
"Kota Phylix adalah kota di mana klan penyembuh tinggal, banyak pohon-pohon kecil yang indah sekali, di sana bunga bunga dan hewan hewan yang cantik juga ada. Kami biasanya menyebut hewan itu dengan Sueyya." Kabir yang mendengarnya langsung menoleh pada Tantai.
"Benarkah? Apa di sana ada burung merak? Aku sudah lama tidak melihat hewan itu, sekarang jika ada di sana, maka aku akan sangat senang, paman." Ujar Shi Yi.
Qivian menatap adiknya dengan menggelengkan kepalanya heran, Shi Yi memang orang yang cepat akrab, tidak seperti dirinya yang pemilih. Bahkan jika ada orang baru, pastinya tidak akan mudah bergaul.
"Ada, semuanya yang Anda ingin kan pasti ada, hanya saja tidak dengan alat elektronik yang biasa kalian gunakan." Kata Tantai. Shi Yi mengangguk, ia juga tahu, di hutan ini mana ada orang yang menggunakan alat seperti itu.
Begitu banyak obrolan yang mereka bicarakan, bahkan Tantai menjawab dan membalasnya dengan penuh semangat. Sampai akhirnya Kabir menyuruh mereka untuk segera tidur karena perjalanan masih panjang, setidaknya mereka harus bisa sampai ke kota salju agar bisa menghitung berapa hari lagi mereka sampai.
Pagi hari sudah tiba, Shi Yi sendiri yang membangunkan mereka semua, ke empat orang itu berjalan dengan tenang. Tidak mengerti dengan lukanya Tantai, karena pria itu sudah membaik sangat cepat.
Mereka berjalan dengan santai, tidak terburu-buru sama sekali.
__ADS_1
"Ku harap kita bisa cepat sampai ke kota salju, karena setelah itu maka akan mudah sekali untuk sampai ke kota Phylix." Kata Kabir dengan penuh harapan.
Dua hari kemudian mereka hampir sampai di kota salju, namun itu hanya penglihatan mereka saja, karena jujur saja jika untuk sampai ke sana, maka setidaknya butuh waktu dua hari lagi.
Seekor kuda terdengar dari atas langit, seperti kuda yang di tunggangi oleh orang lain di atas sana. Ke empat orang itu saling mengangkat kepala mereka dan mendongak ke atas langit.
"Itu adalah kuda yang bisa terbang!" Lirih Qivian. Tantai kini menoleh pada Qivian.
"Anda tahu, tuan?" tanyanya. Qivian mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi, itu artinya kita akan naik ke atas kuda sana?" tanya Shi Yi. Tantai mengangguk.
"Anda benar."
__ADS_1
Sesuai dugaan, kuda itu akhirnya turun dan melewati mereka, kuda itu berhenti dengan seorang pria yang sangat gagah. Terlihat sangat tampan sekali mungkin umurnya masih 30 tahunan.
Kuda itu bersuara setelah berhenti, bersamaan dengan pria itu yang turun dari sana.
Menunduk sebentar kemudian berkata: "Nona Dew mengatakan jika saya harus menjemput tuan Lucas, jadi membawa kuda ini bersama ku agar bisa ikut." Ujar pria itu.
"Ciao, dia adalah tuan Lucas, bersama dengan teman-temannya yang ikut." Tantai berkata dengan melangkah mendekat. Pria yang di sebut Ciao itu melirik ke arah Kabir.
"Tuan Lucas, karena saya berada di sini, izinkan saya untuk menyambut Anda." Ujar Ciao. Kabir hanya mengangguk dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Mari, kalian ikut lah bersama ku." Ajak Ciao. Saat memutar tubuhnya, pria itu sedikit keheranan. Shi Yi yang merasa di perhatikan kemudian berbalik. Menyembunyikan kameranya yang sempat memfoto kuda yang sangat cantik itu.
"Si-silakan, aku sudah selesai." Shi Yi mengatupkan bibirnya tak berani bicara lagi. Qivian, Kabir dan Tantai menahan tawa mereka, bibir Ciao pun ikut berkedut melihat tingkah laku anak kecil satu ini.
__ADS_1
Merasa suasana canggung, Ciao kembali bersuara, "Mari, nona Dew sudah menunggu kalian." Ajaknya lagi. Shi Yi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berjalan bersama mereka dan berdiri di sisi kuda yang terdapat penyangga untuk mereka berempat.