
“Kamu yakin nembak aku?” Pertanyaan itu meluncur dengan mudah dari bibir Rania. Tatapannya menaruh rasa curiga pada Ata yang memiliki pesona selebar dunia.
“Ya, tentu saja aku yakin. Kamu mau kan jadi pacar aku?” jawab Ata lugas. Ia bahkan kembali mengutarakan niatnya untuk menjadikan Rania sebagai kekasihnya.
Bola mata Rania tampak meragu untuk menjawab pertanyaan yang membuat jantungnya berdebar.
“Aku butuh waktu untuk berpikir,” cicit Rania dengan suaranya yang lirih.
“What? Kamu masih mau berpikir dulu?” Ata tampak sedikit terhina, tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya.
**
Tiga bulan sebelumnya
Ata memandang kelas yang akan ia gunakan dalam beberapa bulan ke depan. Putra ke dua Banyu dan Jingga itu kini menginjak kelas tiga SMA.
Remaja laki-laki yang kini tengah memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, menyeret langkahnya menuju kelas itu. Kelas yang terasa sangat asing, karena tak ada satu pun teman dekatnya berada di sana. Kelas yang hanya berisi siswa-siswi dengan nilai yang sangat tinggi.
“Cakra masuk kelas kita?” Bisik-bisik heboh dari seluruh siswi dalam kelas itu jelas berdengung di telinga Ata yang baru saja menginjakkan kaki di sana.
“Wah, gila! Bakal tambah semangat sekolah gue kalau ada si Ganteng itu.”
__ADS_1
Ata melempar seulas senyum manis pada gadis remaja yang baru saja mengutarakan kalimat tersebut. Hal itu jelas membuat kelas itu semakin heboh saja.
Dalam hati, Ata benar-benar tertawa keras melihat kelakuan para gadis itu. Menurutnya, mereka terlalu berlebihan, tetapi Ata menyukainya.
Ata mengambil tempat duduk kosong pada barisan nomor dua dari depan. Remaja itu tak bisa jika duduk di barisan pertama begitu pula pada barisan terakhir. Bisa-bisa Ata malah tidur dalam kelas nantinya jika remaja itu berada di kursi paling belakang.
Tak lama setelah meletakkan tasnya di atas meja, gendang telinga Ata menangkap kegaduhan dari arah pintu masuk kelasnya. Di sana ada Dio, Vian, dan Alvin–teman dekat Ata.
“Wah, curang lo, Ta, masuk kelas ini nggak ajak-ajak.”
Ata hanya tertawa menanggapi semburan dari mereka.
Dio mendudukkan dirinya di kursi kosong samping Ata. Sedangkan Vian dan Alvin menyerobot kursi yang telah diduduki dua gadis pemilik kelas.
“Sialan! Gue belajar kali. Masih beruntung sih bertahan di IPA 2. Tapi, gue juga pengen masuk kelas ini. Bokap gue pasti bangga banget dah,” keluh Dio.
“Tapi, Ta. Gimana ceritanya lo bisa masuk kelas ini?” tanya Dio lebih lanjut.
Ata hanya tersenyum sembari mengedikkan bahunya. Mungkin karena kemarin saat berada di kelas IPA 2 ia mendapat peringkat pertama, sehingga saat kenaikan kelas dirinya bisa masuk kelas IPA 1.
Ata dan ketiga temannya memang terkenal tengil di sekolah, tetapi bukan berarti mereka sekelompok siswa yang suka membolos atau malas belajar dan bukan juga siswa yang suka membuat onar. Mereka terbilang siswa yang rajin, tertib, dan juga pintar terutama Ata.
__ADS_1
Vian menatap jam tangannya. Bel masuk sekolah masih cukup lama. Ia pun mengajak teman-temannya pergi ke kantin untuk sarapan.
Mereka berempat berjalan bersama menuju kantin sekolah. Ata yang terbiasa berjalan di depan membalikkan badan, berjalan mundur untuk mendengarkan cerita Vian tentang dia yang dimarahi oleh ayahnya, karena membeli kursi gaming tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Ata masih dalam posisi yang sama, hingga saat Via berhenti bercerita Ata pun kembali berjalan normal. Namun, siapa yang sangka saat membalikkan tubuh, Ata menabrak seorang siswi hingga terjatuh.
Sontak Ata meminta maaf pada siswi itu. Ia bahkan mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri. Namun, ditolak secara halus oleh gadis tersebut.
“Sorry, gue nggak sengaja,” ucap Ata untuk yang ke sekian kalinya.
Gadis itu mengangguk pelan. “Nope, lain kali jangan jalan mundur, karena setahu aku mata orang itu cuma ada di depan.”
Setelah melontarkan kalimat yang Ata tak tahu maksudnya, gadis berambut sepunggung itu melenggang pergi begitu saja.
Ata hanya mengerjapkan mata saja ketika gadis itu melangkah meninggalkannya. Ia memandang ketiga temannya lalu bertanya, “Dia siapa sih? Anak baru?”
“Kayaknya sih bukan. Beberapa kali gue lihat dia di perpustakaan sekolah,” jawab Alvin.
Ata hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkah menuju kantin dengan segenap pertanyaan tentang gadis tadi.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤