
Kematian memang hal yang paling dihindari setiap manusia. Bersedih saat ditinggalkan seseorang yang kita cintai memang lumrah. Tapi, bukan berarti kita boleh terus menerus menangisi. Kita perlu berubah, perlu bahagia. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menunjukkan betapa kita menyayangi mereka yang sudah tiada dengan selalu menghadirkan senyum kala mengingat mereka.
Begitulah yang Jingga dan Keyra tanamkan seminggu setelah kepergian Riana. Mereka memang sangat kehilangan. Tapi, mereka tak ingin terus terlarut dan tetap harus berjalan ke depan.
Sosok Riana memang sudah tidak bisa mereka temui secara langsung. Namun, sosoknya masih berada pada hati mereka. Tak akan pernah hilang sampai kapanpun.
Dua minggu sudah berlalu. Semua kembali berjalan normal.
Jingga bersedekap di depan meja riasnya. Dari balik pantulan cermin, gadis itu menatap tajam suaminya. Calon mama muda itu tengah merajuk pada suaminya. Ia sedang dilanda cemburu buta.
Tadi saat mereka makan siang di salah satu restoran dekat kantor, ada seorang gadis yang usianya tak jauh dari Jingga. Gadis itu tanpa sungkan memeluk Banyu di depan umum, di depan Jingga. Bahkan dia mengatakan merindukan sosok Banyu, karena sudah lama tidak bertemu. Usut punya usut, ternyata gadis itu adalah salah satu mantan kekasih Banyu.
"Kamu mau sampai kapan marah kayak gitu?" tanya Banyu mencoba untuk sabar.
Yang ditanyai hanya diam. Tak ingin menjawab. Tak ada senyum manis barang secuilpun yang terbit dari bibirnya.
"Ok, aku minta maaf. Sekarang kamu maunya apa, yang?"
"Nggak usah panggil sayang-sayang," sarkas gadis itu, membuat Banyu memejamkan matanya karena terkejut.
"Iya, ibu. Ibu maunya gimana?" Sepertinya pria itu mulai jengah. Hingga ia mengganti panggilannya pada sang istri.
"Aku bukan ibu kamu!" sentak gadis itu lagi.
Ok, kali ini Banyu menyerah. Ia berdiri meninggalkan istrinya. Tangannya mengambil sebuah gitar, membawanya ke balkon. Ia memangku gitar tersebut, kemudian memetiknya dan mulai menyanyikan sebuah lagu yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, dengan mengganti sedikit liriknya.
Jingga jangan marah-marah
Takut nanti lekas tua
Kanda setia orangnya
Takkan pernah mendua
Dari jutaan bintang
Jingga paling gemerlapan
Dari segenap wanita
__ADS_1
Jinggalah yang paling menawan
Belum juga lagu itu selesai, sebuah cubitan mendarat secara halus pada pinggangnya.
"Aww ... sakit, Yang, " keluh pria itu sambil meringis. Ia mengusap bekas cubitan itu dengan tangannya yang bebas.
"Kamu sih, nyebelin!" Masih terlihat raut kesal Jingga. Tapi gadis itu malah menempel. Ia mengalungkan lengannya pada leher Banyu dari belakang. Menumpukan dagunya pada bahu sang suami.
Banyu kembali menyanyikan lagu tersebut. Alih-alih mendapatkan pujian karena suaranya, pria itu malah kembali kesakitan karena Jingga membenturkan kapala mereka.
"Jangan nyanyi itu!" teriak gadis itu di samping telinga Banyu.
"Iya-iya," jawab Banyu sembari mengusap telinga kirinya.
Banyu membawa istrinya memutar. Ia dudukan sang istri di pangkuannya. Menatap bibir istrinya yang masih maju beberapa senti. Ingin sekali Banyu mengecup bibir yang akhir-akhir ini digunakan untuk mengomel. Tapi tentu tak akan bisa. Ia yakin akan mendapatkan semprotan jika mencium gadis itu disaat kondisi seperti ini. Tak ingin berlama-lama dalam imajinasi, Banyu mengalihkan pandangannya pada perut sang istri.
"Dek, bilangin mama dong, marahnya jangan lama-lama. Kan ayah kangen senyum cantiknya mama." Banyu berpura-pura mengadu pada anak yang ada dalam kandungan Jingga. Mungkin ini cara terakhir untuk menaklukkan hati istrinya. Tak mendapatkan respon, Banyu pun kembali berkata, "Dek, mama kamu cemburunya lama banget sih. Kan tadi cuma mantan ayah. Ayah udah nggak suka sama dia. Bilangin mama, ayah cintanya cuma sama mama."
"Hih, cuma-cuma. Mantan ya mantan," balas Jingga sarkas. "Ganjen banget sih dia, pasti masih suka sama kamu," ujarnya lagi dengan kesal.
"Yang penting aku sukanya sama kamu," jawab Banyu tanpa beban.
"Iss, kamu mah!" Gadis itu menyandarkan kepalanya pada kepala Banyu.
"Mau ke panti?"
Jingga mengangguk.
"Ok, kita ke sana besok."
"Janji, ya!" Jingga mengangkat jari kelingkingnya.
Banyu tersenyum. "Iya," jawabnya sembari menautkan jari kelingkingnya.
Setelah itu hanya ada keheningan diantara mereka. Saling menikmati desiran angin malam. Dan menyelami pikiran masing-masing.
***
Banyu sudah siap dengan setelan santainya. Celana joger berwarna dark grey, dengan hoodie putih membalut tubuhnya. Tangan kirinya memutar-mutar kunci motor sembari menunggu Jingga yang masih berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Sayang, udah belum?" tanya Banyu dengan suara lantang. Ia hampir mati kebosanan, karena istrinya sangat lama.
"Iya, bentar!" jawab Jingga dengan berteriak juga.
Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan setelan yang sama dengan Banyu hanya warnanya saja didominasi biru.
"Udah, ayo!"
Suami Jingga itu berdiri. Mengenggam tangan sang istri. Menyeretnya keluar dengan lembut.
Satu jam mereka habiskan dalam perjalanan. Akhir pekan memang sangat padat, mengharuskan kedua orang itu untuk bersabar mengantre di sepanjang jalan.
Bibir Jingga tersenyum lebar saat kakinya menapak menuju taman belakang panti asuhan. Entah kenapa, rasanya ia ingin sekali menemui Icha hari ini. Seperti ada magnet yang menariknya untuk datang ke panti asuhan.
Jingga dan Banyu sama-sama terhenti kala melihat Icha bersama seorang wanita. Masker membalut sebagian wajah wanita itu. Rambutnya sangat lurus. Tubuhnya cukup tinggi, seperti ...
"Mas, itu siapa?" tanya Jingga tanpa mengalihkan pandangan dari wanita itu.
Bahu Banyu sedikit terangkat. "Mungkin itu wanita yang Icha ceritain ke kita." Ia mengajak sang istri untuk mendekat.
Langkah kaki mereka begitu jelas. Hingga gadis kecil kesayangan Banyu itu mendongak. Senyum bahagia terbit pada bibirnya.
"Ayah!" pekik gadis itu, seperti tak peduli pada apapun lagi.
Gadis itu berlari meninggalkan wanita tadi. Berlari menghampiri Banyu dan Jingga.
Dapat Jingga tangkap gelagat wanita tersebut seperti kebingungan. Wanita itu berdiri, seketika ia mengenali postur tubuhnya. Jingga mengernyit saat wanita itu tiba-tiba pergi.
"Tante mau ke mana?" tanya Icha.
Langkah wanita itu berhenti. Ia berbalik, sejenak ia beradu pandang dengan Jingga. Segera ia memutuskan kontak mata mereka, dan kembali mendekati Icha.
"Tante pulang dulu ya, Cha. Besok kita main lagi," ucap wanita itu seraya membalikkan tubuh dan menjauh dari Banyu dan Jingga.
"Yahhh, padahal aku mau ngenalin tante itu ke ayah sama mama," ucap Icha sedih. Wajahnya terlihat begitu murung.
Banyu hanya bisa mengusap kepala gadis itu. Ia memberikan pengertian pada putrinya, mungkin wanita tadi memang sedang sibuk. Ia pun membawa Icha duduk di ayunan yang tak jauh dari mereka.
***
__ADS_1
Wanita tadi berjalan terburu-buru ke arah mobilnya. Saat ia membuka pintu mobil tubuhnya menegang kala sebuah tangan menahannya. Wanita itu tahu siapa yang telah mengikutinya.
"Aku tahu ini Kak Iren!"