You Are Mine

You Are Mine
Ingin Melihat Siapa Orang Yang Berkata Menentang Itu 149


__ADS_3

"Pria gila..." gumam Aira. Saat matanya terbuka, semuanya kembali menjadi nyata, di mana dirinya sedang berada di kamar dengan posisi tertidur di ranjang miliknya.


"Siapa yang kamu sebut gila?" seru Akeno tiba-tiba bertanya. Aira membelalakkan matanya terkejut, seolah dirinya sudah ketahuan berselingkuh dengan pria lain, ia langsung duduk dengan tersenyum kecil pada Akeno.


"Tidak, aku pikir aku sedang membaca buku, ya kemarin aku membaca cerita tentang pria gila yang jatuh cinta pada seorang putri." Jawab Aira sedikit gugup, matanya melirik ke arah kanan kiri seolah mengawasi setiap sudut.


Gelagat yang di lakukan Aira, membuatnya sulit untuk di percaya, "Kenapa aku merasa kau berbohong?" Akeno mendekat, mencondongkan tubuhnya pada Aira yang duduk. Matanya yang indah itu menatap wanita yang tersudut olehnya.


Aira menundukkan pandangannya, duduk dengan gusar, "Aku... su-sudah pagi, waktunya untuk mandi, kamu pergilah aku tidak mau kamu ada di sini saat aku sedang mandi!" sergah Aira dengan mengusir Akeno.


"Kau benar-benar mengusir ku?" tanya Akeno menunjuk pada dirinya sendiri. Aira mengangguk pelan lalu mempercepat anggukkan nya.

__ADS_1


Akeno menegakkan tubuhnya kembali menjauh dari Aira, "Baiklah, aku datang ke sini hanya ingin mengatakan jika kita akan menikah satu bulan lagi, ku harap kau senang dengan kabar gembira ini." pria itu mendekat, mengambil tangan Aira yang menggantung, mengelusnya perlahan dengan senyuman yang manis.


Anehnya, senyuman yang sangat manis itu tidak dapat meluluhkan Aira, ia bahkan bingung, sepertinya pria yang berada di dalam mimpi lebih terikat dengannya dari pada dengan Akeno.


"Cepatlah bersiap, aku akan menunggu dirimu di ruang keluarga." Titah Akeno. Berpikir untuk mengecup punggung calon istrinya, namun tidak jadi karena wanitanya menarik tangannya sehingga ia gagal. Menahan rasa kesal, ia tersenyum dengan paksa.


Waktu satu jam tidak lah lama, akhirnya Aira sudah bersiap dengan di bantu oleh para pelayan yang setia menemaninya.


Ketiga pelayan itu mengangkat gaun yang di pakai olehnya, mereka semua berjalan mengikuti langkah Aira menuju pada ruang tamu.


Mereka duduk bersebelahan, dengan pakaian tertutup dari bahu hingga kakinya, para pelayan berdiri di belakang nona nya dengan setia.

__ADS_1


"Hamam, bisa Anda mengatur waktu pernikahan ku dan calon istri ku?" Pinta Akeno pada seorang imam yang beragama, bisa di sebut dengan Hamam, orang tertinggi di kalangan agama mereka.


Sang imam mencari kemudian mengangguk dan mencocokkan tanggal lahir mereka berdua, sejujurnya imam itu sedikit takut karena calon istri dari tuannya adalah putri dari seorang yang mulia di antara mereka.


Namun karena tidak mendengar pernikahan Aira, imam itu setuju untuk melakukan pencocokan untuk keduanya.


Aira memasang wajah yang sangat dingin, bahkan senyum tipis saja tidak ada di bibirnya sama sekali. Beberapa wanita yang ada di sana berusaha untuk menyapanya dengan senyuman, namun hanya di balas dengan putaran mata yang menjengkelkan mereka.


"Tuan ku, pernikahan Anda yang cocok adalah tiga Minggu empat hari lagi." Ujar sang imam.


Kagira tersenyum lebar mendengarnya, ia pun menimpali, "Itu artinya dua puluh lima hari lagi?"

__ADS_1


Sang imam mengangguk tepat sekali, "Allah mencocokkan mereka, sepertinya memang inilah takdir keduanya." ujar sang imam dengan tersenyum penuh bahagia dan rasa bersyukur.


Suara pintu yang terbuka mengagetkan mereka, membuat semuanya langsung menoleh, begitu juga dengan Aira yang langsung melirik ke arah kanan ingin melihat siapa orang yang berkata menentang itu.


__ADS_2