You Are Mine

You Are Mine
Part 74


__ADS_3

Ada hal yang harus dikorbankan untuk mewujudkan harapan yang begitu besar.


–An Nisa


Para karyawan BB kafe terlihat begitu sibuk. Satu persatu dari mereka membawa beberapa bunga untuk diletakkan di setiap meja. Ada juga yang tengah menghiasi sudut-sudut kafe dengan beberapa balon dan juga pita.


Kekanakan? Katakan saja begitu. Tapi, Banyu tak memiliki ide lain untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk istrinya.


Banyu menatap lalu-lalang para karyawannya. Senyum jelas terukir manis pada bibirnya. Sesekali ia terkekeh kala teringat sang istri yang lupa akan hari ulang tahunnya saat ini.


Hari ini Banyu memang sengaja tidak datang ke kantor untuk menyiapkan kejutan ulang tahun untuk istrinya. Ya, katakan saja tadi pagi pria itu berbohong pada Jingga. Banyu sangat bersyukur dengan adanya Jingga pergi bersama Keyra saat ini, karena ia bisa menyiapkan kejutan lebih sempurna lagi.


Sudah hampir dua jam Jingga tak kunjung datang. Setengah jam yang lalu, ia menghubungi Deva untuk menjemput istrinya. Namun, mereka belum terlihat sama sekali hingga saat ini. Ada sedikit rasa resah yang masuk ke dalam pikirannya. Namun, Banyu selalu berusaha menepis pikiran buruk yang sempat hinggap dalam otaknya.


Mungkin masih macet, pikirnya.


Lima belas menit kemudian sebuah panggilan masuk menggetarkan ponsel Banyu. Matanya menyipit mendapati nomor istrinya berada pada layar utama. Tak banyak kata, Banyu segera menghubungkan sambungan telepon tersebut.


"Halo, Sayang. Kamu di mana? Deva belum datang?" tanya Banyu beruntut.


"Mas Banyu ... "


Tunggu! Ini bukan suara Jingga.


"Key, di mana Jingga? Kenapa ponselnya ada sama kamu?"


"Jingga .... "


***


Berlari secepat yang Banyu bisa. Ia tak memedulikan orang yang memandangnya aneh. Yang ia pikirkan saat ini, bagaimana kondisi istrinya.


Disetiap langkahnya yang lebar, ada doa yang termuat untuk istri dan anaknya. Ia kalut mendengar istrinya baru saja kecelakaan di depan mal. Bahkan ia hampir saja pingsan jika tidak ada Kikan yang menyadarkannya.


Langkah Banyu berhenti di depan IGD. Ia melihat ada Keyra, Deva, dan ... ibu mertuanya?. Kenapa ada wanita itu juga di sini?.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Banyu pada Keyra. Ia yakin gadis itu lebih tahu kronologi kejadiannya.


Ketiga orang itu memandang Banyu. Keyra tak dapat lagi menahan air matanya. Ia bahkan bersimpuh di depan Banyu.


"Maafkan, aku. Aku tidak bisa menjaga Jingga dengan baik" Keyra tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan sahabat sekaligus bayi dalam kandungannya saat ini.


"Key, jangan seperti ini." Banyu membawa Keyra untuk berdiri. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi!"


Masih dengan isakan. Keyra menceritakan apa yang terjadi.


"Jingga menyeret tante Kiran. Tapi ternyata dia ... dia sendiri yang terserempet mobil. Dia terjatuh dan ... dan ..." Keyra sudah tak kuasa mengatakan apa yang terjadi selanjutnya.


Mata Banyu memerah. Ia menatap ibunya mertuanya dengan nyalang. Langkahnya mendekati wanita itu.


"Mama lihat sesayang apa istriku pada Mama? Dia bahkan melupakan kondisinya yang sedang hamil untuk menyelamatkan Mama!" ucap Banyu lirih. Namun bisa menusuk siapa saja yang mendengarnya. "Dia melupakan semua perlakuan Mama di masa lalu!" Tatapan mata Banyu begitu sedih. "Dan sekarang dia terbaring tidak berdaya di dalam sana, karena telah menyelamatkan Mama!" Pandangan kecewa, Banyu layangkan untuk mertuanya.


"Nyu, tenang ... "


"Gimana gue bisa tenang, istri sama anak gue lagi nggak baik-baik aja!" Banyu menatap nyalang Deva. "Lo nggak tahu gimana perasaan gue saat ini!"


"Keluarga Jingga Senja,"


Banyu menepis tangan Deva dari pundaknya. Ia segera mendekati perawat tersebut.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanya Banyu pada seorang dokter yang berdiri di samping perawat tadi.


Dokter itu menghela napas panjang. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang tidak baik. "Istri anda baik-baik saja, Pak. Hanya saja ... kami tidak bisa menyelamatkan bayinya."


Bahu Banyu merosot. Air matanya menggenang begitu saja. Beruntung ada Deva yang langsung menopang tubuhnya. Jika tidak, mungkin tubuhnya sudah terkulai di lantai. "Jadi, istri saya keguguran, Dok?" Banyu berusaha meyakinkan pendengarannya yang mungkin saja sedang tidak berfungsi dengan baik. Namun, anggukan lemah dari dokter itu membuat pertahanannya jebol.


"Maafkan kami, Pak. Benturan pada perutnya terlalu keras. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi, takdir Tuhan berkata lain." Setelah mengucapkan itu, dokter dan asistennya pamit.


"Dev. Apa salah gue, Dev? Kenapa cobaan gue besar banget, Dev?" Luruh sudah air mata Banyu. Baru kemarin ia merasa bahagia mendengar buah hatinya sehat. Tapi hari ini .... Banyu mengerang frustasi.


"Lo nggak salah apa-apa, Nyu. Mungkin ini memang cara Tuhan untuk nguatin hubungan kalian"

__ADS_1


Deva membawa Banyu untuk duduk di samping ibu Jingga.


Banyu menyugar rambutnya frustasi. Tatapannya beralih pada sang ibu mertua.


"Apa Mama puas sekarang? Seseorang yang dari dulu Mama benci telah kehilangan anaknya,"


"Banyu ..." Kiran tampak sama sedihnya mendengar kabar tersebut. "Mama memang salah telah menyia-nyiakan adanya Jingga. Tapi kali ini bukan salah Mama, Banyu." Air mata wanita itu luruh tanpa bisa dicegah. "Mama juga menyesal. Mama tidak menyangka akan terjadi seperti ini." Ucapan wanita itu terdengar begitu sunguh-sungguh.


Banyu tak menyahut. Ia beranjak saat perawat kembali memanggilnya.


"Deva, bisa tolong tante membujuk Banyu?. Tante tidak melakukannya dengan sengaja. Bahkan tante tidak tahu Jingga yang menyeret tante."


Deva menatap ibu dari mendiang sahabatnya. Ia memang pernah mendengar, wanita ini tidak terlalu menyukai Jingga. Tapi ia tidak pernah melihat sendiri bagaimana sikap Kiran pada gadis itu.


"Akan saya bantu sebisa saya, Tan. Nanti saya coba bicara dengan Banyu. Dia memang seperti itu kalau emosi. Nggak pernah mikir pakai otak."


Kiran tersenyum. Ia menatap lembut sahabat mendiang putranya. "Terima kasih, Deva. Tante nggak tahu harus bagaimana lagi saat ini. Tante yakin, Jingga pasti akan sangat membenci tante sekarang." Ada gurat penyesalan yang tidak bisa Kiran sembunyikan. Netranya terlihat berkaca-kaca.


Bayangan kejadian tadi masih terus berputar dalam pikirannya. Ia tidak bisa membayangkan jika Jingga tidak menyeretnya ke tepi jalan. Mungkin saat ini dialah yang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Menyesal? Tentu saja. Kiran masih memiliki hati. Tidak ada yang tahu bahwa sejak dulu ia juga merindukan Jingga. Hanya saja setiap kali melihat bocah itu, bayangan kelam akan pemerkosaan yang pernah ia alami selalu muncul. Menggelapkan matanya, hingga ia tidak bisa menahan amarahnya kala menatap putri bungsunya.


"Tante mau nemuin Jingga?"


Lamunan Kiran buyar mendengar pertanyaan Deva. Namun, pandangannya kembali mengosong. Ia tidak tahu apakah Jingga masih mau bertemu dengannya atau tidak setelah ini. Kejadian hari ini tentu menjadi pukulan terberat untuk Jingga.


"Tante tidak tahu, Dev." Helaan napas panjang terdengar begitu berat. "Tante takut Jingga tidak mau bertemu dengan tante," imbuhnya.


"Deva yakin, Jingga tidak akan melakukan itu. Dia anak yang baik dan kuat. Dia pasti mengerti." Deva tersenyum. "Menyelamatkan Tante adalah keputusannya. Tidak ada yang memaksa Jingga. Saya yakin, Jingga akan lebih senang jika Tante menemuinya nanti."


Kiran mengangguk. Kata terima kasih kembali ia berikan pada Deva, karena sudah berada di pihaknya.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2