You Are Mine

You Are Mine
Tidak Sia-Sia Kita Pergi Ke Sini 145


__ADS_3

"Ayok Sueyya, kita kembali ke kota Phylix." Ajak Ciao menepuk pelan kudanya.


Shi Yi dan Qivian hampir terjatuh karena mereka tidak berpegangan saat kudanya terbang kembali. Membuat Kabir ingin sekali tertawa melihat teman-temannya.


"Tuan Lucas, jika Anda ingin pergi ke sini lagi, maka berikan sinyal untuk kami agar bisa menjemput Anda." Ujar Ciao memberitahu.


"Tapi, kita tidak tahu caranya?" sahut Qivian.


"Anda tenang saja, saya sudah mempunyai token, jadi nona Dew memberikan ini pada mu." Balas Ciao, menoleh pada Kabir dengan memberikan kertas emas yang berlambangkan klan penyembuh.


"Lalu bagaimana menggunakannya?" tanya Shi Yi ikut penasaran.


"Anda cukup membawanya, itu akan memberikan sinyal untuk kita." Jawab Ciao.


Mata Shi yi melebar seketika, ia menarik token itu secara paksa. "Waw! Ini lebih canggih dari pada alat GPS milik kita, Lucas!" Seru Shi Yi merasa kagum. Ciao terkekeh geli mendengarnya, jangan bandingkan orang-orang kuno dengan orang zaman sekarang, karena itu hanya akan sia-sia.

__ADS_1


Satu jam kemudian, akhirnya mereka berada di kota Phylix, Shi Yi benar-benar kagum melihatnya. Dari bawah sana, begitu banyak rumah rumah sederhana yang bertingkat, bunga-bunga yang berhamburan di tanah.


"Tidak sia-sia kita pergi ke sini." Celetuk Shi Yi.


"Bagaimana tuan? Apa ucapan ku benar?" tanya Tantai. Anak kecil itu mengangguk.


"Bahkan lebih dari ekspektasi ku, ini lebih indah." Jawab Shi Yi.


"Huh! Gue bersyukur banget Lo bukan cewek! Kalau cewek, gue takut Lo udah salto terus loncat dari sini!" Ketus Qivian. Shi yi melihat kakaknya dengan mencebik bibirnya kesal.


Kuda akhirnya sudah turun dari ketinggian, beberapa orang sudah berbaris, sepertinya untuk menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang, Tuan Lucas." Sapa mereka dengan sangat hormat.


"Terima kasih." Sahut Kabir seraya turun dari kuda tersebut.

__ADS_1


Seorang wanita yang begitu cantik keluar dari dalam paviliun sana, dengan mengangkat kepalanya, Nona Dew berjalan ke arah Kabir, bibirnya tersenyum, seperti waktu dulu saat pertama kali mereka datang, Dew tidak pernah sekali pun membuat wajah dingin.


"Lucas, bagaimana perjalanan mu ke sini? Maaf kan aku membuat mu harus berjalan selama beberapa hari, aku mendengar dari para klan jika kau datang, jadi langsung menyuruh Ciao untuk menjemput kalian." Ujar Dew tersenyum, melangkah lebih dekat pada mereka.


"Waw, dia pemimpin dari kota ini?" tanya Shi Yi berbisik pada Kabir.


"Kalian pasti sudah lelah, mari ikut bersama ku dan pergi ke villa untuk beristirahat." Ajak Dew dengan berbalik lagi.


"Nona Dew, terima kasih sudah menyambut kami." Ucap Kabir dengan berjalan mengikuti Dew.


"Tentu saja, kamu adalah menantu ku, sudah seharusnya seorang ibu menjemput anaknya dengan sangat baik." Jawab Dew, mereka kini berjalan bersisian, kecuali Qivian dan Shi Yi. Tantai memilih pergi setelah hormat pada Dew.


"Lou Yi sedang bermain bersama teman-temannya, mendengar kau akan datang, dia langsung bersiap-siap untuk menyambut mu, tapi tidak tahu di mana anak itu sekarang." Kata Dew sedikit mengeluh tentang putrinya.


"Maa!" Teriak seorang anak perempuan, berlari dari arah barat, mereka berempat yang sedang berjalan langsung melangkahkan kaki mereka dan menoleh.

__ADS_1


Seorang anak kecil berlari dengan kencang, kulitnya yang putih, bibirnya yang tipis, rambutnya yang panjang terurai begitu saja. Shi Yin mengerutkan keningnya dengan menatap gadis itu.


__ADS_2