You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 15


__ADS_3

“Kenapa? Lo nggak nyaman ada gue?”


Rania mengembuskan napasnya pelan. Ditatapnya Ata yang kini tengah menyipitkan pandangan, seolah tak suka dengan apa yang ia katakan.


“Bukan begitu Cakra–”


“Terus?”


Geram. Rania ingin sekali meremas wajah Ata yang suka sekali memotong pembicaraannya. Namun, gadis itu mencoba untuk bersabar dengan menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


“Aku kan udah sadar, dan kamu juga harus ikut pelajaran. Aku bisa kok di sini sendiri. Aku cuma butuh istirahat bentar biar pusing aku ilang,” jelasnya yang justru membuat Ata semakin kukuh untuk menemaninya.


“Gue bakal nunggu lo di sini sampai pusing lo ilang.”


Tidak ada yang bisa mencegah keputusan Ata, meskipun Rania ingin. Gadis itu malas berdebat dan akhirnya mengiyakan saja apa yang Ata mau. Namun, Rania yang sudah terlanjur malas memilih untuk merebah dan tak memedulikan Ata yang benar-benar tak beranjak dari sana.


**


“Kak Dio, kakak aku mana?”

__ADS_1


Wajah penuh tanya Bia membuat Dio tersenyum. Sebelum menyuapkan satu potong kecil bakso ke dalam mulutnya Dio menjawab, “Kata temen sekelasnya dia di UKS–”


“Kak Ata sakit?” tanya Bia penuh khawatir.


Dio dan kedua temannya semakin ingin tertawa melihat ekspresi Bia yang terlihat sangat lucu. Mereka yang memang sudah mengenal gadis itu sejak lama pun tahu betapa sayangnya Bia pada sang kakak. Sehingga mereka tidak terkejut dengan sikap Bia yang mungkin jika orang lain yang melihat seperti berlebihan.


“Duduk sini, Bi,” tawar Vian sembari menepuk kursi kosong sampingnya.


“Ih, Kak Ata sakit apa, Kak? Tadi kayaknya waktu berangkat Kak Ata baik-baik aja deh,” tanya gadis itu lagi masih dengan mimik khawatir yang begitu kentara.


“Duduk dulu aja Bi. Nggak usah khawatir sama Ata.”


Bia semakin kesal saat ketiga sahabat kakaknya itu malah tertawa. Mereka seperti tidak memedulikan Ata saat ini. Bahkan mereka masih bisa bersantai saat kakaknya–


“Ata nggak sakit, Bia.” Alvin berucap tenang. Menatap Bia dengan sorot teduh.


Sahabat Ata satu ini memang paling tidak tega saat teman-temannya menjaili Bia. Bahkan terkadang, jika Bia berada di antara mereka dan Bia dikerjai, Alvin lah yang membela gadis itu.


“Ih, kenapa nggak bilang dari tadi, sih!” sungut Bia. Gadis itu duduk di samping Alvin dan menanyakan kenapa kakaknya berada di UKS.

__ADS_1


“Tadi waktu olahraga Ata main basket sama temen-temennya, waktu dia lempar bola nggak sengaja kena kepala temen ceweknya sampai pingsan. Terus dia nemenin cewek itu sampai siuman.” Dio menyesap es tehnya setelah bercerita.


“Hih, padahal aku mau minta duit malah nggak ada.” Gadis itu mencebik, kemudian menopangkan kepalanya pada meja kantin. Memasang raut melas pada sahabat kakaknya.


“Kak, bagi duit dong, Bia laper nih,” ucap Bia sembari menatap Alvin.


“Lah, anak orang kaya minta duit ke orang lain. Duit lo ke mana?” tanya Vian agak sewot.


Bia berdecak, ia sedikit mencondongkan tubuhnya pada sahabat kakaknya itu. “Bia tuh lupa pernah hutang sama temen Bia waktu jalan-jalan. Tadi ditagih, katanya dia butuh banget buat berobat adiknya. Jadi, Bia kasih deh.”


Bia mengalihkan pandangan pada Alvin. “Kak Alvin, beliin Bia bakso dong. Laper banget ini,” rengek Bia lirih. Ia tahu Alvin orangnya mudah kasihan terhadap orang lain. Bia pun memanfaatkan hal itu untuk kepentingan perutnya.


Sejenak Alvin menatap Bia. Dan benar saja, dia merasa iba dengan adik sahabatnya itu. Ia pun mengangguk dan meminta Bia untuk memesan makanan yang dia inginkan.


Senyum Bia terukir cantik di wajahnya membuat siapa pun akan terkesima, meski usianya masih belia. Gadis itu berdiri, berlari kecil memesan mi ayam dan satu gelas es jeruk.


“Makasih, Kak Alvin,” ucap gadis itu dengan senyum secerah matahari. Membuat jantung Alvin berdentam hebat tanpa permisi.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2