You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 20


__ADS_3

Mentari kian terik di siang hari. Bel pulang sekolah semakin dinanti. Para siswa-siswi sudah heboh menunggu guru mereka menutup jam pelajaran hari ini.


Tepat pada pukul dua siang bel pun berbunyi. Para siswa-siswi itu terdengar semakin heboh. Mereka berbondong-bondong untuk keluar dari kelas supaya bisa lekas rebahan di rumah.


Ata tak lantas terburu-buru seperti teman-temannya. Ia lebih memilih untuk diam di kelasnya terlebih dahulu. Ata tidak suka berdesak-desakan. Sehingga Ata memilih untuk menunggu saja sampai kelasnya sepi, baru ia akan keluar dari sana seperti yang lain. Lagi pula hari ini Bia tidak akan pulang bersamanya, jadi tidak akan ada yang mencarinya.


Terlalu fokus dengan ponselnya. Ata tidak sadar ada orang lain di kelas itu selain dirinya. Hingga percakapan mereka sedikit mengganggu telinga Ata.


“Win, kamu beneran nggak bisa ngasih aku tebengan?” tanya Rania dengan suara lesu.


“Aduh, Ran. Sorry banget, nyokap gue udah telepon dari tadi. Gue nggak bisa nganter lo pulang hari ini,” jawab Wina penuh penyesalan.


Tadi pagi Wina menawari Rania pulang bersama, karena sopir cewek itu sedang cuti. Namun, saat istirahat tadi ibunya menghubungi Wina untuk segera pulang karena motor yang Wina gunakan akan dipakai pergi ke rumah tantenya yang kabarnya sedang sakit. Sehingga Wina tidak bisa memberi Rania tumpangan, karena akan memperlama perjalanan Wina untuk sampai di rumah.


“Hape kamu masih nyala nggak? Hape aku mati, mana nggak bawa charger lagi.”


“Hape gue juga mati, Ran.”


Rania mengembuskan napasnya lemah. Ia jadi bingung harus pulang dengan apa, karena satu-satunya cara hanya memesan taksi online. Namun, ponselnya juga sudah mati begitu juga dengan Wina.


“Ya udah, deh. Aku nunggu taksi di depan aja.”


“Yah, sorry ya, Ran. Padahal tadi gue udah janji mau anterin lo balik.”


“Nope, ibu kamu jauh lebih penting, Win.” Rania mengembangkan senyumnya untuk menenangkan.


“Eh, Cakra. Lo, masih di sini ternyata?” tanya Wina saat baru mendapati Ata masih berada di kelas itu bersama mereka.


Suara itu mengangkat kepala Ata dari ponselnya. Ia tersenyum melihat Rania dan Wina yang duduk tak jauh darinya.

__ADS_1


“Iya, gue nunggu sepi dulu. Kenapa? Lo butuh tebengan, Ran? Mau balik bareng gue aja nggak?” tawar Ata yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Rania yang disebut namanya pun menoleh. Ia tersenyum tipis kemudian menjawab,


“Nggak perlu repot-repot. Kalau boleh aku pinjem hape kamu aja buat pesen taksi online.”


“Udah, gue anter pulang aja. Hape gue juga udah mau mati,” dusta Ata. Daya ponsel Ata masih sangat cukup hanya untuk memesan taksi online. Namun, Ata ingin memanfaatkan situasi ini agar bisa tahu di mana rumah Rania.


“Nggak usah deh kalau gitu. Aku nunggu taksi di depan aja,” tolak Rania.


Cewek itu tidak ingin merepotkan siapa pun. Ia juga tahu rumahnya dan rumah Ata berbeda arah. Ata harus putar balik jika mengantarkannya pulang.


“Ran, kayaknya mending lo balik sama Cakra aja, deh. Daripada nungguin taksi nggak dapet-dapet,” saran Wina dengan berbisik.


Rania melebarkan matanya tak suka. Ia membalas Wina dengan berkata tidak ingin merepotkan Ata.


Sontak saja Rania melotot. Ia bahkan hendak mencubit lengan Wina jika tidak ingat ada Ata di sana.


“Enggak lah.” Ata lantas membereskan tasnya. Ia berdiri sambil menyampirkan tasnya ke pundak.


“Ayo, kita balik sekarang. Nanti keburu macet,” ajak Ata yang sudah berdiri di depan Rania.


Rania ingat, Ata selalu berangkat dan pulang bersama adiknya. Alasan itu akan Rania gunakan untuk kembali menolak tawaran Ata.


“Bukannya kamu pulang sama adik kamu, ya?” tanya Rania.


Ata terkekeh. “Tenang, hari ini Bia balik sama temennya. Jadi, lo nggak perlu khawatir,” jawabnya dengan seulas senyum.


“Ayo, lo jadi balik nggak?”

__ADS_1


Rania meragu untuk pulang bersama cowok ini. Namun, sepertinya memang tak ada pilihan lain. Apalagi Wina dengan semangat menariknya berdiri dan membawanya berjalan di belakang Ata.


Saat sampai di tempat parkir, Wina sudah lebih dulu melesat pergi. Cewek satu itu sudah ditunggu ibunya di rumah. Rania pun ditinggal sendiri di sana.


“Nih, pakek!” perintah Ata seraya mengangsurkan helm milik Bia.


Rania pun mengambil benda berwarna merah muda itu. Kemudian, memakainya di atas kepala. Entah karena sudah lama tidak pernah memakai benda itu atau memang sedang gugup karena ditatap dengan intens oleh Ata, Rania begitu kesusahan saat mengaitkan pengait helm tersebut.


Tiba-tiba saja Ata memajukan wajahnya dan menjulurkan tangannya untuk membantu Rania mengaitkan benda itu. Wajah Ata terlalu dekat, hingga Rania harus menahan napas selama beberapa detik sampai Ata kembali memundurkan kepala.


“Lo nggak pernah pakai helm?” tanya Ata sembari menaikkan sebelah alisnya.


“Pe-pernah, kok,” jawab Rania tergagap. Gadis itu menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Ata yang ternyata sangat tampan saat dilihat dari dekat.


Ata tertawa kecil. Kemudian, naik ke atas motornya. Tak lupa Ata menurunkan pijakan motor agar Rania tidak susah saat naik nanti. Setelah berhasil mengeluarkan motor itu dari jajaran motor yang lain, Ata meminta Rania untuk segera naik.


“Ayo naik, jadi pulang nggak?” perintah Ata.


Rania tampak kebingungan. Namun, sedetik kemudian cewek itu memegang bahu Ata, lalu naik ke atas motor tersebut. Setelah berada di atas motor, Rania dibuat semakin kebingungan, karena ia tidak tahu harus berpegangan di mana. Jika dulu ia berpegangan pada pinggang Wina, kali ini tidak mungkin melakukan hal yang sama.


“Lo bisa pegangan di tas gue kalau takut jatuh,” ucap Ata sebelum menyalakan motornya.


Ata memang sengaja menaruh tasnya di punggung. Ia tahu gadis seperti Rania ini pasti tidak akan mau berpegangan dengan lawan jenisnya.


Tadi saja saat akan naik ke atas motor, Rania terus menggumam kata maaf karena telah memegang bahunya. Ata menghargai apa yang Rania lakukan, karena itu juga yang ia ajarkan pada adiknya.


“Kamu beneran nggak papa harus puter balik nanti?” tanya Rania saat mereka mulai keluar dari gerbang sekolah.


“Udah, santai aja. Gue udah biasa kok muter-muter sebelum pulang,” jawab Ata sembari membelokkan motornya menuju jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2