You Are Mine

You Are Mine
Ekstra Part 4


__ADS_3

"Ataaa ... Ataaa ..." panggil Jingga dari arah dapur.


"Iya, Maaa," sahut Ata. Lelaki itu berjalan santai dari tangga menuju dapur.


"Kenapa, Ma?" tanya laki-laki itu sembari memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana.


"Tolongin Mama, dong, Kak. Beliin garam ke toko depan," pinta Jingga seraya mengambil uang dari kantung apronnya.


Remaja berusia enam belas tahun itu mengerutkan keningnya. "Kok, Ata sih, Ma?"


Jingga mengangkat kepalanya, menatap tak mengerti pada sang putra. "Emangnya kenapa, Kak? Kamu sibuk?" tanya Jingga memastikan. Pasalnya, sejak tadi ia kira putranya itu hanya duduk santai di balkon lantai dua.


Gelengan kepala anaknya membuat kerutan dalam kening Jingga semakin banyak.


"Terus? Ya, nggak papa kan kalau Mama minta tolong sama kamu?"


Remaja itu memajukan bibirnya. "Malu, dong, Ma. Masa cowok seganteng aku beli garam," ucapnya membuat Jingga tertawa lepas.


"Ih, kok, Mama malah ketawa sih!" sungut Ata. "Kak Caca aja, ya, yang beli garam? Ke mana sih dia?" pinta anak itu seraya memutar kepala mencari keberadaan sang kakak.


"Heh, enggak, Kak Caca lagi ngerjain tugas. Dia nggak bisa diganggu. Mama minta tolongnya sama kamu, ya, Ata!" Jingga memberikan lirikan tajam pada putra keduanya.


"Bia deh Bia,"


"Bia kan lagi ikut ayah ke rumah oma," jawab Jingga. Ia mengangkat uang dua puluh ribu, bermaksud menyerahkannya pada sang putra.


"Ma, Ata malu dong. Masa cowok beli garam," tolak remaja itu lagi.


Jingga menatapnya malas. Kemudian berkata, "Ya, udah oke, nggak papa."


Ata sedikit menyunggingkan senyumnya, namun sedetik kemudian berubah, setelah mendengar lanjutan ucapan sang ibu.


"Tapi, jangan harap Mama mau ngomong sama, kamu!" peringatnya seraya melewati tubuh putranya itu.


"Maaa," panggil Ata. Ia mengikuti langkah ibunya yang berjalan cepat ke luar rumah. Ia tidak akan bisa tidur jika mamanya ngambek seperti ini.


Ata mencoba meraih tangan sang ibu, namun ditepis. Ia berdecak pelan, masih mengikuti wanita itu hingga hampir sampai di ruang tamu. Ata pun memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dari belakang. Menahan langkah ibunya dengan dekapannya.


"Jangan marah, dong, Ma," rengek Ata. Ia mengusap-usapkan kepalanya pada punggung ibunya. Ia tak bisa membiarkan wanita yang telah melahirkannya itu marah barang sedetik pun.


Jingga hanya berdecak dan berusaha melepas dekapan putranya. Suaranya enggan keluar namun, ia tak bergeming di depan Ata.


"Maaa," rengek Ata lagi, menyadari sang ibu tak mau menjawab.


"Iya, deh, Ata beliin garamnya," ucapnya membuat Jingga seketika diam.


"Mana uangnya, Ata beliin." Remaja itu beralih ke depan ibunya. Ia menengadahkan tangannya meminta uang.


Tanpa bersuara, Jingga memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Ata. Ia menatap datar putranya itu, membuat Ata semakin dirundung rasa bersalah.


"Jangan marah, ya, Ma," ucap Ata. Ia menatap lekat mata ibunya.

__ADS_1


"Hm" Jingga berdeham sebagai jawaban. Ia memperhatikan putranya yang mulai berjalan ke luar rumah, kemudian mengambil sepeda dan membawanya menuju toko kelontong yang tak jauh dari rumahnya.


Tawa Jingga berderai setelah putranya terlihat melewati gerbang. Akhirnya ia bisa memperdaya putranya yang kelewat gengsi itu. Sebenarnya ia tidak marah. Semua tadi ia lakukan hanya sebagai ancaman untuk putranya yang memang sulit untuk disuruh, meskipun hanya ke toko seberang jalan. Ia memanfaatkan kelemahan Ata yang tak bisa melihat dirinya marah, supaya Ata mau disuruh membeli garam.


"Mama kenapa ketawa sendiri gitu?"


Suara Caca menginterupsi Jingga. Ia menatap putri sulungnya sebelum menghampiri gadis itu.


"Itu, adek kamu. Mama suruh beli garam, tadinya nggak mau. Katanya malu, masa ganteng-ganteng disuruh beli garam. Terus Mama kerjain deh, Mama pura-pura marah, biar mau beli garam. Eh, ternyata berhasil," papar Jingga.


Tawanya disusul oleh Caca. Ia menyetujui cara sang ibu untuk meluruhkan rasa gengsi yang Ata miliki. Bocah itu memang perlu diberi pelajaran, gumam Caca.


***


Di tempat lain


"Bagaimana, Pak, apakah kita bisa menyewa restoran Bapak untuk acara pernikahan putra kami dengan tema seperti ini?" tanya seorang wanita paruh baya, pada pria yang memiliki usia lebih muda darinya.


"Tentu saja bisa, Bu. Kami juga memiliki restoran di daerah lain, yang mungkin lebih cocok untuk tema Anda ini," jawab pria itu.


Ia mengangsurkan tabletnya untuk memperlihatkan sudut-sudut restoran yang tadi ia maksudkan.


"Ah, sepertinya ini memang lebih cocok. Kalau begitu kami memilih tempat ini saja," balas wanita itu antusias. Ia tak bisa mengalihkan binar matanya dari desain restoran milik pria itu.


"Baiklah, kalau begitu berarti kita deal untuk melakukan kerja sama," ucap wanita itu lagi.


"Tentu," balas pria itu seraya mengulas senyum. Ia meminta wanita penyewa restorannya itu untuk mencicipi hidangan menu spesial. Mereka berbincang ringan selama menikmati makan siang itu.


"Iya, Bu. Ini putri bungsu saya," jawab Banyu seraya menoleh pada sang putri.


"Bia, perkenalkan nama kamu!" suruh Banyu pada putrinya.


Bia mengangguk. Ia mengulas senyum manis sebelum berucap. "Nama saya Carabella, biasa dipanggil Bia."


Wanita itu tersenyum. "Putri Anda sangat cantik dan juga terlihat sangat penurut dan pendiam," puji wanita itu.


Banyu melirik sinis pada putrinya yang kembali tersenyum manis dan mengangguk kecil seolah tersipu dengan pujian wanita itu. Kepalanya menggeleng melihat kelakuan putrinya satu ini.


Setelah acara makan siang sekaligus berdiskusi masalah persewaan restoran itu selesai. Banyu dan wanita penyewa itu memisahkan diri. Banyu mengucapkan terima kasih pada wanita itu, karena telah mempercayakan acara pernikahan keluarganya di salah satu restoran miliknya.


Saat ini, Banyu sedang dalam perjalanan pulang. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia melirik pada putrinya yang sejak tadi memperhatikan luar jendela. Seolah sedang mencari sesuatu di jalan.


Namun, Banyu tak mempermasalahkan itu. Ia pun hafal, sebentar lagi pasti gadis itu ....


"Yahhh, beli ituuu!" seru Bia. Ia menunjuk pada stand martabak manis di pinggir jalan.


Banyu mengembuskan napasnya lemah sebelum menepikan mobilnya. Ia hanya melihat anak bungsunya itu turun dengan antusias dan membeli tiga kotak martabak manis berukuran sedang.


"Udah?" tanya Banyu setelah putrinya duduk dan kembali memasang seatbelt-nya.


Gadis itu hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya pada sang ayah.

__ADS_1


"Dikasih uang berapa kamu sama oma, sampai bisa beli martabak tiga gitu?" tanya Banyu. Ia kembali melajukan mobilnya dengan tenang.


Bia tersenyum manis sebelum menjawab, "Tiga ratus ribu."


Banyu menatap horor pada putrinya. "Kan ayah udah bilang. Kalau dikasih banyak jangan mau!" seru Banyu pada sang putri.


"Itu tadi suruh bagi sama kakak, Yah," jelas Bia. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Besok kalau ke sana, kamu harus bawain oma sesuatu," tutur Banyu.


"Iya," jawab Bia singkat. "Tapi, kalau dikasih uang lagi nggak papa kan, Yah?" tanya Bia. Ia memasang puppy eyes-nya pada sang ayah.


"Boleh, asal nggak banyak. Kan ayah udah kasih kamu uang," jawab Banyu. Ia memang tidak pernah memberikan uang banyak pada ketiga anaknya. Ia berusaha mengajarkan hidup hemat dan sederhana. Meskipun sesekali ia menuruti apa yang mereka minta.


Martabak yang Bia beli tadi pun tidak menggunakan uangnya. Melainkan uang pemberian dari omanya. Mereka hanya akan meminta uang saat jajan, jika uang yang Banyu berikan tinggal sedikit. Atau jika mereka memang sedang berlibur bersama.


"Oke, Ayah aku yang ganteng," balas gadis itu dengan senyum lebarnya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah. Bia segera keluar dari mobil dan berlari memasuki tempat berteduhnya selama ini.


"Good afternoon everybody! Yuhuuu, Bia yang cantik dan baik udah pulang!"


Teriakan anak gadisnya itu membuat Banyu hanya bisa menggelengkan kepala. Itu lah kenapa, ia melirik sinis putrinya yang sempat tersipu kala dipuji kliennya tadi. Karena apa yang wanita itu sampaikan berbanding terbalik dengan apa yang sesungguhnya. Banyu lantas mengikuti putrinya masuk ke dalam rumah, setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


Menatap jam dinding yang menggantung di ruang tamunya. Banyu mengernyit saat mendapati waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Itu artinya, Jingga dan kedua anaknya masih berada di meja makan. Langkahnya pun berbelok ke dapur untuk memastikan wanita yang ia cintai berada di sana.


"Dek, kamu bukannya baru makan?" Banyu membelalakkan matanya melihat putrinya sedang menyantap masakan sang istri.


Bia yang merasa dipanggil menghentikan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia meringis menatap kedua kakak dan ibunya.


"Kenapa sih, Yah. Bia laper lagi kali," jawab bocah itu. "Bia nggak boleh makan lagi, nih?" tanya gadis berusia empat belas tahun itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, bukannya nggak boleh gitu, Sayang. Tapi–"


"Udahlah, biarin aja, Yah," potong Jingga. "Kamu kan tahu sendiri gimana perut Bia," bela wanita itu.


Bia menjulurkan lidahnya pada sang ayah.


"Heh!" seru Jingga.


Bia kembali meringis menatap ibunya. Ia pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.


"Dasar gentong," olok Caca dan Ata bersamaan.


"Biarin! Wleekk"


Banyu dan Jingga saling tatap melihat kelakuan ketiga anaknya yang jarang sekali akur. Mereka tak pernah menyangka mereka bertiga sudah sama-sama beranjak besar. Terkadang mereka merasa pusing menghadapi kelakuan anaknya yang cukup sering memberi kejutan.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2