
Matahari terbit dan tenggelam. Membawa siang dan malam. Mengganti hari menjadi minggu dan berubah menjadi bulan.
Waktu pagi adalah waktu tersibuk untuk Jingga saat ini. Ia harus menyegerakan diri untuk bangun. Menyiapkan segala kebutuhannya sendiri dan juga suaminya.
Diawali dengan memasak. Jingga tak pernah absen dalam proses pembuatan sarapan atau makan malam. Selama tinggal di apartemen Jingga sering belajar memasak. Ia ingin menjadi seorang istri yang sempurna untuk Banyu. Hingga saat sudah tinggal di rumah ini, Jingga sudah mahir dalam satu hal itu.
"Mbak Nia, tolong bantuin aku bawa ini ke meja makan, ya! Aku mau ke atas dulu," ucap Jingga pada salah seorang asisten rumah tangganya yang berusia sekitar empat puluh tahunan.
Mereka memang memutuskan mempekerjakan seorang ART untuk membersihkan rumah. Tak mungkin bagi Jingga membersihkan rumahnya sendiri, karena rumah ini cukup besar. Butuh waktu lama untuk membersihkannya. ART itu juga hanya bertugas membersihkan rumah dan taman atau membantu Jingga untuk hal lain. Sehingga ART itu hanya akan datang pagi dan pulang saat sore hari.
"Iya, Neng," jawab wanita itu sembari mengambil alih sup ayam buatan Jingga.
Setelah itu Jingga meninggalkan dapur. Memercayakan semuanya pada Nia untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Morning," sapa Jingga pada suaminya saat ia sudah berada di dalam kamar. Pria itu sudah terlihat rapi dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans-nya.
"Morning!" Banyu mendaratkan bibirnya pada bibir Jingga. Memagut mesra bibir istrinya.
Banyu melepaskan tautan bibir mereka saat satu dering telepon menggema dan Jingga mendorong tubuhnya.
"Aku mandi dulu," pamit Jingga seraya membawa langkahnya pada pintu kamar mandi.
Meskipun tidak rela, Banyu tetap membiarkan istrinya menghilang ditelan kamar mandi. Kemudian Banyu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, melihat nama Deva terpampang pada layarnya, Banyu segera menekan ikon berwarna hijau untuk menyambungkannya.
"Halo, Dev,"
***
Banyu melajukan motornya setelah mereka selesai sarapan. Urusan cuci piring Banyu pasrahkan pada Nia. Sudah tidak ada lagi waktu untuk mereka mencuci piring, karena hari sudah semakin siang. Mereka tidak ingin terjebak macet dan berakhir dengan Jingga terlambat masuk kelas.
Kegiatan mereka tak jauh berbeda dari dulu. Pagi hari Jingga kuliah sedangkan Banyu bekerja. Sore hari Jingga menemani Banyu di kafe. Terkadang juga mengecek salah satu restoran atau kafe Banyu yang lain.
Hari ini Banyu mengambil alih pekerjaan Kikan. Pagi tadi Deva mengatakan bahwa Kikan sedang sakit dan tidak bisa datang ke kafe. Banyu sama sekali tak mempermasalahkan itu, karena menurutnya kesehatan para karyawannya adalah prioritas.
***
__ADS_1
Malam hari datang. Saat ini Jingga tengah sibuk dengan beberapa tugas kuliahnya. Sejak sore tadi Jingga tak lepas dari laptopnya. Buku-buku juga berserakan di atas karpet bulu yang sengaja Banyu pasang di ruang keluarga.
Gadis itu sama sekali tak peduli dengan Banyu yang sedang memasak. Biasanya Jingga akan merecoki Banyu jika pria itu membuat makanan untuknya. Kali ini ia tidak ingin mengganggu ataupun diganggu. Ia hanya ingin tugasnya cepat selesai, karena deadline pengumpulan adalah besok pagi.
"Sayang, makan dulu! Kamu dari sore cuma nyemil loh," ujar Banyu dari arah dapur.
Tidak ada tembok penghalang antara dapur dan ruang keluarga, membuat Banyu bisa mengawasi istrinya dengan leluasa.
"Nanggung, Yang!" jawab Jingga sedikit berteriak.
"Pokoknya selesai nggak selesai, kalau masakan aku udah mateng kamu harus makan," tutur Banyu telak. Tak ada sedikit pun celah bagi Jingga untuk membantah.
"Terserah!"
Jawaban itu membuat Banyu tersenyum. Meskipun terdengar seperti enggan, setidaknya ia sudah memiliki izin untuk memaksa istrinya makan nanti.
Hampir tiga puluh menit Banyu berada di dapur. Saat ini ia sudah siap dengan dua piring nasi goreng. Ia hanya tinggal membuatkan coklat hangat untuk istrinya.
Suara ketikan keyboard masih menggema di area ruang keluarga itu. Banyu hanya bisa menggeleng melihat betapa kacaunya penampilan sang istri saat ini.
Banyu mengambil posisi di samping gadis itu. Meletakkan nasi goreng juga coklat hangat di atas meja, di samping laptop Jingga.
"Udah ...." Banyu menutup layar laptop istrinya. "Makan dulu!" suruhnya kemudian.
"Aaa, bentar lagi. Kurang dikit lo ini. Mumpung aku masih semangat," rengek Jingga sambil kembali membuka laptopnya.
"Tadi kamu janji apa?"
Jingga menoleh. "Janji apa?" Keningnya berkerut dalam.
"Kan tadi kamu janji kalau udah mateng kamu makan, selesai atau nggak selesai" ujar Banyu mengingatkan.
"Aku emang janji? Perasaan aku cuma bilang terserah," bantah Jingga. Matanya menyipit mengingat-ingat apa yang sudah ia katakan pada suaminya tadi.
"Aku nggak mau tahu pokoknya sekarang kamu harus makan." Banyu mencoba untuk sabar dalam menghadapi istrinya yang terkadang memang suka seenaknya sendiri. "Aku suapin aja kalau kamu tetep mau lanjut ngerjain tugas kamu."
__ADS_1
"Nah gitu kek dari tadi. Peka akhirnya kamu" Jingga terkekeh tanpa memandang suaminya.
Banyu hanya memutar bola matanya malas. Ia mengambil satu piring nasi goreng. Menyuapkan satu sendoknya pada Jingga dan pada dirinya sendiri. Begitu terus hingga dua piring yang ia bawa tadi habis tak tersisa.
Setelah itu Banyu membawa piringnya kembali ke dapur. Mencucinya hingga bersih. Kemudian ia naik ke lantai dua untuk mengambil sesuatu.
Tak berapa lama, Banyu sudah kembali. Ia menghampiri istrinya dan duduk di sofa, tepat di belakang tubuh Jingga.
Jingga terkesiap merasakan ikat rambutnya terlepas. Ia memutar kepalanya menghadap Banyu. Pria itu mengangkat sebuah sisir di tangan kanannya. Jingga ikut tersenyum melihat senyum pada bibir Banyu. Perlakuan kecil seperti ini yang membuat Jingga semakin jatuh cinta pada suaminya.
Banyu menyisir rambut istrinya hingga rapi, kemudian menggelung rambutnya ke atas dan mengikatnya agar Jingga tidak merasa gerah. Terakhir ia memberikan kecupan pada puncak kepala istrinya sebagai penutup.
***
Siang ini Jingga bisa bersantai setelah semalaman ia mengerjakan tugasnya. Hari ini akhir pekan, Jingga memilih untuk menetap di dalam rumah, begitu juga Banyu.
Pria itu tidak datang ke kafe dan meminta pada salah satu karyawan kepercayaannya untuk meng-handle kafe hari ini.
Jingga menatap televisi dengan satu toples camilan di pangkuannya. Sedangkan Banyu, pria itu berada di kamar berbincang dengan Rega melalui sambungan telepon.
"Neng Jingga," panggil Nia.
"Ada apa Mbak Nia?"
"Itu ada tamu," ucap Nia. Ibu jarinya menunjuk arah pintu masuk.
"Siapa Mbak?"
Nia menggeleng. "Katanya si temennya Mas Banyu," jelas Nia. "Tadi sudah saya suruh masuk juga," imbuhnya.
Jingga mengangguk. Kemudian menyuruh Nia untuk membuatkan minum, dan Jingga bergegas menemui tamunya yang entah siapa.
Saat berada di ruang tamu Jingga terpaku sejenak. Di sana ada Celin sedang duduk manis, melemparkan senyum memukaunya pada Jingga.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤