
Sejak tiba di kafe ayahnya, Ata sama sekali belum menuntaskan dahaga yang sebenarnya ia tahan sejak dalam perjalanan. Tanpa buru-buru Ata mengambil air mineral yang berada di dalam kulkas dan menenggaknya perlahan. Lega Ata rasakan saat air itu mengalir pelan di tenggorokan.
Setelah menuntaskan dahaganya, cowok yang kini masih mengenakan seragam SMA itu melangkah ke depan. Ia teringat dengan ikan-ikan yang sengaja ayahnya taruh di samping kafe sebagai hiasan. Kebiasaannya saat di kafe sang ayah, Ata akan memberikan makan ikan-ikan itu. Ia teramat suka saat melihat hewan tanpa kaki itu berenang-renang mengelilingi kolam dan berebut makanan.
Namun, saat Ata akan keluar dari kafe. Netranya menangkap seorang gadis yang tengah tersenyum memandang kolam ikan yang ingin ia tuju. Seketika itu juga, langkah Ata berbalik dan menghampiri gadis itu.
“Wah, sepertinya kita jodoh bisa bertemu di sini.”
Ata menaruh makanan ikan yang ia bawa ke atas meja. Tangannya terlipat menatap Rania yang kini menatapnya kesal. Seringai Ata terbit begitu saja melihat hal itu. Bahkan ia terkekeh saat Rania berdecih sembari memalingkan muka darinya.
“Lo ngapain di sini sendiri?” tanya Ata sembari menopangkan kepala pada lengannya.
Sinis Rania menatap teman satu kelasnya itu. Rasanya Rania begitu gerah melihat wajah Ata untuk yang ke sekian kalinya hari ini.
“Perlu banget aku jawab?”
Kekehan Ata kembali keluar melihat Rania yang begitu kentara menunjukkan rasa tidak senangnya saat bertemu Ata. Bukannya pergi dan menghindar. Ata justru semakin tertarik untuk menjaili gadis itu.
“Lo sendiri?”
__ADS_1
“Menurut kamu?”
“Ya, siapa tahu lagi nungguin pacarnya.”
Rania menggelengkan kepala. Menatap malas pada Ata, lalu memalingkan muka. Gadis itu memilih menatap ikan-ikan di luar sana daripada menatap si cowok menyebalkan yang akhir-akhir ini kerap mengganggunya.
“Kok, lo nggak langsung balik sih? Malah main ke kafe. Sendiri lagi,” ucap Ata lagi sembari menegakkan tubuhnya.
Kepala Rania mau tak mau menoleh, menatap Ata malas sekali lagi. Tangan gadis itu mengambil ponsel, kemudian membuka fitur kamera dan menghadapkannya pada Ata.
Kedua alis Ata bertaut tak mengerti. “Kenapa?” tanyanya bingung.
“Ngaca!”
Ata menyugar rambutnya yang sudah lumayan panjang dan pura-pura memperbaiki tatanan rambutnya kembali seolah kamera itu adalah cermin.
Rania yang menyadari apa yang Ata lakukan segera menarik kembali ponselnya. Raut kesal gadis itu semakin kentara saja. Ia bahkan ingin melayangkan protes, tetapi tertahan saat seorang pelayan kafe membawakan makanan dan minumannya.
Tanpa ingin kembali memedulikan cowok tampan tapi menyebalkan itu, Rania menyesap ice coklatnya. Ia bahkan hanya memfokuskan diri pada makanan itu tanpa ingin kembali menoleh pada wajah Ata, yang kini kerap melayangkan senyum mengejek padanya.
__ADS_1
**
“Kakak ke mana sih, Yah? Kok, belum balik lagi?” Bia melihat jam yang tergantung pada dinding ruangan sang ayah. Sudah lima belas menit kakaknya itu pamit keluar yang entah ke mana dan sampai sekarang dia belum kembali.
“Mana Ayah tahu, Bi. Coba cari ke bawah, palingan lagi kasih makan ikan,” jawab Banyu. Pria paruh baya itu beranjak, mengajak Bia keluar. Sepertinya pesanan tetangganya sudah siap dan bisa segera dibawa pulang.
Saat berada di ambang pintu dapur, Bia melihat kakaknya tengah duduk bersama salah seorang teman cowok itu yang ia tahu namanya Rania. Kepala Bia menggeleng karenanya. Pantas saja kakaknya itu tidak kunjung kembali, ternyata sedang menjalankan aksi PDKT pada seorang gadis.
“Kenapa?” tanya Banyu yang melihat Bia tiba-tiba menggelengkan kepala beberapa kali.
“Lihat deh, Yah. Pantes Kak Ata nggak balik-balik. Orang ternyata dia lagi godain cewek,” ungkap Bia seraya mengedikkan dagu mengarah pada tempat duduk kakaknya.
“Gangguin sana!” suruh Banyu mendorong putrinya keluar.
“Ih, males ah. Masa gangguin Kak Ata,” tolak Bia. Ia kembali menggeleng. Ayahnya ini memang ada-ada saja.
“Ya udah, Ayah aja yang gangguin.”
Bia dibuat melongo saat ayahnya berjalan menuju meja Ata kemudian ikut duduk di sebelah cowok itu. Bibir Bia berkedut menahan tawa saat Ata memasang raut kesal begitu ayahnya datang.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤