
Setelah Banyu mengatakan isi hatinya, mereka sama-sama terdiam. Jingga sama sekali tak berani menjawab. Hingga akhirnya mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan.
***
Jingga membuka mata saat merasakan tangan hangat nan besar membelai pipinya. Terlalu terkejut melihat suaminya dalam jarak dekat membuat Jingga reflek memundurkan kepalanya.
"Morning!" sapa Banyu. Seulas senyum manis terbit di bibirnya.
Jingga menautkan alisnya, bingung dengan sikap manis Banyu. Tak ayal ia membalas senyum pria itu. Kemudian melirik jam dinding disebelah kirinya.
6.07
Gawat! Ternyata sudah sangat siang. Jingga harus bergegas untuk bangun dan membantu mertuanya. Meskipun ia tidak tahu apa yang bisa ia bantu. Tapi pelukan sang suami pada pinggangnya membuat Jingga tak bisa bergerak barang sedikit pun.
Sedikit gugup Jingga berkata, "bisa tolong lepasin tangannya? Aku harus segera ke kamar mandi." Jingga berdecak kesal saat Banyu malah menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, ini sudah siang. Aku harus membantu bunda," rengek Jingga.
Banyu tersenyum geli melihat bibir istrinya manyun. Tiba-tiba sebuah ide gila muncul. "Ada syaratnya!"
"Apa?" tanya Jingga malas.
Bibir Banyu kembali melengkung ke atas. "Kasih aku morning kiss baru aku lepasin."
Sontak Jingga melebarkan matanya. Pipinya merona merah seketika. Baru kali ini Banyu meminta cium secara terang-terangan.
__ADS_1
"Apaan sih! Lepasin, Mas. Aku ada kelas pagi juga loh" Jingga menarik tangan Banyu dengan sekuat tenaga. Tapi ia tetap kalah dengan tenaga suaminya. Bahkan saat ini mereka semakin menempel membuat Jingga merasa kurang nyaman.
"Morning kiss dulu baru aku lepasin," ujar Banyu lagi membuat Jingga mendegus kesal.
Dengan setumpuk keraguan Jingga mengecup pipi Banyu cepat. Berharap ia bisa segera dilepaskan.
"Udah kan?" Jingga kembali menatap kesal suaminya karena belum juga dilepaskan. Malah terasa lebih erat dari sebelumnya.
"Morning kiss bukan gitu," tutur Banyu membuat alis Jingga kembali tertaut. Senyum smirks tersungging pada bibir Banyu. "Tapi gini"
Cup
Banyu menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. ******* bibir itu atas bawah. Tak segan Banyu menggigit bibir istrinya agar terbuka, dan Banyu semakin memperdalam ciuman mereka.
Banyu tersenyum puas melihat bibir istrinya sedikit membengkak. Ia mengusap bibir Jingga yang basah dengan ibu jarinya. Ia ingin sekali tertawa melihat wajah gadis itu merah padam hingga telinga.
Merasa tubuhnya sudah bebas. Jingga segera beranjak dari tidurnya. Ia berlari menuju kamar mandi. Terlalu malu menatap mata suaminya yang begitu memesona. Jingga yakin wajahnya berubah warna seiring dengan suhu yang terasa naik begitu saja.
Jingga memegangi dadanya. Jantungnya berdetak begitu cepat seakan-akan ia baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Di dalam sana, Jingga berusaha menetralkan diri. Ia berpikir kembali, apa yang menyebabkan suaminya berubah drastis dalam satu malam.
"Apa mungkin mas Banyu masih belum terima Kevin cium aku kemarin?" tanya Jingga pada pantulan bayangannya di cermin.
"Atau mungkin ... "
Jingga menggelengkan kepalanya. Ia harus segera mengguyur kepalanya agar tidak berpikir macam-macam.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar. Senyuman Banyu masih belum juga pudar. Ia merasa dirinya seperti remaja yang baru pertama kali berciuman. Hatinya berbunga-bunga dan jantungnya berdetak sangat cepat. Ada euforia tersendiri rasanya hingga ia tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
Banyu melipat kedua tangannya di belakang kepala. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ia berpikir, sejak kapan ia jatuh cinta pada istri manisnya itu. Banyu dibuat bingung sendiri. Sebelumnya ia tidak pernah jatuh cinta secepat itu. Butuh waktu lama untuk Banyu mengenal para mantan kekasihnya. Tapi dengan Jingga. Ia baru mengenal gadis itu beberapa minggu. Belum genap tiga bulan mereka saling kenal. Tapi, Banyu sudah jatuh ke dalam pesona gadis polos pendiam itu.
Mengingat kembali apa yang baru saja mereka lakukan, memunculkan memorinya pada hari kemarin.
Awalnya Banyu menunggu Jingga sebelum jam dua supaya mereka bisa langsung pulang karena bunda sudah berkali-kali menghubunginya.
Cukup lama Banyu menunggu, tapi istrinya belum juga keluar. Ia mencoba menghubungi ponsel Jingga, tapi hanya ada suara operator yang mengatakan nomor Jingga sedang tidak aktif.
Takut terjadi sesuatu, Banyu memutuskan untuk mencari gadis itu. Ia mencari gedung fakultas kedokteran. Tak sulit Banyu mencarinya, karena dulu Banyu juga menimba ilmu di sini. Ia melewati beberapa koridor. Sudah cukup sepi di area sana. Tapi Banyu tetap melangkah mencari keberadaan Jingga.
Langkahnya berhenti di ujung koridor saat melihat punggung istrinya. Gadis itu tengah berciuman dengan seorang pria yang Banyu yakini adalah Kevin. Hatinya memanas. Otaknya serasa mendidih melihat istrinya bertindak seperti itu di belakangnya.
Ada dorongan dari diri Banyu untuk menarik istrinya secara paksa. Tapi sisi lainnya menyadarkan Banyu, bahwa istrinya masih mencintai pria itu.
Banyu hanya bisa memilih untuk pergi dari sana. Menyimpan sendiri segala emosi yang Banyu rasakan. Dan berakhir dengan Banyu mendiamkan Jingga.
Ia sendiri bingung kenapa ia bisa seemosi itu. Sebelumnya ia tidak pernah merasa cemburu pada para mantan kekasihnya termasuk Celin. Ia selalu membiarkan mereka melakukan apapun bahkan berteman dengan pria atau bahkan cipika-cipiki di depannya. Tapi saat bersama Jingga semua terasa begitu berbeda. Ia merasa Jingga hanya miliknya dan ia sama sekali tidak rela jika ada pria lain menatap istrinya dengan tatapan memuja.
Banyu mulai tersadar saat Jingga meminta maaf padanya. Ia tidak tahan mendiamkan gadis itu. Apalagi mendengar suara sendunya, membuatnya begitu frustasi. Ia sadar ia telah jatuh hati pada Jingga. Dan apa yang ia rasakan kemarin sebuah rasa cemburu.
Banyu menghela napas lalu membuangnya secara perlahan. Ia bergumam, "aku akan membuatmu jatuh cinta padaku secepat mungkin Jingga Senja. Dengan cara apapun."
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1