.


"Jadi, Bang Deva udah lama suka sama Mbak Kikan?" tanya Jingga kembali memastikan apa yang ia dengar dari suaminya barusan.


"Iya, sebelum kita satu sekolah."


Jingga mengernyitkan keningnya. "Kok bisa?"


"Dulu aku sama Deva ikut grup band waktu SMP. Karena Kikan juga pinter nyanyi, kadang aku bawa dia ke studio. Dari situ mereka kenal... " Banyu menceritakan kisah masa lalunya bersama kedua sahabatnya itu. Tentang bagaimana Deva mulai menyukai Kikan, hingga Deva nekat masuk ke sekolah yang sama dengan gadis itu.


Bahkan takdir sangat berpihak pada Deva, karena sejak kelas satu hingga kelas tiga SMA, Kikan dan Deva berada dalam satu kelas dan tak pernah sekalipun mereka satu kelas dengan Banyu, karena berbeda jurusan. Hingga akhirnya mereka berdua menjadi sangat dekat dan Deva menjadi tempat Kikan berkeluh kesah karena setiap hari bertemu. Tempat Kikan menceritakan setiap kesedihannya, terutama tentang Banyu yang tak kunjung menyadari perasaan Kikan.


"Jadi kamu juga tahu kalau Mbak Kikan suka sama kamu?"


Banyu mengangguk.


"Terus kenapa kamu nggak pernah bales perasaan mbak Kikan?" tanya Jingga semakin penasaran.


"Karena aku nggak cinta sama Kikan. Dia itu hanya aku anggap adik tidak lebih. Apalagi saat itu Deva menyukai Kikan. Sebagai sahabat baik, tentu lebih baik aku pura-pura tidak tahu, dan memberikan kesempatan kepada Deva untuk lebih dekat dengan Kikan." Banyu tersenyum menatap istrinya yang tengah mendengarkannya begitu serius.


"Ya, walaupun sampai sekarang Kikan masih belum sadar akan perasaan Deva padanya." Ceritanya berakhir dengan suara tawa. Banyu masih tidak habis pikir bagaimana bisa Kikan secinta itu dengannya sampai-sampai seakan buta dengan perasaan Deva.


"Kenapa dulu kamu nggak suka sama Mbak Kikan?" Jingga meneruskan kunyahannya yang sempat terhenti. "Padahal Mbak Kikan itu cantik, baik lagi." Imbuhnya.

__ADS_1


Banyu hanya mengangkat bahunya tak acuh. Tak peduli dengan setiap kejadian masa lalu yang telah terlewat. Ia hanya ingin fokus pada masa depannya, Jingga.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2