You Are Mine

You Are Mine
Part 25


__ADS_3

"Om, Bi .... " Teriak seorang gadis kecil dari dalam rumah.


Banyu segera meraih tubuh gadis kecil yang baru saja berlari ke arahnya. Memberikan banyak ciuman pada wajah gadis itu. Sheila nampak tertawa dengan perlakuan om kesayangannya itu. Dan mereka baru bisa diam saat sang bunda keluar rumah menyambut menantu barunya.


"Dari tadi Bunda nungguin kamu nggak dateng-dateng. Bunda pikir nggak jadi ke sini," ujar wanita paruh baya itu sembari mengurai pelukannya dari sang menantu.


Jingga tersenyum lebar. Ia meminta maaf atas keterlambatanannya, sehingga membuat ibu mertuanya ini menunggu. Jingga sungguh tidak menyangka ibu mertuanya akan seheboh ini untuk menyambut kedatangannya sebagai menantu. Jingga merasa sangat beruntung mendapatkan keluarga yang begitu ramai dan hangat. Berbeda sekali dengan keluarganya sendiri.


Bunda Ika membawa masuk menantunya ke dalam rumah. Di sana semua anggota keluarga telah menunggu. Jingga merasa sedikit gugup jadinya. Ia belum pernah menemui situasi seperti ini.


Jingga bukan tipe orang yang mudah akrab. Ia lebih sering diam saat bersama orang baru. Tapi, sekarang ia dituntut untuk mengakrabkan diri dengan keluarga barunya. Sungguh! Ini adalah tantangan terberat bagi Jingga. Lebih baik mengerjakan seratus soal matematika daripada menghadapi orang-orang yang baru ia kenal, menurutnya.


Semua orang yang berada di ruangan keluarga nampak tersenyum menyambut keluarga baru mereka. Tapi tak membuat rasa gugup Jingga berkurang.


"Bun, tadi Jingga beliin kue buat Bunda," ujar Banyu sembari mendudukkan dirinya pada sofa. Sheila keponakannya masih setia menempel pada pria itu.


"Oh ya?" seru wanita paruh baya itu, senang.


Jingga mengangguk, kemudian menyuruh seseorang yang tadi diperintahkan Banyu mengambil beberapa bungkus kue dari dalam mobilnya untuk diberikan pada bunda Ika.


"Loh ini kan kue kesukaan Bunda," seru Bunda Ika lagi saat menerima paperbag berlogo dua bocah kembar yang begitu ia kenali. Wanita paruh baya itu begitu senang memdapat kue favoritnya. Sudah lumayan lama ia tak membeli kue itu.


"Makasih ya sayang. Kamu pengertian banget sih,"


Jingga membalas senyum ibu mertuanya itu. Ia merasa begitu senang saat ini. Apa yang ia berikan sebenarnya bukan hal istimewa, tapi mereka menerimanya dengan begitu senang. Menimbulkan rasa bahagia dalam hatinya.


Setelah itu kehebohan mengenai kue-kue tadi, mereka semua berbincang di ruang keluarga. Mereka menanyakan banyak hal pada Jingga untuk semakin mendekatkan diri pada anggota keluarga baru itu.


Perlahan rasa gugup Jingga memudar seiring percakapan yang mulai menghangat. Candaan-candaan yang terlempar dari bibir saudara iparnya membuatnya merasa semakin mudah untuk akrab. Jingga sangat bersyukur, keluarga suaminya benar-benar bisa menerima dirinya. Pernah sekali Jingga merasa takut menghadapi keluarga besar Banyu. Ia sangat tahu, seberapa terpandang keluarga ini. Papa Jingga pernah menceritakan sedikit bagaimana keadaan keluarga ini, karena papa Arta adalah dokter keluarga mereka.


Waktu terus bergulir, percakapan yang tak ada habisnya terpaksa harus dihentikan sementara karena makan siang telah selesai dimasak.


Bunda Ika dan ayah Liyas mengajak semua untuk makan bersama.

__ADS_1


Sepertinya waktu untuk mengobrol tadi masih tidak cukup untuk keluarga ini. Bahkan saat makan siang, mereka masih menyempatkan diri untuk mengobrol, atau hanya sekedar melempar candaan. Tidak seperti keluarga Jingga yang selalu diam saat berada di meja makan. Seperti orang asing yang tak sengaja bertemu dan duduk di tempat yang sama.


Obrolan yang didominasi oleh adik Banyu, Dika, terasa begitu menggelitik hati Jingga. Ia jadi teringat kakaknya yang telah tiada. Kakaknya yang super jail seperti menjelma pada sosok Dika, menurut Jingga.


Perasaan sedih mulai melingkupi hati Jingga. Namun, ia mencoba untuk tetap tersenyum meskipun terasa sesak dalam dadanya. Sup ayam kesukaannya bahkan terasa tidak menarik lagi.


Sekelebat kenangan bersama sang kakak mulai berdatangan. Mata Jingga 'pun mulai nemanas. Gadis cantik itu berdehem untuk mengurangi rasa sesaknya dalam diam.


Bibir gadis itu melengkung dengan sendirinya mendengar pertanyaan Dika.


"Bun, aku manggil istrinya Banyu gimana? Kan dia kakak ipar aku, tapi umurnya masih mudaan dia. Masa aku panggilnya mbak adik?"


Mau tak mau semua yang ada di meja makan tertawa.


"Mas Dika panggil aku Jingga aja nggak papa. Nggak usah dipikirin aku kakak ipar Mas Dika. Anggap saja aku adik baru Mas Dika," tutur Jingga, diangguki oleh semua yang ada di sana.


"Ok, adik baru rasa kakak ipar!" sahut Dika dengan senyum lebar, khas anak tengil.


Makan siang telah usai. Banyu mengajak Jingga ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan yang lain mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Seperti saat Banyu memasuki kamar Jingga kemarin. Jingga juga tampak menelisik setiap sudut ruangan yang terbilang cukup luas. Kesan pertama yang Jingga dapat adalah rapi. Aroma maskulin khas pria menyeruak ke dalam indra penciumannya. Dengan cat dinding warna abu-abu tua menambah kesan bahwa pemilik kamar adalah seorang pria. Foto Banyu mulai dari kecil hingga dewasa nampak menggantung rapi. Berjajar sesuai urutan tahun. Mulai dari bayi hingga saat ini.


"Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat dulu. Aku mau ke bawah sebentar. Kamar mandi ada di sana. Beberapa baju kamu, bisa kamu taruh di lemari itu. Mungkin satu bulan sekali kita akan menginap di sini."


Jingga hanya membalas dengan acungan jempol. Dibalas senyuman oleh Banyu. Dan Jingga hanya bisa terpaku saat tangan pria itu mengacak-acak rambutnya, kemudian pergi meninggalkannya sendiri.


*


*


*


Tak terasa waktu sudah sore.

__ADS_1


Jingga yang tadi bermain ponsel di sofa nampak terkejut saat ia sudah berbaring di ranjang, ia ketiduran. Hal pertama yang ia lihat setelah membuka mata adalah suaminya yang juga sedang tertidur dengan posisi tengkurap dan kepala menghadap dirinya.


Seperti terhipnotis, Jingga memandangi wajah damai suaminya. Gadis itu sedikit terkagum dengan ketampanan pria itu. Suaminya yang berusia hampir kepala tiga masih terlihat sangat muda seperti usia dua puluh lima. Jingga tersenyum, sedikitnya ia merasa begitu beruntung mendapatkan suami yang begitu baik.


Kesan baiknya pada Banyu bukan berarti bayang-bayang kenangannya bersama Kevin hilang begitu saja. Terkadang Jingga malah semakin rindu dengan mantan kekasih pertamanya itu. Sempat ia ingin menghubungi pria itu kemarin, namun ia urungkan. Jingga hanya ingin menghormati suaminya.


Jingga menggelengkan kepala guna mengenyahkan bayangan Kevin yang tengah melintas pada ingatannya. Kemudian ia segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidur selama tiga jam membuatnya begitu gerah.


*


*


*


Langit sudah sangat gelap saat Jingga keluar dari kamar mandi. Niat awalnya yang hanya ingin mandi tergagalkan saat bathtub lebar kamar mandi Banyu melambai-lambai. Rasa gerahnya tentu langsung meronta ingin direndam.


Setelah hampir satu jam berendam, Jingga memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dan menyelesaikan acara bersih-bersih badan.


Kening Jingga mengerut mendapati sang suami masih terbaring dengan mata terpejam. Posisinya memang sudah berubah tapi pria itu belum bangun. Jingga hanya geleng kepala saja sembari melangkah menuju meja rias.


Suara hairdryer sama sekali tidak mengusik pria itu, dan Jingga masih belum peduli dan tetap fokus mengeringkan rambutnya.


Ketukan pintu dari luar menghentikan aktivitas Jingga sejenak. Dilihatnya wanita paruh baya berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu yang tak lain sisten rumah tangga, memberitahukan bahwa makan malam sudah siap, Jingga dan Banyu diminta untuk segera turun. Dengan suara yang begitu lembut Jingga mengiyakannya.


Setelah menutup kembali pintunya, Jingga mencoba membangunkan suaminya. Namun, pria itu seperti tidak ingin untuk bangun. Pria itu seperti tidak terganggu dengan guncangan yang Jingga ciptakan.


"Mas, bangun. Mas!"


Jingga memekik saat Banyu tanpa sengaja menarik pergelangan tangannya. Tubuh Jingga menindih suaminya yang masih terpejam. Mata Jingga melebar melihat posisinya saat ini. Jingga meronta hendak berdiri. Tapi, Banyu malah mendekapnya erat, seakan sedang mendekap guling. Jingga begitu kebingungan saat ini, karena posisi mereka yang begitu intim. Degup jantungnya bahkan semakin cepat. Ia ingin melepaskan diri tapi tidak bisa, karena suaminya masih tidur. Dan pada akhirnya satu teriakan baru menyadarkan Banyu dari mimpi indahnya.


"Banyu!"


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2