
Nyanyian para burung terdengar begitu merdu. Meramaikan langit penuh awan putih. Menyapa para jutaan manusia yang telah terbangun dan beranjak dari rumahnya.
Aroma nasi goreng menyapa indra penciuman seorang pria yang masih sibuk menggapai mimpinya. Tubuhnya menggeliat, matanya mengerjap, mengembalikan kembali nyawa-nyawa yang masih berkeliaran entah ke mana.
Seluruh kesadarannya telah kembali. Banyu mendudukkan diri dengan lesu. Matanya memindai seisi kamar. Mencari sosok istrinya yang tidak tertangkap mata. Ia pun memutuskan untuk mengangkat tubuhnya. Tangannya dengan terampil mengambil celana pendek yang teronggok di atas lantai kemudian mengenakannya. Banyu membiarkan tubuh bagian atasnya terpampang tanpa sehelai benang.
Seulas senyum terbit dengan hangat pada bibir Banyu. Tubuhnya menyandar pada pintu dapur. Menatap sang istri yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya ringan seiring irama musik yang tengah diputar.
Banyu tidak terlalu terkejut dengan adanya Jingga di dapur. Sejak hamil, gadis itu memang suka sekali bertempur dengan wajan dan rekan-rekannya. Istrinya itu selalu bersikukuh untuk memasak selagi tidak lelah ataupun malas.
Tak tahan menatap istrinya sendiri. Banyu mengayunkan langkahnya, mendekati tubuh sang istri. Ia ulurkan kedua tangan, melingkari tubuh istrinya dengan sempurna. Dapat ia rasakan gadis itu berjingkat. Sudah bisa dipastikan karena terkejut.
"Kebiasaan ih!" Jingga membenturkan kepalanya pada kepala Banyu, karena kesal.
Tidak ada perasaan marah. Banyu malah tersenyum dan kembali meletakkan dagunya pada bahu gadis itu.
"Nggak pengen kasih cium gitu?" tanya Banyu dengan nada jahil.
Mata Jingga melirik sinis. "Nih cium!" Sebuah sudip bersuhu tinggi menggantung di depan muka Banyu.
Seketika itu juga Banyu memundurkan kepalanya. "Jahat banget sih, Yang!" keluh Banyu. Namun, ia kembali ke posisi semula. Dengan lembut tangannya mengusap perut Jingga yang mulai terasa membuncit. "Dek, mama kamu jahat. Masa muka ganteng ayah mau ditempelin sutil panas. Nanti kalau muka ayah jadi jelek gimana coba?" Ia memasang muka melas. Padahal tidak ada yang akan merasa kasihan padanya nanti.
"Geser dikit, Sayang, aku mau pindahin ini"
"Apa-apa? Kamu manggil aku apa tadi?" Banyu menegakkan tubuhnya. Sepertinya ia mendengar kata 'sayang' keluar dari bibir cantik istrinya.
"Apa sih?" Jingga mengedikkan dagunya.
"Udah sana geser dulu. Aku mau pindahin nasi gorengnya" Tangan gadis itu mendorong tubuh suaminya hingga mundur beberapa langkah. "Mandi dulu sana, bau" olok Jingga seraya menutup hidungnya.
Banyu mengangkat kedua lengannya. Mencium aroma tubuhnya sendiri. "Nggak bau ya. Aku wangi, walaupun tadi malem keringetan," belanya.
"Udah lah mandi sana," suruh Jingga lagi, sambil mengibaskan kedua tangannya.
"Mandi berdua, ya?"
"GAK!"
__ADS_1
"Ayolah, Sayang" rengek Banyu. Pria dewasa itu sudah seperti anak kecil meminta dibelikan mainan. Bahkan Banyu memasang puppy eyes-nya berharap Jingga luluh.
"Nggak ada. Aku capek, dan aku tadi juga udah mandi." Jingga melenggang meninggalkan suaminya dengan membawa nasi goreng buatannya tadi.
Banyu mengikuti dari belakang. "Ok, kalau kamu nggak mau. Tapi, aku mau makan dulu, abis itu baru mandi" Bokongnya mendarat pada satu kursi yang langsung menghadap pada ruang tamu.
"Nggak bagus lo, Mas, makan sebelum mandi," nasehat Jingga. Tak ayal ia tetap menyendokkan nasi goreng untuk suaminya.
"Sekali aja nggak papa lah"
"Terserah kamu aja lah" Gadis itu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Mereka berdua sarapan dengan tenang. Tak ada lagi perdebatan diantara keduanya. Hingga piring mereka telah kosong dalam waktu singkat.
Banyu mengambil alih semua piring kotor. Ia membawanya kembali ke dapur untuk dicuci. Sudah perjanjian mereka sejak awal, jika Banyu memasak Jingga harus mencuci piring, begitu pun sebaliknya.
Selesai urusan membersihkan piring. Banyu masuk ke dalam kamarnya. Di sana sudah ada sang istri yang tengah duduk di atas tempat tidur sambil membaca buku. Raut mukanya terlihat begitu serius, membuat Banyu begitu gemas. Langkahnya menghampiri Jingga. Bibirnya mendarat sempurna di pipi gadis itu.
"Serius banget, Neng," godanya.
"Cepetan mandi sana!" suruh Jingga. Ia benar-benar geram pada Banyu yang sangat sulit untuk disuruh mandi.
"ENGGAK!"
Pria itu menghela napas kecewa. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Tak lama setelah menutup pintu, Banyu melongokkan kepalanya.
"Sayang,"
"Apa lagi sih, Mas?" dengan malas Jingga menatap suaminya.
"Ambilin handuk, lupa nggak kebawa tadi."
Jingga mendengkus. Dengan rasa kesal yang sudah membuncah, ia mengambilkan handuk sang suami yang ternyata memang tertinggal. Setengah hati Jingga mengulurkan tangannya melewati pintu. Ia tersentak saat Banyu menariknya ke dalam kamar mandi.
Dan ternyata itu hanyalah siasat Banyu untuk membawa istrinya ke dalam kamar mandi.
***
__ADS_1
Menatap gelapnya langit malam. Banyu mematikan rokoknya saat ia merasakan tubuhnya direngkuh dari belakang. Ia tersenyum samar mendapati istrinya kembali pada mode manja.
Sejak kejadian tadi pagi, Jingga hanya diam. Gadis itu kesal dengan apa yang Banyu lakukan. Jingga mengabaikan permintaan maaf Banyu. Ia sama sekali tak menggubris suaminya.
"Udah selesai marahnya?" tanya Banyu santai. Ekor matanya melirik kepala Jingga yang tengah bersandar di bahunya.
Bibir gadis itu masih setia mengerucut. "Kamu nggak kangen dari tadi aku diemin?"
Banyu terkekeh. "Bilang aja kamu yang kangen sama aku." Matanya kembali melirik sang istri. "Nggak capek apa berdiri terus?" Banyu menepuk-nepuk pahanya. "Duduk sini, katanya kangen"
Jingga merengut. Namun, ia tetap menuruti perkataan suaminya. Jingga memutari kursi yang tengah diduduki Banyu. Gadis itu tidak duduk di atas pangkuan suaminya, ia memilih merebahkan diri dengan berbantalkan paha Banyu.
Saling tatap untuk sejenak. Jingga merasakan kenyamanan saat Banyu mengusap kepalanya. Matanya terpejam untuk lebih menikmati apa yang suaminya lakukan.
"Sebentar lagi kamu ulang tahun 'kan?" tanya Banyu. Kemarin ia tak sengaja melihat KTP Jingga. Ia baru tahu bahwa gadis itu sebentar lagi menginjak usia 20 tahun.
"Iya," jawab Jingga singkat. Masih terlalu malas untuk berbicara. Gadis itu lebih menikmati usapan tangan Banyu di kepalanya.
"Mau hadiah apa?"
Jingga menengadahkan kepalanya. "Apa ya?" Ia tampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari. "Rumah?"
"Rumah? Kamu pengen rumah?" tanya Banyu memastikan.
Jingga terkekeh. "Nggak lah, bercanda!" Matanya kembali menatap lekat suaminya. "Sebenarnya sejak dulu harapan ku selalu sama saat ulang tahun. Aku ingin satu hadiah spesial, tapi belum pernah terwujud," ujarnya dengan senyum getir.
"Hadiah apa? Jika bisa aku akan mewujudkannya untuk kamu," ucapan Banyu terdengar begitu sungguh-sungguh.
Jingga menegakkan dirinya. Menyangga tubuhnya dengan tangan kiri sambil menatap mata suaminya. "Keinginan ku hanya satu ... mendapatkan kasih sayang mama." Semburat sendu menghinggapi Jingga meskipun bibirnya tersungging sebuah senyuman.
Ya. Satu-satunya harapan Jingga setiap ia berulang tahun. Setiap saat ia memanjatkan doa supaya sang ibu luluh dan mau menerimanya.
Wajar bukan jika seorang anak perempuan ingin dekat dengan ibunya, meskipun sering disakiti?.
Dengan segera Banyu merengkuh tubuh istrinya. Ia tahu bagaimana perasaan Jingga selama ini. Banyu ingin menjadi seorang suami yang pengertian, namun ia tidak tahu apakah bisa mewujudkan keinginan Jingga satu ini.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤